
"Akhirnya lo dateng juga." bisik Satria, ketika si pemilik wajah yang hampir sama persis dengannya yang tak lain adalah saudara kembarnya Satya, baru saja tiba dihadapannya, setelah ia menunggu hampir 1 jam lamanya.
"Ngapain sih nelpon gue nyuruh kesini, lo tahu gue lagi sibuk di Cafe yang lain," gerutu Satya sembari meminum minuman milik Satria tanpa ijin.
"Gue bingung, gue musti ngapain coba, gue dateng kesini malah dikiranya gue mau nongkrong sambil makan, bantuin gue lah Sat, lo kan udah banyak pengalaman kaya bang El, ajarin gue please!"
"Ajarin gimana, masak?" tanyanya dengan kedua alis yang bertaut.
"Pertanyaan konyol! bukan itu maksud gue!" Satria mengacak rambutnya seraya mendesis kesal.
"Ck, masa hal kecil gini aja musti dikasih tahu, giliran masalah cewek aja lo_"
"Beda cerita Sat, lo kagak usah bawa-bawa mereka." potong nya cepat.
"Eh bentar!" Satya menepuk dada Satria, dan bergegas menghampiri seseorang yang tidak asing di mata Satria.
"Anjirr ngapa lagi tuh cewek ada disini?" gumamnya, melipat tangan dan meletakannya di dada, menghela nafas pelan memalingkan wajah berharap gadis itu tak melihat nya berada disini.
"Woyy, ngelamun lo! ditanyain pacar tuh!" Satya kembali duduk dihadapannya sembari menunjuk seseorang menggunakan dagunya.
"Ck, pacar-pacar sembarangan lo, nggak Ada! gue sama dia udah bubar." jawabnya malas, sementara Satya menatap nya bingung.
"Serius? bukan nya lo dulu tergila-gila sama tuh cewek, dan sekarang lo putus, sulit di percaya." lagi-lagi Satria terkekeh, seraya menggelengkan kepala nya.
__ADS_1
"Bukan gue yang tergila-gila tapi dia, camkan!" Satria mendelik kesal, ia pikir kedatangan saudaranya kemari akan terasa menyenangkan, namun ternyata dugaannya salah, yang ada justru menambah mood nya yang buruk semakin bertambah buruk.
"Percuma ada lo disini," gerutu nya yang terlihat menyebalkan.
"Yang nyuruh dateng kesini siapa coba?" sahut Satria malas.
"Yaudah pergi lo sono." usirnya.
"Emang gue mau pergi."
"Sialan!"
"Sorry ngab, gue janji siang ini mau jemput Cantika dirumah guru lesnya."
"Alesan! bilang aja lo pengen ketemu gurunya kan."
"Sat, tunggu!" cegah Tiara, menahan tangan Satria yang hendak beranjak dari duduknya.
"Ngapain lagi sih lo, lo ngikutin gue sampe sini?"
"Sebenarnya gue nggak sengaja mampir kesini, tadi nya mau ketemu Satya, tapi ternyata gue seberuntung ini, malah ketemu lo juga."
"Sat, tunggu!" Tiara menghadang tubuh Satria, yang membuat nya benar-benar muak dengan sikap Tiara yang menurutnya tidak tahu malu.
__ADS_1
"Lo tahu kan kalau gue bisa kasar sama siapapun kalau gue mau!" ujar Satria sarkas, sembari menepis kasar tangan Tiara.
"Sat lo tega kasarin gue kek gini, jadi cuma segitu doang rasa cinta yang lo punya buat gue?" Tiara menunjuk dirinya sendiri dengan mata berkaca-kaca.
"Iya, kenapa memang nya, lo nggak terima? bukan nya lo tahu pasti dari dulu gue ini cowok yang seperti apa, lo ingat baik-baik! gue bukan tipe cowok yang bakalan terpuruk hanya karena putus dengan satu cewek, apa lagi penghianat seperti elo."
"Tapi Sat_"
"Minggir! gue mau balik."
"Minggir atau gue dorong lo sampe jatuh."
"Silahkan kalau lo berani." tantangnya.
Brakkk..
Tanpa belas kasihan Satria benar-benar mendorong tubuh Tiara hingga terjerembab menabrak meja.
Menghentikan langkahnya sesaat, berbicara tanpa menoleh kearah nya. "Udah gue bilang kan, gue bukan tipe cowok yang baik hati, gue bisa lakuin apapun yang gue mau."
"Elo jahat banget sih Sat." sahut Tiara sembari meringis yang disertai isakan kecil.
Sementara Satria hanya tersenyum tipis, kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan Cafe.
__ADS_1
.
.