Pesona Twins S

Pesona Twins S
Ancaman


__ADS_3

Satria menghisap benda kecil yang mengeluarkan kepulan asap di tangannya, hingga benda tersebut hampir terbakar setengahnya, Nira datang dengan senyum mengembang menghampiri Satria yang kini terlihat menginjak sisa benda tadi.


Sesuatu yang terlihat menarik dan manis di mata Nira, dan yang membuatnya semakin tidak bisa move on dari laki-laki tersebut.


Betapa bahagianya perasaan Nira saat dengan tiba-tiba Satria menghubunginya, dan memintanya untuk bertemu di taman kota sore ini.


Dan ia lebih bahagia lagi saat berpikir bahwa Satria berusaha mencari nomor ponselnya yang sudah lama ia ganti.


"Tumben kamu dateng, nggak lagi bete kan sama cewek kampungan itu." ucap Nira dengan kedua tangan yang dilipat didepan dada, ia berakting seolah sedang jual mahal, dan berharap Satria merayunya.


"Ada sesuatu hal yang musti gue tanyain ke elo." ujarnya seraya beranjak dari motornya menghampiri Nira dengan wajah datar, namun malah terlihat semakin keren dimata Nira.


"Soal apa?"


"Lo kenal Brandon kan, jawab iya, kalau memang iya! gue tahu lo bukan cewek pendusta bukan?"


"M-maksud lo apa?" Nada suara Nira berubah sedikit gemetar.


"Gue bilang jawab iya, kalau emang iya."

__ADS_1


Nira menggigit bibir bawahnya untuk menutupi perasaan gugupnya, ia sudah dapat menebak apa yang sudah terjadi, mungkin saja Satria sudah bertemu Brandon dan menceritakan segalanya, atau mungkin Brandon sudah mengatakan yang tidak-tidak terhadap Satria.


Berbagai macam pertanyaan berputar-putar dalam benaknya.


Ia mulai gelisah.


"Jadi bener! lo kenal sama dia, dan udah jual cewek gue sama si brengsek itu?" ujar Satria dengan nada tinggi, serta rahang yang mengeras, membuat Nira mundur satu langkah, baru kali ini ia melihat sisi lain dari diri Satria yang terlihat menakutkan.


"Lo gila ya, tega banget tahu nggak, sumpah gue nggak nyangka kalau didunia ini ada cewek model kek lo gini, kagak punya hati sama sekali." lanjut Satria menyorot tajam kearahnya.


"Terserah! lo mau bilang apa tentang gue terserah! karena gue rasa dia berhak mendapatkan balasan atas sesuatu yang membuat gue selalu ngerasa paling rendah." balas Nira berteriak dengan air mata yang mengaliri kedua pipinya.


"Lo bener-bener udah gila, elo mikir nggak sih kalau seandainya papanya Stela tahu anak kandungnya lo jual, apa yang bakal dia lakuin ke elo,?"


Deg!


"Sat, kalau sampai lo cerita soal ini ke papa berarti lo bener-bener jahat!"


"Kenapa nggak, bukannya lo sendiri lebih jahat."

__ADS_1


"Sat, gue mohon_"


"Nggak perlu mohon ke gue, lo cukup cabut kembali transaksi lo dari si brengsek itu, terus lo minta maaf secara langsung sama Stela, setelah itu permintaan lo akan coba gue pikirin." potong Satria.


Nira membeku, dengan kedua tangan terkepal.


"Kenapa, lo nggak sanggup kan? jadi jangan salahin gue kalau tiba-tiba lo terusir dari rumah, dan mendadak jadi gelandangan, gimana lo udah siap?"


Nira tak punya pilihan lain, ia belum siap mendapatkan cacian dari mamanya, terutama Adrian yang merupakan ayah angkatnya, yang selama ini memang terasa lebih sering bersamanya dibandingkan dengan Stela.


Akhirnya ia memilih menekan egonya, dan memutuskan meminta maaf pada Stela meski sangat terpaksa.


"Gimana?" lanjut Satria karena Nira hanya diam dengan tatapan lurus.


Terlihat Nira menghela nafanya untuk yang kesekian kali, "Ok."


*


*

__ADS_1


__ADS_2