
"Sat, ngapa cewek elo tuh, lo apain?" ucap Andre saat melihat Stela yang berjalan setengah berlari menembus kerumunan orang-orang yang mulai memenuhi area acara.
"Biasalah, gue salah ngomong, sorry bro gue musti nyusul cewek gue, gue duluan ya!" ucapnya lemas, yang kemudian diangguki oleh ketiga sahabatnya.
"Cewek emang mahluk paling ajaib sih menurut gue, gampang seneng, gampang baik, tapi gampang ngambek juga, iya kan bro!" Andre menepuk pundak Haikal.
"Ya mana gue tahu, gue kan belum pernah punya cewek!" jawab Haikal polos, membuat Andre mendengus, seraya berdecak sebal.
"Susah emang kalau punya temen yang jomblo karatan gini, kagak bisa di ajak curhat."
"Songong lo, emang lo pernah punya pacar kok gue bisa kagak tahu?" timpal Adam.
Terlihat Andre yang meringis, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Belum sih!"
Sontak keduanya menoyor kening Andre bersamaan, "Mati aja lo!"
*
"Yang tunggu dong yang, oke aku anter pulang ya!" Satria menahan lengan Stela setelah berhasil mengejarnya.
"Tunggu dulu disini yang please! aku ambil motor dulu." pintanya berusaha terdengar selembut mungkin agar Stela sedikit luluh.
Satria berlari untuk mengambil motornya, menghembuskan nafas cukup kasar, berantakan sudah semuanya hanya karena ada yang salah dari ucapannya.
Ternyata pandangan Stela sangat berbeda, ia menganggap semua ucapannya adalah hal yang sangat serius, padahal niatnya hanya bercanda dan sedikit menjahilinya.
Entah karena dirinya mantan playboy hingga Stela gampang percaya mengenai hal buruk yang berhubungan dengannya di masa lalu.
"Ck, gue emang macarin banyak cewek dulu, tapi gue bisa pastiin gue kagak pernah nyentuh mereka satu pun, kalau ada yang udah nggak suci, berarti itu bukan gue pelakunya." Satria bergumam sendiri sembari mulai melajukan motornya kearah Stela.
"Ayo yang naik."
Stela terus melangkah tanpa berniat menoleh ataupun menaiki motornya.
Hingga Satria memutuskan untuk turun, dan segera menghentikan langkahnya.
Satria mengingatkan dirinya sendiri agar lebih sabar menghadapi Stela, tersenyum kecut saat membayangkan dirinya yang dulu, saat ini ia yang mengemis cinta pada Stela, padahal dulu merekalah yang mengemis cinta padanya.
Grep!
Satria memeluk erat Stela tak peduli beberapa pasang mata yang melihat, tak perduli kini mereka berada dipinggir jalan.
__ADS_1
"Yang, udah dong marahannya please, aku cuma bercanda yang."
"Lepasin!"
"Aku nggak bakal lepasin sebelum kamu mau maafin."
"Kamu nyebelin!"
"Iya."
"Kamu sok kegantengan."
"Iya."
"Ck, ngeselin!"
"Iya."
"Satria Aji Arsenio."
"Iya."
"Pulang bareng aku ya yang."
"Yaudah, tapi lepasin dulu."
Dengan terpaksa Satria pun melepaskan pelukannya, kemudian menuntun gadisnya menuju motornya.
*
"Kok berhenti disini sih?" protes Stela, saat Satria menghentikan motornya didepan kedai es cream.
"Orang bilang, cewek kalau lagi ngambek itu harus dikasih es cream."
"Kata siapa?" ucap Stela ketus.
"Tadi kan udah bilang, kata orang."
"Nyebelin."
"Tuan putri duduk aja disini ya, biar pangeran yang pesenin." Satria tak mempedulikan omelan Stela, menarik salah satu kursi, kemudian mendudukannya disana.
__ADS_1
Tak berselang lama ia kembali dengan dua mangkuk es cream di tangannya.
"Selamat menikmati es creamnya tuan putri."
Tak menjawab, Stela meraih salah satu mangkuk yang berisi es cream tersebut kemudian segera melahapnya.
Ia butuh pelampiasan saat ini.
"Pelan-pelan yang." ucap Satria yang disertai kekehan kecil.
"Diem!"
"Kamu cantik kalau lagi makan!"
"Diem!"
Setelah memastikan Stela telah menghabiskan es creamnya Satria pun pergi ke kasir, kemudian berjalan menuju motornya.
Sementara Stela yang melihat Satria yang hendak menaiki motornya bergegas berlari menghampirinya dengan wajah masam.
"Kamu mau ninggalin aku sendiri.?"
Tak menjawab, Satria menggerakan dagunya melirik ke jok motor dibelakangnya, yang mengisyaratkan agar Stela segera naik.
*
Selama di perjalanan keduanya saling diam, baik Satria maupun Stela tidak ada yang mau memulai percakapan terlebih dulu, hingga beberapa menit berlalu keduanya tiba didepan rumah Stela.
Stela turun dari motornya, seraya mengucapkan terimakasih yang hanya dibalas anggukan kecil oleh Satria.
"Kenapa sih diem mulu dari tadi, kenapa kamu jadi yang marah, harusnya kan yang marah itu aku." sentak Stela setelah merasa cukup kesal dengan sikap Satria yang terus mendiamkannya sejak tadi.
Satria mengerutkan kening, "Bukannya tadi kamu yang nyuruh supaya aku diem!''
"Ihs, tapi nggak gitu juga, kamu kok jadi nyebelin banget sih, tahu ah!" Stela membuka gerbang, melangkah menuju rumahnya dengan kaki yang di hentak-hentakan.
Sedangkan diluar Satria hanya bisa menghela nafasnya. "Banyak ngomong salah, di diemin salah juga!"
*
*
__ADS_1