Pesona Twins S

Pesona Twins S
Anak Muda


__ADS_3

"Ini kenapa sih, malem-malem ribut!" ujar Ando yang baru saja kembali dari dapur untuk mengambil air minum.


"Ini nih anak kamu bang, masa jam segini baru pulang." Nada menunjuk putranya menggunakan kemoceng yang sedikit mengeluarkan butiran debu.


"Ngapain aja Sat, jam segini baru pulang.?" giliran Ando yang bertanya pada putranya.


"Biasa yah anak muda." sahutnya yang terdengar santai.


"Ayah juga pernah muda lho, tapi nggak kaya kamu ini."


"Ya bedalah, aku kan lebih ganteng." jawab nya membuat Nada dan Ando saling berpandangan, dan saat mereka kembali menoleh sang Putra sudah tak lagi berada ditempatnya.


"Satriaaaaa!" teriak keduanya bersamaan.


*


*


"Pagi sayang, kok malah melamun aja sih, kenapa?" ujar Cintya yang merupakan ibu kandungnya Stela.


"Ma?"


"Hari ini mama nginep kan?" tanyanya dengan suara bergetar.


Cintya tersenyum kecil, seraya mengusap lembut rambut putri satu-satunya itu.


"Maaf sayang mama_"


"Nggak usah dilanjutin, Stela ngerti kok." potongnya, dan bergegas mengambil tas sekolahnya.


"Mang Ayo!"


"Siap non." Mang Harto yang merupakan sopir pribadinya pun bergegas menyahut dari luar.


"Ste, tunggu dulu! kamu belum sarapan sama sekali, kenapa musti buru-buru sih?" Cintya berusaha menahannya.


"Stela nggak laper!"


"Tapi_"

__ADS_1


"Ayo mang, berangkat!"


"Ste_" ucapannya menggantung diudara, saat Putrinya melesat pergi didalam mobil silver yang ditumpanginya.


"Maafkan mama nak." ucapnya lirih dengan tubuh yang terduduk lemas.


*


*


"Hai." sapa seseorang yang tak lain adalah Satria, ketika Stela melangkah kan kakinya menuju gerbang sekolah pagi ini.


"Ck!"


"Ste?"


"Gue nggak ada waktu buat ngobrol sama lo tahu nggak sih?"


"Gue nggak mau ngajak lo ngobrol kok, gue cuma mau bilang, mata lo kaya panda ada item-itemnya."


"Lo_"


"Eh tunggu." cegah Stela, sementara Satya yang sudah membalikan tubuhhya mengulum senyum.


"Kenapa, bukannya lo nggak mau ngobrol sama gue?"


"I-itu, lo_ lo serius mata gue kaya panda?" tanyanya dengan nada terbata.


"Sorry gue mau ke kelas."


"Ihs tunggu dulu kenapa sih?" sentak Stela, yang repleks memegang tangan Satria, dan sontak membuat tubuhnya membeku seketika, menelan ludah susah payah, sembari memandangi tangannya yang dipegang sedikit erat oleh Stela.


"S-sory." Stela menarik tangannya saat menyadari kemana arah pandang Satria.


Sementara Satria berdeham pelan, berusaha untuk terlihat santai seperti biasa, meski jantungnya terasa berdetak tak karuan.


"Ja-jadi bener mata gue kaya panda, gue_ gue nggak bawa cermin soalnya."


"Nggak kok, tadi gue cuma bercanda." jawab nya dan ngeloyor pergi.

__ADS_1


"Nyebelin!" umpat Stela, setelah berhasil mencerna dengan baik ucapan Satria.


*


*


"Entar sore bunda mau pergi keacara teman kantornya ayah, kalian berdua pulang nya jangan malem-malem, kasihan adek kalian sendirian dirumah, terutama kamu Sat." menunjuk Satria dengan tatapan horror.


"Iya bun." jawab keduanya lirih.


"Bang Satria tadi ada yang titip salam." ujar Cantika yang tengah duduk bersandar disofa dengan Moly yang berada dipangkuannya.


"Siapa dek?"


"Kak Mega."


"Siapa Mega?"


"Itu lho anaknya pak Rahmat, juragan ikan asin." kali ini sang bunda yang menyahut.


"Ck, yang kecil nya banyak kutunya itu ya bun?" celetuk Satya.


"Udah nggak kali bang, sekarang udah cantik." Cantika kembali menyahut.


"Cantik apaan, alisnya aja kek papan seluncur gitu." sahut Satria yang membuat Satya tergelak.


"Hushhh, nggak boleh gitu siapa tahu nanti kalian malah suka." protes Nada.


"Gue sih setuju-setuju aja dia sama elo Sat, tapi lo harus siap-siap aja beliin dia bedak sama gincunya tiap hari, secara kan dia sekali pake bedak itu tujuh lapis."


"Ihs abang nggak boleh gitu," kini gantian Cantika yang protes.


"Oh iya bunda baru inget, cela na dalam kamu tadi di tempelin ulat bulu." ujar Nada yang membuat wajah Satya memerah seketika, sementara Satria menutup mulut menahan tawa.


"Lagian abang sih penyakit anehnya emang nggak bisa dihilangin napa bang, kemarin jemur dikamar mandi, eh sekarang pindah di jemur di pohon kedondong." timpal Cantika tanpa menoleh.


"Sat, kagak sekalian di pohon rambutan aja, kan lebih tinggi." bisik Satria, yang langsung mendapat toyoran dari saudara kembarnya tersebut.


.

__ADS_1


.


__ADS_2