
Stela berusaha untuk menghubungi Satria untuk yang kesekian kalinya, meski ia tahu jawabannya tetap sama, sampai kini nomornya tak juga aktif.
Mendadak perasaannya gelisah tak menentu, dengan perubahan sikap Satria akhir-akhir ini.
Meskipun di acara akad nikah Satya kemarin, Satria sempat memperkenalkan ia pada keluarganya, namun setelah itu Satria kembali bersikap dingin dan terkesan menghindarinya.
Cukup bosan dengan ditemani kesendirian, Stela pun akhirnya memutuskan untuk keluar mencari udara segar.
Semangkuk bubur hangat mungkin cukup untuk menemani kegalauannya, pikir Stela, sembari membayangkan gurihnya bumbu bubur ayam mang Jamal yang merupakan tukang bubur langganannya yang biasa mangkal setiap malam di deket pos ronda.
Sebelum keluar ia mengambil jaket dan mengenakannya, untuk melapisi atasan baju tidurnya yang berlengan pendek.
"Mang buburnya satu ya, nggak pake kacang." ujar Stela ketika sudah sampai tepat di depan gerobak bubur milik mang Jamal.
"Siap neng, eh neng Stela kemana aja cantik, baru kelihatan?" ujar mang Jamal yang memang sudah kenal baik dengan Stela karena sudah terbiasa langganan juga membeli buburnya.
"Ada kok mang, tapi suka males keluar, sekarang aja lagi pengen banget jadinya kepaksa keluar."
"Ah si neng, tapi emang baiknya anak gadis mah nggak usah deh keluar malem-malem bahaya!"
"Bahaya kenapa mang?"
"Bahaya, takut banyak yang naksir!" jawab mang Jamal sambil terkekeh, membuat Stela berdesis pelan, kemudian ikut terkekeh.
"Mang Jamal bisa aja."
"Duduk neng." mang jamal mengangsurkan satu buah kursi plastik ke hadapannya.
"Makasih mang, padahal saya kan bisa duduk di kursi kayu mang," menepuk kursi kayu disebelahnya yang jika diduduki secara bersamaan muat sampai 3-4 orang.
"Nggak apa-apa."
"Kok tumben sepi sih mang?" tanya Stela, pandangannya menyapu ke sekitar pos ronda yang juga kosong, tidak seramai biasanya.
"Si neng nggak lihat jam apa neng, ini udah jam sembilan malem ya jelas sepi, penghuni pos ronda lagi bertugas keliling kompleks, apalagi kemarin abis ada kejadian neng."
__ADS_1
"Kejadian apa mang?" tanya Stela penasaran.
"Sarung pak Rt hilang saat di jemur."
"Terus?"
"Ya nggak ada terusnya neng, hilang nggak ketemu lagi."
"Tapi kan itu cuma sarung mang, masalahnya dimana."
"Ya masalahnya pak Rt nggak terima sarungnya hilang."
"Memangnya kejadiannya siang hari atau malam hari mang?"
"Siang neng, kemungkinan ada yang nyuri."
"Masa sih mang?"
"Si kadir tukang kebun dirumah pak Rt ngiranya gitu."
"Tapi serius ada lho neng yang suka nyuri sarung."
"Siapa?"
"Istri mamang, tapi dalemnya." mang Jamal terkikik geli, sementara Stela menutup mulut menahan tawa.
Berbicara dengan mang Jamal selalu memberikan hiburan tersendiri untuk Stela.
"Ini neng buburnya udah siap!"
"Makasih mang, ngomong-ngomong harganya belum di naikin kan?"
"Belum neng, masih sama! ah si neng kaya yang udah berapa tahun aja nggak beli bubur mamang, nanyain harga segala."
"Ya kali aja kan, oh iya mang ini jaketnya siapa?" ada perasaan tak asing ketika melihat jaket yang tersampir di kursi kayu di sampingnya, terlebih saat ia mencium bau parfum yang berasal dari jaket tersebut.
__ADS_1
"Eh itu kayaknya punya anak muda yang tadi deh, kok bisa ketinggalan ya, yaudah neng biar aja disitu, nanti mamang bawa pulang, besok kalau mamang jualan dibawa lagi kesini."
"Emangnya yang punya jaket ini sering dateng kesini mang?"
"Dulunya sih belum pernah, tapi udah hampir semingguan ini sih kalau sore kesini terus."
"Beli bubur?"
"Bukan, beli gorengan! ya iya atuh neng beli bubur, kan mamang cuma jual bubur, gimana atuh nya si neng teh."
"Saya kan cuma nanya mang."
"Mamang juga kan udah jawab!"
"Ck, mang serius! mamang inget nggak ciri-ciri orangnya kaya apa?"
"Yang pasti dia anak cowok, kemungkinan sih masih SMA, ganteng, putih, seperti itulah ciri-cirinya."
"Mamang nggak nanya gitu siapa namanya."
"Nggak neng, masa mamang jeruk makan jeruk, kenalan sama cowok lagi, ya kecuali sama si neng gini, mamang mau."
"Ihs mamang."
"Dia itu kayaknya orangnya pendiem neng, kalau kesini cuma diem aja, beli bubur juga paling yang dimakannya cuma beberapa sendok aja, pertama kesini mamang pikir dia nggak suka sama rasa buburnya."
''Eh besoknya malah kesini lagi, psen bubur lagi, tapi masih sama makannya cuma sedikit, sampai semingguan kaya gitu terus."
"Tapi kalau mamang perhatiin sesekali dia itu ngelihatin rumah neng Stela terus, dari kemarin."
"Eh serius mang."
"Iya, tapi mamang juga nggak mau suudzon sih."
*
__ADS_1
*