
Pagi-pagi sekali Satya dan keluarganya berangkat ke Bandung, begitu juga dengan oma Sarah, dan opa Abidzar yang tidak mau ketinggalan, begitu tahu cucu ketiganya akan lamaran keduanya antusias membeli baju baru.
Sepasang insan yang sudah termakan usia, namun masih terlihat segar bugar itu begitu bersemangat dibanding Nada dan Ando sendiri selaku kedua orang tua Satya.
Rombongan mereka berangkat pukul 4 subuh, untuk menghindari kemacetan sekaligus mengejar waktu berharap jam setengah 7 pagi sudah sampai ditempat tujuan.
Mereka membawa tiga mobil sekaligus, dua mobil terdiri dari anggota keluarga, sedangkan satu mobil lainnya hanya ditumpangi satu orang sopir, sisanya barang-barang untuk lamaran.
Di persimpangan jalan yang sudah memasuki kawasan Bandung, mobil yang ditumpangi mereka berhenti sejenak, menunggu oma Indri, opa Rendra, dan Qhinathan yang ingin ikut serta ke acara lamaran Satya dan Mutia.
Tak lama mobil yang ditumpangi ketiganya sampai disana tepat waktu, kemudian mereka melanjutkan perjalanan sama-sama menuju rumah Mutia yang berjarak satu kilo meter dari tempat tersebut.
Keluarga Mutia sendiri sudah bersiap-siap menunggu kedatangan mereka didepan rumahnya, Deri, Killian dan Evans tampak kompak mengenakan atasan batik dengan motif yang sama, sementara Risty, kiara, dan Grizella mengenakan longdress dengan motif dan warna yang sama juga dengan ketiganya.
"Kamu yakin Sat, ini rumahnya?" Ando berujar.
"Iya yah ini, memangnya kenapa, unik ya rumahnya, atau ayah baru pertama kali lihat?" jawab Satya yang berada dibelakangnya.
Kini mereka sudah sampai tepat didepan rumah Mutia, yang Satya datangi kemarin pagi.
Tak menjawab lagi, Ando bergegas membuka pintu dan keluar terlebih dulu, "Ayo cepetan." panggilnya dari luar, membuat mereka yang berada didalam mobil bergegas untuk menyusul.
Diikuti oma Sarah, opa Abidzar, berikut oma Indri, opa Rendra dan juga Qhinathan.
"Maaf Pak bu, ini barang-barang nya mau diturunin sekalian?" tanya sang sopir yang juga ikut menyusul keluar dari mobilnya.
"Oh iya boleh mang." jawab Ando.
Mang Iman selaku penjaga rumah orang tua Mutia pun tak tinggal diam, ia ikut membantu menurunkan barang-barang tersebut, setelah meminta izin dari Ando dan keluarganya.
__ADS_1
"Abang lihat apaan sih, aku perhatiin dari tadi kok kaya lagi mengingat-ngingat sesuatu?" bisik Nada.
"Rasa-rasanya pernah kesini, tapi lupa kapan?"
"Masa sih?" tanya Nada tak percaya.
Dibelakangnya, Satya tampak risih karena Satria terus menggandeng tangannya seolah mereka adalah sepasang pengantin yang hendak berjalan menuju pelaminan.
"Sat, lepasin! geli gue di giniin." bisik Satya, saat keduanya berjalan menuju teras rumah Mutia yang begitu jauh dari gerbang rumahnya, karena halaman rumah tersebut sangat luas, bahkan saking luasnya diperkirakan lima kali lipat lebih besar dari halaman rumah orang tuanya yang berada di Jakarta.
"Diem lo berisik banget kek bocah, yang anteng dikit napa, siapa tahu kan elo mendadak jatuh, terus baju elo kotor, kagak lucu kan kalau yang mau ngelamar bajunya kotor, kek abis kepeleset."
"Ya kagak mungkin lah, lo kagak lihat sepanjang halaman rumah ini dipasang vaping block, elo kali yang takut jatoh."
"Ni anak susah banget ya dibilangin." balasnya seraya menjitak kening saudaranya itu, namun tak juga melepaskan tangan yang satunya.
"Dengerin gue ni."
"Biasanya orang yang mau lamaran atau married kan suka deg-deg an, makanya gue khawatir sama elo.''
"Gue kasih tahu, gue kagak deg-deg an."
"Belom aja."
''Ck, lo kok jadi ngeselin sih!" gerutu Satya.
"Ini kalian lagi ngerebutin apa sih, kok oma perhatiin dari tadi ribut terus!" sela oma Indri yang berjalan dibelakangnya, sontak keduanya menoleh kemudian saling tunjuk.
"Kok gue?" protes Satya, "Yang mulai duluan kan elo."
__ADS_1
"Lo lupa yang protes duluan elo! lo kagak mau gue gandeng."
"Ya jelas lo yang salah dong, ngapain coba gandeng tangan gue segala, kenapa nggak gandeng opa aja, lihat tuh opa!" menunjuk kearah opa Rendra yang memang meringis beberapa kali memegangi pinggangnya.
"Eh jangan suudzon ya, opa bukan sakit pinggang, tapi sakit gigi." jawab Rendra cepat, yang membuat kedua insan berwajah sama persis itu melongo.
"Sakit gigi kok yang dipegangin pinggang opa,? memangnya ngaruh?" tanya Satria bingung.
"Ya jelas ngaruh, ini untuk mengurangi rasa sakit."
"Aneh emang opa ini ada-ada aja." Satya ikut menimpali, kemudian keduanya kembali melanjutkan perdebatan dengan masalah yang sama, membuat oma Indri dan opa Rendra menggeleng-gelengkan kepala.
Ando dan Nada yang berjalan terlebih dahulu, disambut keluarga Mutia dengan ramah, kemudian mereka mulai menyalaminya satu persatu, disusul oleh Qhinathan dan dua pasang lansia dibelakangnya.
Sementara Satya dan Satria yang terus berdebat tertinggal jauh, karena perkara gandengan tangan yang tak kunjung selesai.
Saat keduanya mendekat, Deri tampak melebarkan mata, kemudian mengucek kedua bola matanya berkali-kali, Killian yang melihat tingkah sang papa pun memutuskan untuk bertanya.
"Pa, papa kenapa, kelilipan?"
"Sepertinya begitu, coba kamu ambilkan papa kacamata dikamar." perintahnya.
"Apa hubungannya sih pa.?"
"Barang kali papa salah lihat, atau mata papa sedang bermasalah."
"Ini lagi papa, ngomong apaan sih?"
"Itu_ itu Satya nya jadi dua." jawab Deri, yang sontak membuat semua orang yang hadir disana menatap kearah Satya dan Satria secara bersamaan, kemudian berganti menatap kearah Deri dengan tatapan tak terbaca.
__ADS_1
*
*