Pesona Twins S

Pesona Twins S
Berdebar


__ADS_3

"Udah dong bun, kok malah nangis sih, oh ini aku nggak lupa kok, tadi jengkolnya udah aku beliin, sesuai permintaan satu kg kan bun, dilebihin dua biji malah kata si bapaknya." Satria mencoba menenangkan sang bunda yang sedang terisak hingga tersedu-sedu.


"Kamu nggak tahu bunda nangis karena siapa?" sentak Nada kesal.


"Ya, ya mana aku tahu, bunda kan nggak ngasih tahu."


"Ck, dasar anak nggak peka! bunda kesel sama kamu, kamu mau jadi apa sih Sat, nakal, bandel, tukang ngeluyur."


Satria meringis, ''Maaf bun!"


"Maaf-maaf! diulangin terus, mandi sana." Nada beranjak melangkah menuju kamarnya.


Sementara Satria menghela nafasnya, kemudian berjalan menuju dapur menyimpan jengkol mentah yang sejak tadi di tenteng nya didalam keresek hitam.


*


Sementara didalam kamar, Satya baru saja selesai dengan tugas-tugasnya, merapikan buku-buku yang sempat di bukanya, begitulah kegiatan Satya hampir satu minggu ini, bersamaan dengan usia pernikahannya dengan Mutia.


"Kok belum tidur?" ujarnya, saat melihat sang istri masih duduk dengan kedua kaki yang berselonjor diatas kasur.


"Nungguin kakak, lagian aku juga belum ngantuk."


"Lain kali nggak usah ditungguin, tidur aja ya!" mengusap kepala Mutia, kemudian mematikan lampu dan merebahkan tubuhnya.


"Kak?"


Satya yang hendak memejamkan matanya pun sontak menoleh, menatap istrinya yang masih berstatus gadis itu.


"Kenapa?"

__ADS_1


"T-tadi, itu_ euhmz i_"


"Kamu mau ngomong apa sih sayang?" Satya kembali bangun dan duduk menghadap kearah Mutia.


"T-tadi, tadi kak Satya pulang bareng siapa?" tanyanya gugup dan takut-takut.


Terlihat Satya berpikir, kemudian menatap Mutia kembali.


"Kamu lihat tadi?"


Mutia mengangguk.


"Jangan salah paham dulu ya, dia Nadia tetangga sebelah, tadi itu yang biasa jemput dia nggak dateng-dateng, jadi dia nebeng sama aku, nggak apa-apa kan?" ucap Satya khawatir jika Mutia sampai berpikiran yang tidak-tidak.


"Iya kak."


"Kamu nggak marah kan?"


Hening, keduanya bergerak salah tingkah.


*


Didalam kamar dengan lampu yang temaram itu lama keduanya saling pandang, menyelami perasaan dalam dirinya masing-masing.


Hingga wajah Satya mendekat, dan Mutia tak sempat menghindar.


Cup..


Satya menempelkan bibirnya di bibir Mutia, hanya sekedar menempel, namun saat dirasa tak ada penolakan, dan Mutia terlihat pasrah, Bibir Satya mulai bergerak semakin dalam.

__ADS_1


Mel umatnya secara perlahan, lembut dan hati-hati, tangannya yang sedikit gemetar terangkat memegangi tengkuk Mutia, menekannya untuk memperdalam ciumannya.


Sementara Mutia dengan tubuh kakunya ia berusaha mengimbangi Satya, dan mencoba menstabilkan keadaan dirinya yang mendadak seperti tersengat listrik, yang mengakibatkan tubuhnya tak berdaya, dengan jantung yang berdebar hebat, seolah hendak keluar dari tempatnya.


Beberapa menit berlalu, Satya melepaskan sejenak tautan mereka, dengan nafas memburu dan tersengal.


Keduanya terdiam sejenak untuk menstabilkan nafasnya yang masih terasa sesak, Mutia tertegun saat tatapannya bertemu dengan Satya yang saat ini terlihat begitu berbeda, dan tentu sulit terbaca.


"Sayang?" Suara yang biasa lembut itu kini terdengar serak dan berat.


"Maukah menjadikan malam ini, malam yang paling indah?" ujarnya seraya mulai mendekatkan kembali wajahnya.


"Aku cinta kamu, Mutiara Indah Permata." suara yang terdengar seperti bisikan itu membuat tubuh Mutia meremang, hingga ia tak menyadari tubuhnya kini telah polos tanpa satu helai benang pun yang tersisa.


"Kak?" lirihnya, seraya menyilangkan tangan menutupi sesuatu yang teramat penting dan tentu selalu ia jaga selama ini.


"Nggak apa-apa kan, kalau aku memintanya malam ini?" bisik Satya serak, dengan wajah yang memerah seperti menahan sesuatu.


Kalau sudah begini harus bagaimana, tak mungkin ia menolak, dan dirasa memang tak punya pilihan, Mutia pun mengangguk kecil, membuat Satya tersenyum penuh kelegaan, karena sejak awal ia tak akan memaksa jika Mutia memang belum siap.


Gerakan Satya mendadak lihai, mulai menyusuri setiap inci tubuh Mutia yang begitu putih dan halus, sehalus kulit bayi.


"Kak_" lirihnya, saat Satya membuka balutan tubuhnya yang memperlihatkan jelas tubuh bagian Satya yang menegang, ada rasa takut di hatinya seperti yang ia dengar dari kebanyakan orang yang telah berpengalaman melakukan kewajiban suami istri di malam pertama.


"Aku janji akan pelan-pelan."


Dan apa yang harus terjadi, maka terjadilah, ruangan yang semula dingin itu berubah menjadi terasa panas, bahkan dinginnya AC diruangan tersebut tak mampu menghentikan aliran keringat yang berasal dari sepasang insan yang tengah memadu kasih lewat penyatuan tubuh mereka.


Meski baru pertama kali dan sama-sama belajar, namun Satya mampu membawa sang pujaan hatinya terbang menuju angkasa hingga berulang-ulang.

__ADS_1


*


*


__ADS_2