
Pagi-pagi sekali Stela sudah rapi mengenakan pakaian santainya hendak pergi ke suatu tempat yang memang sering ia kunjungi jika sedang libur sekolah.
Dengan diantar sopir pribadinya ia berangkat pukul enam pagi, dan menyempatkan membeli beberapa oleh-oleh disekitaran warung panjang yang memang selalu buka dua puluh empat jam.
Tempat yang ia tuju bisa di bilang memang tidak terlalu jauh, hanya memakan waktu tiga puluh lima menit saja, namun Stela memang cenderung lebih suka perjalanan pagi, karena baginya udara pagi itu terasa menyegarkan dan menciptakan ketenangan tersendiri untuk nya.
*
*
Tak berselang lama mobil yang ditumpangi Stela berhenti dihalaman sebuah rumah yang tampak rapi dan begitu terawat.
"Apa kabar oma, kenalin ini sopir pribadi Stela namanya mang Harto." ujar Stela saat mendapati pemilik rumah tersebut berada diteras rumah nya, tersenyum seraya mencium tangannya.
"Cantik nya oma, akhirnya nyampe juga kamu nak, ayo masuk, sekalian mamangnya juga ayo sarapan didalam bareng-bareng." ujar seorang wanita tua yang tak lain adalah nenek Stela dari pihak mama Stela.
Stela terbilang tak memiliki saudara yang lain, karena ibu kandungnya adalah anak tunggal, sementara dari pihak keluarga ayah nya ia tak tahu menahu.
Karena ayah Stela tak pernah sekalipun membawa nya ke tempat kelahirannya maupun keluarganya yang berada di luar negri, terlebih kedua orang tuanya sudah lama bercerai, bahkan dari sejak ia masih kecil, dan belum mengerti apa itu arti perceraian.
"Ayo mang, masuk! biar opa ada temennya." ajak Stela pada mang Harto yang terlihat ragu-ragu untuk masuk.
Hari ini untuk pertama kalinya Stela pergi bersama mang Harto, karena biasanya ia memilih pergi sendiri dengan menumpangi Taxi online yang dipesannya.
"Baik neng."
"Jangan sungkan mang, opa sama oma mereka baik kok." bisik Stela, yang dibalas dengan senyum canggung oleh mang Harto.
__ADS_1
"Gimana sekolahnya lancar, sikap mama mu masih sama seperti biasa." tanya sang oma.
"Lancar oma, soal mama ya jawabannya masih akan tetap sama." jawab Stela lemas, rasanya ia terlalu malas untuk membahas sang mama yang ia rasa memang sama sekali tidak mempedulikan dirinya.
"Anak itu benar-benar nggak ada rasa tanggung jawab nya sama sekali sebagai seorang ibu." desis oma merasa semakin geram dengan sikap putri nya yang tak kunjung berubah.
Ia merasa sangat kasihan dengan nasib cucu satu-satunya itu, hidup dalam kesendirian tanpa kasih sayang orang tua.
terlebih Stela tak mau tinggal bersama mereka dengan alasan ingin membuktikan pada kedua orang tuanya bahwa ia bisa hidup mandiri.
"Mau bawa ikannya nggak?" ujar sang oma ketika siang ini Stela berpamitan untuk pulang dikarenakan ia lupa jika besok sore target beberapa desain model baju untuk dibutiknya harus segera diselesaikan.
"Boleh memangnya oma?"
"Boleh dong."
*
"Tumben hari minggu kalian ada dirumah?" sindir Nada saat melewati dua putra kembarnya yang tengah tiduran disofa yang berada diruang Tv.
"Lagi males keluar bun, panas!" sahut Satya.
"Terus kalau kamu kenapa Sat,?" Nada bertanya pada Satria, yang sejak pagi lebih banyak diam.
"Nggak ada yang bisa diajak jalan bun." jawabnya lemas.
"Memangnya pacar-pacar kamu pada kemana?"
__ADS_1
"Sekarang Satria jomblo kali bun." Satya menyahut.
"Benar begitu, nggak salah?"
Satya merubah posisinya dari tiduran menjadi duduk, "Bunda percaya nggak sih, kalau aku bilang Satria ditolak cewek."
"Model cewek nya seperti apa?"
"Kata si onoh sih, cewek nya jutek, anaknya pekerja keras, anak broken home juga sih."
"Baguslah kalau begitu, bunda seneng kalau ada yang nolak dia, hitung-hitung pelajaran kan buat Satria."
"Ck bunda tega banget sama anak sendiri, elah!" Satria berdecak kesal.
"Gadis itu pintar sih menurut bunda, dan seperti nya dia bisa melihat cap playboy tersemat di wajah kamu."
"Bunda?"
"Bunda nggak suka deh punya anak laki-laki yang suka mainin hati perempuan."
"Aku udah nggak gitu bun, sumpah! kali ini aku mau serius!"
"Coba aja buktikan!'' jawab Nada yang kemudian beranjak pergi.
.
.
__ADS_1