
Satria terus mengikuti motor yang ditumpangi Stela, hingga kendaraan beroda dua tersebut berhenti didepan rumahnya.
Setelah memantau mereka berdua dari jarak yang cukup jauh, dan memastikan laki-laki itu telah pergi, Satria bergegas menghampirinya.
"Ste, tunggu!" Satria mengejar langkah Stela hingga ke teras rumahnya, kebetulan saat itu penjaga gerbang rumah Stela sedang meminta izin untuk ke toilet.
"S-satria! lo, lo ngapain kesini?"
"Tadi siapa?" ujarnya, tanpa menggubris pertanyaan yang dilontarkan Stela.
"T-tadi itu, itu_"
"Siapa?" tanyanya setengah membentak, membuat Stela sedikit terlonjak.
"Sorry." lanjut Satria lirih, terduduk lemas dipinggir teras dengan posisi membelakangi Stela.
Hening...
Keduanya sama-sama terdiam dengan pikirannya masing-masing, hingga beberapa menit berlalu.
"Ste, apakah jawabannya masih sama,?" Satria kembali membuka suara terlebih dulu.
"Ste,?" menoleh menatap Stela, dengan raut wajah murungnya.
Sementara yang ditanya, menunduk dengan kedua tangan saling bertaut.
"G-gue_"
"Apa sebegitu susahnya menerima cinta gue, apa gue nggak layak dicintai Ste, apa cowok seperti gue nggak layak buat dapetin cewek secantik elo?"
"Sat_"
"Ok gue ngerti, tapi lo harus tahu Ste, sampai kapanpun gue nggak akan pernah berhenti, gue akan terus datang, sampai lo benar-benar mau nerima gue." jelas Satria, yang kemudian beranjak dari duduknya, melangkah keluar melewati gerbang.
"Satria tunggu!"
__ADS_1
Stela mengejar langkahnya, membuat laki-laki itu berbalik dan menatap nya.
"G-gue, gue mau jadi pacar elo tapi dengan satu syarat."
Deg!
Tubuh Satria membeku, dengan rahang yang terasa jatuh ke tanah.
"Sat?"
"Emmz." Satria tersadar dari rasa keterkejutannya, menoleh dengan raut wajah yang terlihat kaku.
"Lo_ lo serius mau? mau jadi p-pacar gue?" tanyanya dengan suara terbata.
Stela mengangguk kecil, karena sejujurnya ia sendiri masih ragu dengan keputusannya.
"S-syaratnya apa aja?"
"Ikut gue keacara keluarga besok!"
"Itu doang?" tanyanya tak percaya, pasalnya hal tersebut terlalu mudah bagi seorang Satria.
"Nggak ada."
"Jadi, sekarang kita udah pacaran?!" Satria tersenyum lebar, ia benar-benar tak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya saat ini, bahkan tanpa rasa malu ia sampai melompat-lompat kegirangan, dan repleks hendak memeluk Stela.
"S-sorry, gue terlalu seneng!" Satria mengangkat kedua tangannya saat Stela mendorong tubuhnya agar sedikit menjauh.
"Yaudah pulang gih,"
"Tega ngusir pacar nih."
"Ck, mau gue batalin_"
"Ok, gue pulang!" potongnya cepat, masih dengan senyum lebarnya yang tak kunjung pudar.
__ADS_1
"Entar malem angkat telfonnya ya!" sambungnya sembari berjalan dengan langkah mundur.
Duk!
Tanpa sadar punggungnya menabrak pintu gerbang yang setengah terbuka, membuatnya meringis dengan senyum terpaksa menutupi rasa sakit. sementara Stela melengos, memalingkan wajah menahan tawa.
Dan detik kemudian ia memasuki rumahnya, setelah memastikan laki-laki yang berstatus pacarnya beberapa menit yang lalu itu menghilang, melesat jauh bersama kuda besi yang ditumpanginya.
*
"Siang bun." Satria mencium pipi sang bunda kemudian Beralih mengusap kepala sang adik Cantika, yang tengah membantu sang bunda menyiapkan menu makan siang.
"Anjir, jijik!" Satya mengelap wajahnya menggunakan kaos kaki yang baru saja dilepasnya, untuk menghilangkan bekas bibir Satria yang menempel di pipinya.
"Kagak waras lo ya, nyium pipi gue, ajig! berasa hilang ke pera wanan gue njir!" keluh Satya, sembari menggosok-gosok pipinya.
"Ck, lebay lo!" Satria melempar tas ranselnya kepangkuan Satya yang tengah duduk di sofa yang berada di ruang tengah.
"Lo kenapa sih, stres lo ya gara-gara ditolak cewek berkali-kali, syukurin kena karma kan lo!"
"Salah, lo salah besar! lo mau dengerin kagak cerita gue hari ini."
"Kagak!"
"Njir ngeselin banget muka lo, kek kang kredit panci yang biasa keliling kompleks."
"Serius lo nggak mau denger?"
"Nggak!"
"Ck, kagak asik lo jadi sodara, gue tuker tambah juga lo!"
"Elo yang musti di tuker tambah, tuker panci, tambahnya ciki, sama bawang merah."
"Njir gue disamain sama barang rongsok!"
__ADS_1
*
*