Pesona Twins S

Pesona Twins S
Menyetujui


__ADS_3

Nada menunggu putranya diteras dengan harap-harap cemas, siang ini ia mendapat pesan chat dari Satya bahwa sebentar lagi ia akan segera sampai dirumah.


Tersenyum, saat mobil yang dikendarai putranya memasuki halaman rumah.


"Bun?" memeluk sang bunda lama, hingga terdengar isak tangis, bahkan sesuatu hangat yang menembus lewat daster dibagian bahunya dapat Nada rasakan.


Apa yang terjadi, putranya menangis!


"Sat, kamu bisa ceritakan semuanya ke bunda, apapun itu bunda pasti akan mendengarkan!" Nada menangkup kedua sisi wajah anak gantengnya, kemudian memapahnya untuk duduk di sofa yang berada di teras tersebut.


"Ceritakan nak, apa yang terjadi?" menggenggam lembut kedua tangan putranya yang menunjukan raut wajah menyedihkan.


"Apa mereka memperlakukanmu dengan baik, apa sebaliknya,?"


Satya bergeming.


"Baiklah bunda mengerti, sekarang kamu makan siang dulu, bunda udah masakin makanan kesukaan kamu, ayok!" ucapnya hendak berdiri, namun tangan Satya menahannya.


"Bun, besok orang tua Mutia meminta ayah sama bunda buat datang kesana." ucapnya tersenyum sumringah.


"Hah?"


*


*


''Jadi papa setuju Mutia menikah dengan bocah ingusan itu, kenapa sih pa?" Killian mendengus, tak terima dengan keputusan ayahnya itu.

__ADS_1


"Dia bukan bocah yang seperti kamu bilang Kill, papa yakin dia pemuda yang baik dan sungguh-sungguh."


"Papa kok gampang percaya gitu aja sih, dia orang asing yang bahkan baru sekali bertemu lho pa, kalau papa lupa."


"Sudahlah Kill."


"Pa, Mutia itu masih terlalu kecil untuk menikah, lagi pula memangnya papa tega membiarkan satu-satunya anak perempuan papa menikah diusianya yang semuda itu, papa yakin nggak akan menyesal di kemudian hari."


"Kill, dengar papa! mereka itu saling menyukai, dan poin pentingnya pemuda itu berniat baik ingin menikahi Mutia tanpa pacar-pacaran, papa menyetujui hal ini justru karena papa begitu menyayangi Mutia."


"Tapi pa_"


"Sudahlah Kill, yang dikatakan papa benar, seharusnya jika kamu memang benar-benar menyayangi Mutia, kamu akan mendukung adik kecil kita dalam menentukan pilihannya." sela Evans menengahi.


"Tapi gue belum rela bang." raut mukanya berubah sendu, Killian memang terkenal sedikit keras dan paling berandal dikeluarga mereka, namun laki-laki berumur 26 tahun yang masih betah dengan status jomblonya itu, begitu menyayangi adiknya, terlebih Killian lebih akrab dengannya, dibanding Evans kakak pertamanya yang sudah pisah rumah sejak memutuskan untuk menikah 4 tahun yang lalu.


"Dulu kamu juga sempat menentang pernikahan bang Evans dan mbak Kiara, tapi lama-lama kamu juga bisa menerimanya kan Kill, jadi lakukan hal yang sama seperti dulu." Risti sang mama menengahi perdebatan keduanya, sementara Deri sang papa sudah berlalu sejak tadi.


Masih belum terima dengan keputusan orang tuanya yang akan menikahkan adiknya Mutia, Killian berlalu pergi begitu saja.


"Aku akan coba kasih Killi pengertian ma." ucap Evans yang membuat Risti mendesah lega.


Evans berlari mengejar langkah Killian yang berjalan menuju kolam ikan koi yang merupakan tempat favorit adiknya Mutia.


Killian menyandarkan punggungnya pada sebuah pohon mangga yang berukuran sebesar betisnya, tersenyum kecut saat pikirannya kini dipenuhi dengan bayang-bayang sang adik yang akan segera menikah.


"Gue masih belum nyangka bakalan secepat ini bang!" ucapnya, rupanya dia menyadari kehadiran sang abang yang berdiri di belakangnya.

__ADS_1


"Perasaan baru kemarin gue gendong dia, lihat dia memakai seragam merah putih, dan sekarang sebentar lagi dia udah jadi milik orang lain." lanjut Killian seraya menunduk sedih.


Evans melanjutkan langkahnya menghampiri sang adik kemudian ikut duduk di sampingnya dengan kedua kaki menjuntai di pinggir kolam ikan koi.


"Kill, adik kita itu perempuan, sekarang ataupun nanti sama saja, jika sudah waktunya dia menikah dia pasti akan dibawa oleh suaminya." jelas Evans, Evans tahu betul apa yang ada dipikiran adiknya.


"Tapi bang, gue belum siap."


"Siap nggak siap Kill, kamu nggak bisa seperti ini, nggak bisa terus menerus menahan Mutia untuk diri kamu sendiri, dia juga berhak menentukan hidup dan masa depannya, Kill dengar! memangnya kamu tidak mau melihat adik kita bahagia?"


Deg!


Killian menunduk, "Apa dengan menikah dengan bocah itu, Muti akan bahagia bang.?" menoleh kearah sang abang yang menatap lurus kedepan.


"Apa kau tak melihat binar bahagia di matanya?"


"Jadi dia bahagia.?"


"Tentu saja."


Killian mendesah kasar, "Lalu bagaimana dengan gue bang."


"Cari pacar, kemudian menikah secepatnya, abang jamin kamu tidak akan kesepian lagi!" setelah mengucapkan hal tersebut, Evans beranjak meninggalkan Killian sendiri, membiarkan adik laki-laki nya itu untuk merenungi semua ucapannya.


*


*

__ADS_1


__ADS_2