
"Lo, lo cewek kampung yang udah ngerayu Satria kan waktu itu!" Ujar Tiara menghadang langkah Stela dilorong sekolah pagi ini.
"Maksudnya apa ya, siapa yang ngerayu siapa?" balas Stela santai, seolah memperlihatkan dengan jelas bahwa ia tidak memiliki rasa takut sama sekali dengan perempuan yang dijuluki Queen di sekolah SMA Samudera dihadapannya itu.
"Lo nantangin gue?"
"Nggak, sama sekali."
"Asal lo tahu ya Satria itu cowok gue, milik gue! cewek kampung kek lo itu nggak pantes bersanding sama dia, nggak level! ngerti nggak lo?" menoyor kening Stela dengan ujung telunjuknya.
"Oh iya, tapi Satria bilang lo sama dia udah putus, dua bulan yang lalu."
"Jangan sok tahu lo!"
"Satria sendiri yang bilang sama gue."
"Dan lo percaya gitu aja, asal lo tahu Satria itu terkenal paling playboy seantero SMA Samudera."
"Lo lucu ya, lo ngaku-ngaku dia cowok lo, tapi lo juga ngumbar kejelekannya dia, biar apa?"
"Ya, B-iar lo tahu kalau dia itu nggak serius deketin lo!" jawab tiara gelagapan.
"Masa?"
"Kalau lo berani deketin dia lagi, gue jamin hidup lo nggak bakalan tenang."
"Terserah, ambil aja sana Satrianya lo, dan lo bilang sendiri kedia supaya jangan ganggu gue lagi."
"Dan satu lagi, kalau dia masih bersikukuh deketin gue, itu bukan salah gue, sorry gue duluan." ujar Stela ketus, berjalan cepat menuju kelasnya dengan wajah masam.
"Dia pikir dia siapa, ngatur-ngatur gue kaya gini." gerutu Stela, melempar tasnya keatas meja kemudian menjatuhkan tubuhnya dikursi belajar miliknya.
"Apa yang salah sih sama gue, kenapa rasanya dunia ini nggak adil banget buat gue." keluhnya, menutup wajah dengan kedua telapak tangan untuk menutupi kesedihannya.
Tet.. Tet... Tet..
__ADS_1
Bunyi bel didepan kelas menandakan bahwa acara belajar mengajar akan segera di mulai, Stela menoleh saat menyadari kursi yang biasa di duduki Satria kosong.
Ia ingin bertanya pada teman-teman Satria, namun ia urungkan, hati kecil nya mengingatkan bahwa ia tidak perlu tahu apapun tentang Satria, karena baginya ia bukan siapa-siapa nya.
*
Hingga tiga hari berlalu, Satria masih tak kunjung sekolah, tanpa keterangan yang pasti, lebih tepatnya Stela sama sekali tidak tahu apa yang terjadi dengan laki-laki yang tiga hari lalu memohon agar diberi kesempatan untuk memberikan cinta nya itu.
Akhirnya dengan didorong rasa penasaran yang besar, sepulang sekolah siang ini Stela pun memutuskan untuk bertanya pada ketiga laki-laki yang merupakan sahabat Satria.
"Tunggu, boleh ngobrol sebentar?" Stela menghadang langkah Andre yang hendak keluar gerbang, menunggu Adam mengambil motor nya terlebih dulu diparkiran sekolah.
"Iya, kenapa cantik?"
"Itu, Satria kenapa ya tiga hari ini nggak masuk sekolah?" tanyanya ragu-ragu, antara malu dan gengsi.
"Oh si Satria, dia lagi sakit, dan dirawat dirumahnya, ini kita juga sekarang mau kerumah dia dulu mau nengokin."
"Mau ikut?" ajak Andre.
"Yahh..sayang banget, padahal kalau lo ikut si kamvret pasti seneng banget." sambung Andre yang hanya dibalas senyuman tipis oleh Stela.
"Kalau begitu thanks ya, gue duluan."
"Ok, cantik!"
*
Sebelum tiba dirumah Satria, ketiganya masing-masing membeli sesuatu sebagai buah tangan layaknya kebanyakan orang yang sedang menjenguk seseorang yang sakit pada umumnya.
"Permisi tan,? mau jenguk Satria." ujar Adam yang kini menyalami Nada bergantian dengan Andre dan juga haikal yang berdiri dibelakangnya.
"Yaudah ayo masuk aja kedalem, Satria ada dikamarnya, kebetulan dia baru aja bangun." ujar Nada mempersilahkan ketiganya untuk masuk kekamar anak keduanya itu.
Kedatangan mereka kerumah, sudah tidak lagi asing, karena mereka sudah terbiasa berkunjung bahkan jika hari libur, mereka pun sering menginap hingga beberapa hari.
__ADS_1
"Kalian masuk aja, tante mau buatin minum dulu kebelakang."
"Iya, tante." jawab ketiganya seraya mengangguk sopan.
"Hei bro, kita dateng nih! jangan sakit mulu dong, sepi banget sekolah kagak ada elo, nggak asik!" ujar Adam begitu pintu kamarnya terbuka, kemudian meletakan parcel yang berisi buah-buahan yang dibawanya diatas nakas yang berada disamping tempat tidur Satria.
"Iya Sat, cewek-cewek di sekolah juga galau berat karena pangerannya nggak ada." timpal Andre.
"Stela juga nanyain kabar lo tadi." tambah Andre yang sontak membuat Satria menoleh kearahnya.
"D-dia nanyain gue." tanyanya dengan nada yang masih terdengar lemas.
"Iya, dia juga titip salam buat lo, seneng kan lo, makanya lo cepet sembuh bro!"
"Oh iya, gue juga bawain sesuatu buat lo!" lanjut Andre seraya mengeluarkan isi paper bag yang dibawanya.
"Kepiting balado asam manis?" ujar Adam dan haikal bersamaan.
"Pinter banget nebaknya lo berdua kalau masalah makanan, padahal gue belum lihatin isinya lho."
Andre mendengus.
"Ck, dari baunya juga semua orang tahu kali, kalau itu aroma kepiting, yang jadi masalahnya lo ngirim makanan ini buat orang sakit, mana boleh di kasih begituan, mau bunuh orang sakit, aneh lo dasar!" gerutu Adam, yang diberi dukungan dua jempol ditambah dua kelingking oleh haikal.
"Bener tuh!"
"Kaya gue dong, bawanya ginian!" haikal ikut mengeluarkan isi paper bag yang dibawanya, yang seketika membuat Andre membelalakan matanya.
"Hah, seblak ceker?"
.
.
"
__ADS_1