
"Apaaa?" Lagi-lagi ketiganya berucap secara bersamaan, namun kali ini tak membuat Satya gencar.
"Betul, saya ingin menikahi Mutia secepatnya kalau boleh!" lanjut Satya, membuat ketiganya tertawa.
"Melamar, menikahi adek gue, emang apa yang bisa lo kasih kedia, gue yakin elo aja masih minta jajan sama orang tua elo kan, dasar bocah ingusan!" ucap Killian, laki-laki paling muda diantara mereka, yang sejak tadi memang terdengar paling tidak ramah, dan terlihat tidak suka dengan kehadirannya.
"Kamu masih sekolah kan?" lanjut yang satunya yang merupakan Evans kakak pertama Mutia, karena yang ia lihat dari penampilan dan wajah Satya yang masih imut, ia yakini pemuda itu masih anak sekolahan.
"Betul bang, tahun ini saya lulus!" jawab Satya yang kini terlihat lebih santai dan mampu menyesuaikan diri.
"Iya kalau lulus, kalau nggak!" sindir Killian, namun Satya memilih tak ambil hati.
"Kamu masih sekolah, adik saya juga masih sekolah, bahkan mungkin adik saya jauh lebih muda dari kamu, dan untuk sampai kelulusannya pun dia masih butuh waktu lebih lama lagi."
"Saya tahu bang."
"Lalu kenapa kamu mengatakan hal seperti itu, jujur apa yang kamu katakan barusan itu seperti sebuah candaan yang tidak masuk akal."
"Apa saya terlihat bercanda bang, sungguh saya serius!"
"Berapa kali?"
"Berapa kali?" Satya mengulang pertanyaan sama yang dilontarkan padanya, membuat Evans berdecak dengan helaan nafas pelan.
__ADS_1
"Berapa kali kamu menyentuhnya, sekali, dua kali."
"S-saya_"
"Apa kalian sudah melakukannya berkali-kali hingga tak dapat terhitung begitu?" sentaknya.
"Bang?" Satya yang mulai mengerti arah pembicaraan laki-laki dihadapannya menggeleng pelan.
"Bukan, bukan karena itu bang! justru saya ingin menikahi adik abang, karena saya tidak ingin berpacaran lama-lama."
"Pinter banget boong lu ya, dasar bocah bedebah," Killian hendak berdiri untuk menampar Satya namun urung, karena sang ayah menahannya.
"Kalian berdua keluar!" tegasnya, membuat kedua laki-laki itu mengangguk patuh, meski berat! karena belum puas memberikan pertanyaan-pertanyaan yang lainnya pada Satya.
Dan kini diruangan tamu tersebut hanya menyisakan mereka berdua, Deri ayah Mutia dan juga Satya.
"D-delapan belas om,"
"Modal apa yang kamu punya hingga nekat ingin melamar dan menikahi anak saya."
"Kedua orang tua saya mengijinkan, saya juga sudah punya pekerjaan tetap, dan yang paling utama saya sangat mencintai putri om."
"Tapi anak saya masih terlalu kecil, dan bisa dikatakan masih labil, kamu akan menyesal nantinya."
__ADS_1
"Tidak akan om, saya yakin Mutia cukup dewasa dan mampu mengimbangi saya, seperti yang om lihat! saya sendiri masih sekolah dan butuh bimbingan, tapi saya rasa kami berdua bisa saling melengkapi."
"Berapa banyak gadis yang sudah kamu pacari sebelum mengenal putri saya?"
"Tidak ada om, Mutia yang pertama bagi saya."
"Benarkah?" Deri menatapnya tak percaya, pasalnya ia tahu persis seperti apa pemuda seumuran anak laki-laki dihadapannya, yang dimana sedang senang-senangnya bergonta-ganti pacar, karena selain ia melihat banyak dari mereka yang seperti itu, semasa mudanya ia pun mengalami hal serupa.
"Benar om, selain sibuk sekolah saya juga sibuk dengan pekerjaan jadi saya tidak punya waktu untuk berpacaran, tapi saya butuh istri."
Deri menghela nafas, antara percaya dan tak percaya dengan ucapan pemuda dihadapannya, namun sekilas ia dapat melihat ketulusan di mata pemuda itu.
"Memang apa pekerjaan kamu, cukupkah untuk membiayai kehidupan anak saya berikutnya.''
"Pekerjaan saya memang bukan dikantoran, atau di tempat hebat lainnya, tapi saya rasa saya mampu mencukupi kehidupan istri dan anak saya kelak."
Lagi-lagi Deri menghembuskan nafasnya, ia seolah kehabisan kata-kata untuk mengintrogasi pemuda itu, karena setiap pertanyaan yang diberikannya selalu dijawabnya dengan cepat dan lugas.
Deri beranjak dari duduknya membuat Satya menunduk lesu, apakah ia gagal.
Namun ucapan Deri selanjutnya, membuat ia membeku seketika.
"Besok! bawa orang tuamu kesini."
__ADS_1
*
*