
Sesampainya didalam kamar, Stela bergegas mandi dan mengganti pakaiannya, ia ingin beristirahat untuk menenangkan hati dan juga pikirannya.
Stela merebahkan tubuhnya diatas kasur, hendak memejamkan kedua matanya, hingga suara dering ponsel dari dalam tasnya membuat ia kembali terjaga.
Merogoh benda pipih tersebut, mengerutkan kening saat melihat nama si penelpon.
"Kenapa mang?'' tanyanya ketika telponnya sudah tersambung.
"Ada den Satria nungguin."
Deg!
"Suruh pulang aja mang."
"Aku nggak akan pulang sebelum kamu mau nemuin aku." jawab si pemilik suara lain.
"Please turun, kita bicarain ini baik-baik." pinta si penelpon yang tak lain adalah Satria.
"Aku tunggu dibawah."
Stela berdecak, dengan perasaan kesal ia bergegas turun menemui Satria, percuma saja jika ia terus bersembunyi, karena pada akhirnya Satria tak akan berhenti untuk mengganggunya.
Satria yang sedang duduk diujung teras beranjak sambil tersenyum kala melihat gadisnya datang, laki-laki itu terlihat tampan mengenakan jaket yang dikembalikan Stela tadi.
"Kita perlu selesain masalah kita yang."
"Ck, aku rasa udah nggak ada yang perlu di omongin lagi, semuanya udah selesai."
"Kamu nggak mau ngasih aku kesempatan buat jelasin?" ujar Satria dengan nada memelas, membuat Stela terdiam sebentar.
__ADS_1
''Yaudah ngomong aja." jawabnya ketus.
"Disini?"
"Emang mau dimana lagi." sentaknya dengan raut wajah tak bersahabat.
"Yaudah disini nggak apa-apa." ucap Satria lirih, dari pada ia tak diberikan kesempatan sama sekali untuk menjelaskan.
"Ikut aku." Stela berjalan terlebih dahulu menuju taman yang terletak di belakang rumahnya.
Mendudukan dirinya di sebuah gazebo yang terletak ditengah taman.
"Mau ngomong apa, buruan! ini udah malem." ucap Stela ketus.
"Yang, aku minta maaf! kamu pasti salah paham dengan apa yang kamu lihat."
"Aku emang sengaja ketemuan sama Nira karena dia yang minta, aku pikir pasar malam tempat yang aman buat aku nemuin dia dibandingkan ketemu di Cafe-Cafe."
Deg!
"Dan apa yang aku takutin semuanya terjadi, kamu salah paham."
Stela menarik nafasnya menatap Satria dengan mata yang mengembun, "terserah! aku nggak peduli kamu mau nemuin Nira atau nggak, mau balikan sama dia atau nggak, aku nggak peduli."
Deg!
"Yang, kok gitu sih? aku ketemu sama Nira buat negasin kalau aku nggak pernah punya perasaan apa-apa sama dia, bukan hanya sekarang tapi sejak dulu."
Stela memalingkan wajahnya, bersamaan dengan air matanya yang jatuh mengaliri pipinya, entah mengapa hari ini perasaannya sangat sensitif dan mudah menangis.
__ADS_1
"Yang, aku minta maaf, aku berasa gila kalau kaya gini," Satria mengacak-acak rambutnya. "dua minggu kita jarang berduaan, apa sedikitpun kamu nggak kangen sama aku yang?"
"Bukan aku yang menjauh, tapi kamu." Sentak Stela dengan bibir bergetar.
"Iya, aku emang sengaja."
"Apa?!"
"Aku sengaja menjauh dari kamu, karena aku pikir dengan aku menjauh kamu bakalan ngerasa kehilangan dan ngasih kamu waktu supaya bisa ngerasain kangen sama aku, tapi ternyata aku salah, usahaku nggak berhasil Ste, aku gagal! aku udah gagal bikin kamu sayang sama aku."
"Aku nggak ada artinya dimata kamu."
Stela tertegun, mendengar ucapan Satria, laki-laki itu terlihat kecewa, dan putus asa, detik berikutnya Satria beranjak meninggalkannya.
"Satria tunggu!" panggil Stela, namun tak menghentikan langkah laki-laki di hadapannya, Satria terus berjalan, namun tidak secepat sebelumnya.
"Tunggu Sat."
Deg!
Tubuh Satria seketika mematung, bahkan ia seperti kesulitan untuk sekedar bernafas, kala sepasang tangan mungil Stela melingkar di perutnya, memeluknya dari belakang.
Satria dapat merasakan tubuh Stela bergetar.
Gadisnya menangis.
"Kamu nggak gagal, kamu berhasil!" ujar Stela di sela isak tangisnya.
*
__ADS_1
*