Pesona Twins S

Pesona Twins S
Mengantar bingkisan


__ADS_3

"Kenapa sih istriku, dari tadi cemberut terus! aku ada salah apa yang?" ujar Satria, yang kini mengikuti sang istri duduk di salah satu bangku yang berada dihalaman samping kampusnya.


Sudah satu bulan ini mereka kuliah dikampus yang sama, dan juga di jurusan yang sama.


"Pikir aja sendiri." jawabnya ketus.


"Lho, aku beneran nggak tahu yang salah aku apa, makanya tolong kasih tahu ya, biar aku perbaiki semuanya."


"Yang? jangan gini dong yang, akunya jadi nggak tenang kalau gini, serius! aku nggak bakalan konsen dengerin materi nantinya."


"Ok, kamu bisa nggak sih kalau didepan cewek-cewek nggak usah tebar pesona, hampir semua cewek disini bahas kamu terus lho, aku nggak suka!" ungkapnya dengan nada yang terdengar sangat kesal, membuat Satria mengulum senyum bahagia.


"Kamu cemburu yang?"


"Siapa? aku cemburu? nggak ada."


"Kamu, cemburu kan?"


"Nggak."


"Bilang aja sih kalau iya." Satria semakin gencar menggodanya.


"Nggak, mana ada begitu!"


"Masa sih.?"


"Iya."


"Berarti kalau aku deketin salah satu dari mereka kamu nggak apa-apa, kamu nggak akan marah yang?"


"Abang!" pekiknya.


"Iya sayang." jawabnya terkekeh geli dengan reaksi sang istri.


"Nyebelin banget sih."


"Kalau lagi marah-marah gini kamu tambah cantik deh yang, tambah sayang juga Abang." menarik salah satu tangan Stela, kemudian digenggamnya.


"Yang, gini deh! mendingan kita umumin aja ya kalau kita udah nikah, supaya semua orang tahu."


"Abang, nggak!" tolaknya, membuat Satria mendesah pelan.


"Kenapa sih yang?"

__ADS_1


"Aku masih nyaman kayak gini, nggak apa-apa kan kalau orang lain menganggap kita seperti orang pacaran aja."


Satria mengangguk kecil, mencoba untuk tak memperlihatkan perasaan kecewanya didepan Stela, ia pikir Stela hanya butuh waktu untuk mengakui dirinya sebagai suami didepan semua orang.


"Bang, abang nggak marah kan?" tanyanya, saat menyadari raut wajah Satria yang sudah berubah murung, dan tidak seceria tadi.


"Apa selama ini aku pernah marah sama kamu yang?" Satria menatap tepat dikedua manik Stela yang tampak mengerjap gugup.


"Ng-nggak."


"Aku nggak pernah bisa marah sama kamu yang."


"Aku minta maaf."


"Untuk?"


"Untuk semua hal yang membuat Abang kecewa."


"Kamu nggak pernah ngecewain aku yang, akunya aja yang sedikit kurang sabar menghadapi kamu selama ini."


Entah mengapa, mendengar ucapan suaminya itu hati Stela mendadak bergetar, dan repleks memeluknya.


*


*


"Iya iya maaf! tadi ada beberapa patah kata yang disampaikan pak Ibnu, jadinya ya abang telat keluarnya." jawab Satya.


"Yaudah sini gantian Abang yang bawa, kamu duduk dibelakang dek!"


Cantika menurut, bergeser kebagian belakang memberi ruang sang abang agar duduk dibagian depan, sembari memangku bingkisan yang berisi peralatan bayi.


Siang ini keduanya ditugaskan sang bunda untuk menengok serta memberikan bingkisan untuk sahabat sang bunda yang baru melahirkan beberapa hari yang lalu.


"Motor abang gimana, mau diambil kapan?" tanya Cantika, seraya memperbaiki helmnya yang sedikit merosot kedepan.


"Besok dek, mau di cat body sekalian, biar kinclong lagi tuh si hijau."


"Jadi, besok Abang berangkat kuliahnya gimana, pake mobil ayah?"


"Bawa yang inilah."


"Ihs nggak, besok kan Tika juga udah mulai aktif sekolah bang." protesnya.

__ADS_1


"Kan dianterin sopir dek."


"Nggak ah, sekolahan aku kan deket, enakan pake motor."


"CK anak kecil ini kalau dibilangin, ngeyelan!"


"Abang gede ini kalau dibilangin suka maksa." balasnya, kemudian keduanya terkekeh bersama.


Tak berselang lama motor yang ditumpangi keduanya berhenti didepan sebuah rumah yang terbilang sederhana namun, tidak jelek juga.


"Ini bener kan alamatnya dek,?" tanya Satya memastikan.


"Bener kok, jalan mawar nomor 17."


"Yaudah masuk gih."


"Maen nyuruh masuk aja, ngetuk pintu aja belum." ucapnya yang membuat Satya terkekeh kecil.


"Siapa ya?" ujar seseorang dari dalam setelah Cantika berhasil mengetuk pintunya berulang kali.


"Ummz, maaf kak! apa benar ini rumahnya tante Helen?" tanyanya hati-hati pada seseorang yang ia yakini seumuran dengan kakak iparnya Stela, namun tubuh gadis itu jauh lebih tinggi dengan sikap yang sedikit jutek dalam pandangan Cantika.


"Iya benar! kamu siapa ya?"


"Maaf sebelumnya jika kami mengganggu waktunya, maksud kedatangan saya dan adik saya kesini, mau mengantar bingkisan ini buat tante Helen dari bunda saya yang bernama Denada Sena Gantari, sekaligus menyampaikan permintaan maaf karena beliau tidak bisa datang langsung, sebab banyak sekali kesibukan diluar." jelas Satya yang kini merangkul bahu sang adik sembari mengangsurkan bingkisan yang dibawa Cantika kehadapan gadis tersebut.


"Oh, yaudah bilangan makasih." ucapnya dengan Nada yang persis seperti sebelumnya.


"Yaudah kalau begitu kami permisi." ujar Satya dan Cantika bersamaan.


"Siapa Ta?"


Deg!


Langkah Cantika terhenti saat suara yang sudah tidak lagi asing itu terdengar jelas di Indra pendengarannya.


"Bang Langit." gumamnya, repleks ia pun menoleh kembali kearah pintu yang beberapa detik lalu ia ketuk.


Ia tertegun, saat pandangannya bertemu dengan laki-laki yang bernama Langit itu.


Sedang apa dia disini, batinnya penuh tanya.


*

__ADS_1


*


__ADS_2