Pesona Twins S

Pesona Twins S
Masalah dalam keluarga


__ADS_3

"Woyyy, lihatin apaan sih?" Arimbi mengibaskan tangannya didepan wajah Stela, membuat gadis itu terperanjat.


"Hari ini lo aneh banget sih Ste, mikirin apa sih,? lo lagi ada masalah?"


"Eh nggak Bi, hari ini gue emang kurang fokus, karena kurang tidur mungkin, semalem gue nggak bisa tidur." Stela mengusap wajahnya yang memang terlihat agak pucat.


"Pantes! oh iya lo udah kan makannya, cabut yuk keknya bel masuk bentar lagi bunyi deh."


"Ayok."


Setelah membayar makanannya masing-masing, Stela dan Arimbi pun kembali ke kelas mereka, sempat berpapasan dengan Satria yang juga hendak mau masuk kelas, namun seperti sebelumnya laki-laki itu memilih untuk tidak menyapanya.


Siang harinya, sepulang sekolah Stela langsung berangkat menuju butik miliknya, berharap Satria pun akan datang ke DenadaCafe, namun hingga sore laki-laki itu tak kunjung datang, membuat perasaan Stela semakin berkecamuk tak karuan.


Seperti biasa pukul empat sore, Stela pulang ke rumahnya, ia pulang dalam keadaan lelah, lelah hati dan pikiran tentunya, sebelum motor matic yang dikendarainya sampai di rumahnya, ia sempat mampir terlebih dulu ke mini market untuk membeli kebutuhannya dirumah.


Cukup lama ia berada di mini market, karena mencari keperluan dapur dan juga kamar mandi.


*


"Apa kamu bilang hak,? bicara soal hak, lalu dimana tanggung jawab kamu terhadap Stela selama ini, kamu bahkan tidak pernah peduli bagaimana dia bertahan hidup selama ini, kamu lebih fokus dan menyayangi anak kamu dari Silvi, dibandingkan memperhatikan Stela."


"Cukup! kamu nggak perlu berteriak didepan ku, kamu sendiri apakabarnya Cintya, yang lebih mementingkan karir kamu sendiri dibandingkan mengurus dan menemani anak kamu, asal kamu tahu menjaga anak itu adalah kewajiban seorang ibu, kau dengar!"


"Lalu bagaimana denganmu,?"


Suara dua orang yang tengah beradu mulut itu begitu jelas terdengar hingga luar.

__ADS_1


Stela yang hendak membuka pintu rumahpun mendadak mematung, keributan seperti ini bukanlah terjadi untuk pertama kalinya, tapi sering! bahkan sangat sering, terhitung dari pertama kali kedua orang tuanya memutuskan untuk berpisah.


Keresek berisi belanjaan yang dibelinya dari mini market tadi sudah tercecer karena ia sudah menjatuhkan keresek tersebut tanpa sadar.


Pintu yang hampir terbuka itu ia tutup kembali, membalikan tubuh bersandar di daun pintu, tubuhnya luruh bersamaan dengan air matanya yang juga jatuh tak terkendali.


Memegang dadanya yang terasa sesak, setiap kali mendengar kedua orang tuanya yang selalu memperdebatkan masalah yang sama.


Beginilah kehidupan Stela, tak ada kata damai, apalagi bahagia.


Terkadang Stela hanya perlu menutup telinga kiri dan kanannya berusaha untuk terlihat seperti orang yang tak tahu apa-apa.


Stela menyentak nafasnya kasar, kembali ke garasi menaiki motornya, tak peduli lagi dengan belanjaannya tak perduli lagi dengan paperbag yang berisi seragam sekolahnya tergeletak didepan pintu.


Ia butuh tempat dan sesuatu yang dapat menghiburnya saat ini, bukan terus-terusan mendengarkan dua orang yang sedang ribut tak berkesudahan.


Stela melirik jam yang ada dipergelangan tangannya, yang kini menunjukan pukul setengah enam sore, pantas saja pasar malamnya sudah buka, batinnya.


Pasar malam yang terletak di belakang balai desa itu terkenal paling ramai dan paling besar dibandingkan dengan pasar malam lainnya.


Stela menitipkan motornya di pelataran khusus parkir motor terlebih dahulu, sebelum kemudian memasuki area pasar malam.


Sejak kecil ia memang terbiasa kesana, terkadang di temani bi Jujum asisten rumah tangganya yang pertama, namun lebih seringnya ia pergi sendirian.


Terkadang Stela merasa iri saat melihat kebanyakan anak-anak lainnya pergi bersama keluarga mereka.


Namun ia bisa apa?

__ADS_1


*


Stela membeli berbagai macam makanan sederhana yang biasa di jual di pasar malam, dan memakannya seorang diri, perutnya memang cukup lapar, karena sore ini ia belum memakan apapun.


Setelah menghabiskan seluruh makanannya, Stela kebingungan harus melakukan apa lagi, karena pulang cepat itu tidak mungkin!


Bukan tanpa alasan, karena ia yakin kedua orang tuanya masih ada disana.


Merasa wajahnya cukup lengket, Stela pun memutuskan untuk mencari toilet umum terdekat, untuk membasuh wajahnya.


Dan setelah berputar-putar mencari dan bertanya pada beberapa pengunjung disana, akhirnya Stela menemukan yang ia cari.


Namun, belum sempat ia mendekat kearah toilet, pandangannya teralihkan pada sosok seseorang yang sejak tadi ingin ditemuinya tengah mengobrol serius dengan seorang gadis dihadapannya.


Tempat itu cukup sepi, karena posisinya yang berada dibelakang pasar malam, dan mungkin menjadikan tempat yang pas untuk mengobrol menghindari kebisingan dari pasar.


Tak kuasa menahan tangis, Stela pun memutuskan untuk pergi dari tempat tersebut, namun kehadirannya rupanya telah disadari, terbukti laki-laki itu terperanjat kaget saat melihatnya.


*


*


Jangan lupa like, komen, dan dukungannya ya! biar authornya lebih semangat buat nulisnya, terimakasih ๐Ÿ˜˜


*


*

__ADS_1


__ADS_2