
Stela melambaikan tangan dengan hati yang teramat berat, melepaskan kepergian sang mama untuk kembali ke Bandung sore itu juga.
Entah alasan apa yang membuat Cintya memutuskan untuk segera kembali ke Bandung, padahal sebelumnya ia sudah mengatakan akan tinggal di Jakarta selama tiga hari.
Di sampingnya Satria tampak setia merangkul bahunya berusaha memberinya kekuatan dan ketenangan.
Ini bukan yang pertama kalinya bagi Stela ditinggalkan oleh sang mama seperti ini, namun entah mengapa kali ini terasa begitu berat baginya, terlebih saat sang mama menangis sambil memeluknya ketika hendak menaiki mobilnya tadi.
"Jaga dirimu baik-baik, jadilah istri dan menantu yang baik, jangan tunggu mama pulang dalam waktu dekat ini, karena mungkin mama tidak akan pulang, tapi mama akan usahakan pulang jika suatu saat kalian melaksanakan resepsi pernikahan." ujar sang mama sebelum benar-benar pergi.
"Yang? kita pulang ya, atau kamu mau nginep disini aja?" ucap Satria yang melihat istrinya masih enggan beranjak dari gerbang rumahnya.
Tersadar dari lamunannya, Stela mengerjap menatap sang suami, "Emang boleh?"
"Boleh, kenapa nggak! tapi nanti aku harus pulang dulu ngambil seragam sekolah kita, sekalian minta izin sama bunda."
"Beneran boleh?"
"Boleh dong sayang."
*
"Kamar kamu lucu yang!" ujar Satria yang baru saja kembali setelah mengambil seragam miliknya dan Stela dari rumah kedua orang tuanya.
Matanya berkeliling menyapu seisi ruangan kamar Stela yang tampak luas dengan warna yang serba pink, khas perempuan, yang begitu persis dengan kamar adiknya Cantika.
"Lucu apanya?" Stela menatap suaminya yang kini mengambil duduk di sisi ranjang dengan sebuah album besar yang diambilnya dari rak buku yang berada di sudut kamar tersebut.
"Semuanya." jawabnya tanpa menoleh, mulai tertarik membuka lembar demi lembar album yang ternyata berisi foto masa kecil Stela.
"Kamu dari kecil udah cantik gini yang, pantesan gedenya juga cantik." Satria mengulum senyum, seraya menunjukan salah satu foto Stela yang terlihat imut yang diperkirakan baru berusia tujuh bulan.
"Ih jangan dilihatin.'' bergegas merebut album tersebut dari tangan Satria.
"Lho kenapa? cantik lho itu yang."
"Malu ihs." Stela berlari keluar kamar.
Masih penasaran dengan foto-foto didalamnya yang hanya baru beberapa lembar terlihat, Satriapun bergegas mengejarnya untuk mengambil kembali Album tersebut dari tangan istrinya.
__ADS_1
Dan aksi kejar-kejaran itu berlangsung hingga beberapa menit, kemudian berhenti setelah keduanya sama-sama merasa kelelahan.
"Umz Sat, kamu mau makan apa?" tanyanya, setelah mengatur napasnya yang sedikit ngos-ngosan.
"Terserah aja yang, apa aja." jawab Satria yang kini menyandarkan kepalanya disandaran sofa.
"Yaudah kamu tunggu disini ya." ucapnya yang mendapat anggukan dari suaminya.
Stela melangkahkan kakinya kearah dapur, kemudian membuka kulkas mencari bahan makanan yang bisa ia masak untuk menu makan malamnya dengan Satria malam ini.
"Cuma ada sawi, sama satu telor." gumamnya seraya menghela napas pelan, menoleh kearah rice cooker yang ternyata dalam keadaan menyala.
Tersenyum saat mengetahui ada banyak nasi didalamnya, mungkin sang mama yang memasaknya sebelum pulang tadi. pikirnya.
Dengan penuh semangat, ia pun mulai meracik bumbu dan setelah beberapa menit kemudian dua piring nasi gorengpun tersaji diatas meja.
"Masakan kamu enak yang, suatu hari kalau kita udah punya rumah sendiri, aku pengen deh kalau tiap hari kamu yang masakin." ucapnya tanpa menoleh, saat keduanya tengah makan malam bersama saat ini.
Satria memang terlihat begitu lahap, karena selain masakan Stela yang menurutnya memang sangat enak, sejak siang ia tidak sempat mengisi perutnya.
"Aku bisa masakin tiap hari dirumah bunda kalau kamu mau."
"Serius?" tanyanya setelah seluruh makanannya habis, dan meneguk satu gelas air putih yang juga sudah Stela sediakan untuknya sebelumnya.
"Makasih sayang."
"Hmmz."
Setelah selesai makan malam, keduanya kembali kekamar untuk beristirahat.
Stela menaiki tempat tidur terlebih dahulu, bersender di headboard dengan kaki berselonjor, kemudian meraih benda pipihnya yang diletakan diatas nakas.
Menghela napas lega saat membuka sebuah notifikasi pesan chat dari sang mama yang memberitahunya bahwa ia baru saja sampai di Bandung lima menit yang lalu.
"Chatan sama siapa yang?" tanya Satria yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Dari mama."
"Mama udah nyampe?" tanyanya yang kini ikut bergabung diatas kasur.
__ADS_1
"Udah."
Satria mengangguk, kemudian meraih sebelah tangan Stela dan menciuminya beberapa kali.
"Yang,?" panggilnya, dengan suara serak, dan terdengar sedikit berat.
"Ap_"
Tubuh Stela menegang, dengan aliran darah yang terasa memanas, saat merasakan sapuan lembut dari bibir Satria dibagian tengkuknya.
"S-sat?"
"Malam ini_ aku mau membuat sejarah yang nggak akan bisa kamu lupakan seumur hidup kamu." bisiknya, tanpa menghentikan aktifitasnya.
"Sat aku_"
"Kamu mau?" tanyanya, seraya mengangkat sebelah tangannya membelai sisi pipi Stela yang kini terlihat bersemu merah.
Tidak tahu harus bereaksi seperti apa, Stela hanya bisa diam dan menatap suaminya yang kini menatapnya dengan tatapan memuja.
Sedikit terhenyak, saat Satria mendorong tubuhnya pelan hingga ia terlentang, kemudian Satria bergerak merangkak mengungkung tubuh mungil Stela diatasnya.
"Relax sayang, aku janji bakalan hati-hati." bisiknya, saat melihat raut gelisah yang tergambar jelas diwajah istrinya.
Akhirnya malam panjang pun mereka lalui bersama, menciptakan sejarah yang tak akan bisa terlupakan oleh keduanya bahkan mungkin hingga seumur hidupnya.
Dan malam ini Satria benar-benar menepati janjinya, melakukan setiap gerakannya dengan penuh kelembutan dan penuh kehati-hatian.
*
*
Hallo readers tercinta🥰
Apa kabarnya?
Semoga sehat selalu ya!😊
Minal aidzin walfaidzin, mohon maaf lahir & batin semuanya..☺️☺️☺️
__ADS_1
*
*