Pesona Twins S

Pesona Twins S
Lamaran resmi


__ADS_3

Setelah semuanya benar-benar telah duduk ditempat yang telah di sediakan oleh tuan rumah, Risti undur diri untuk memanggil putrinya yang memang belum terlihat sejak tadi.


"Muti?" Risti mengetuk pintu kamar Mutia sekaligus memanggilnya agar mengijinkannya untuk masuk.


"Masuk aja ma, nggak dikunci." sahutnya dari dalam kamar.


"Kok nggak ke ruang tamu sih, tamunya udah pada dateng lho dek."


"Emang udah dateng ma, sejak kapan?" tanyanya, yang terlihat duduk santai di atas kursi yang terletak di sudut kamarnya.


"Udah dari tadi, ayo cepetan temui mereka, gimana sih ini calon pengantinnya begini amat." gerutu Risti, sembari membantu putrinya untuk berdiri.


"Mama nggak bilang kok, jadi mana Muti tahu."


"Itu barusan mama bilang."


"Iya tapi telat."


"Yasudah, nggak perlu diributkan, ayo temui keluarga calon suamimu."


Risti pun menggandeng tangan putrinya hingga ke ruang tamu, tampak semua mata tertuju kearah Mutia yang terlihat cantik dengan longdressnya yang berwarna putih, opa dan oma Satya bahkan berdecak kagum saat melihatnya.


"Ini calon cucu mantu oma, yaampun cantik sekali." Ujar oma Sarah yang tak berhenti tersenyum, begitupun dengan oma Indri.


"Umurnya berapa sih nak?" menatap Risti yang merupakan ibu kandung Mutia.


"Bulan depan 17 tahun oma." Risti menjawab seraya tersenyum ramah, sementara Mutia usai menyalaminya memilih untuk duduk disamping sang papa dengan wajah menunduk malu.


"Wah masih sama-sama kecil emang ya, beda setahun sama si Satya, Satya baru 18 tahun tapi sudah lewat tiga bulan." sambung oma Sarah antusias.

__ADS_1


"Iya oma."


"Nggak apa-apa ya cantik, Satya anaknya baik kok, penurut juga." timpal oma Indri bangga.


Sementara itu Cantika yang berada di samping sang bunda tak berhenti tersenyum, karena keinginan dan harapan agar Mutia menjadi kakak perempuannya, sebentar lagi akan segera terwujud.


*


Setelah merasa cukup berbincang untuk saling memperkenalkan diri, Ando pun segera menyampaikan maksud dan tujuannya datang kerumah tersebut.


"Euhmz, begini pak_" Ando memandang sekilas kearah Deri yang memang belum mengetahui nama calon besannya itu, lebih tepatnya lupa.


"Deri." jawab Deri tanggap, kemudian menoleh kearah sang istri yang duduk disampingnya "Dan ini istri saya, Risti."


"Baiklah pak Deri, dan bu Risti, pasti sudah tahu ya maksud dan tujuan saya dan keluarga datang kesini yaitu, untuk melamar putri bapak untuk putra saya Satya secara resmi."


"Mohon maaf sekali jika hal ini menjadi sebuah kesan yang terdengar sangat terburu-buru bagi keluarga pak Deri dan ibu Risti, tapi saya berharap niat baik putra saya yang bernama Satya Aji Arsenio dapat di terima dengan baik."


Hening!


Semua orang mendengarkan apa yang Ando sampaikan dengan seksama.


"Akan tetapi saya bisa menjamin bahwa putra saya mampu melakukan tanggung jawabnya dengan baik." lanjut Ando.


Terlihat Deri menghela nafas, kemudian menoleh kearah putri satu-satunya itu, "Semuanya saya serahkan pada Mutia sendiri, keputusan ada ditangannya." ucap Deri dengan mata berkaca-kaca,


Ia mendadak lemah!


"Bagaimana nak, apakah kamu menerima lamaran dari nak Satya?" Deri kembali berujar.

__ADS_1


Semua orang diruangan tersebut tampak tegang menunggu jawaban apa yang akan Mutia beri, bahkan Satya merasa suhu tubuhnya mendadak panas dengan keringat dingin yang membanjiri tubuhnya.


"Saya terima." dua kata tersebut lolos begitu saja dari mulut mungil Mutia, membuat semua orang disana mendesah lega dan mengucap kata syukur.


"Putri saya sudah setuju, dan untuk tanggal pernikahannya saya serahkan pada keluarga Mas_"


"Panggil saja Ando pak."


"Baiklah mas Ando dan_" melirik kesamping Ando dimana ada Nada disana.


"Nada pak namanya."


"Iya, semuanya saya serahkan pada mas Ando dan mbak Nada saja."


"Begini pak, saya dan istri saya sudah membicarakannya semalam, bagaimana jika acaranya kita langsungkan satu minggu lagi."


Deg!


Satya dan Mutia pun sontak saling tatap.


"Tapi kembali lagi pada pak Deri dan bu Risti bagaimana baiknya."


"Baiklah mas, saya setuju-setuju saja, dan saya rasa anak kita juga tidak keberatan, seperti kata pepatah lebih cepat akan lebih baik."


"Saya juga khawatir dengan gaya pacaran anak jaman sekarang, saya memang tidak pernah berpikir hal yang buruk tentang mereka, tapi bukankah mencegah itu lebih baik dari pada mengobati, bukan?" lanjut Deri tampak bersemangat.


Kenapa, jadi bahas obat sih? Lagi-lagi Satya mengomel dalam hati.


"Benar pak, untuk itu saya pribadi sendiri tidak melarang jika anak saya ingin menikah di usia muda, dari pada berbuat sesuatu yang membuat nama keluarga jadi tidak baik."

__ADS_1


"Saya sependapat." Deri membenarkan.


*


__ADS_2