
"Kamu ngomong apa sih Sat,?" Nada menatap putranya tak percaya, pasalnya Satya yang ia tahu adalah Satya yang pendiam dan tidak tertarik berdekatan dengan gadis manapun.
"Bun, aku serius!"
"Nggak, dengerin bunda dulu ngomong! kamu punya pacar memangnya,?! maksud bunda gini lho, itu apa namanya, euhmz..calon istrinya kamu punya, yakin? kalaupun ia dia perempuan kan bukan_"
"Ck bunda nih suudzon mulu deh sama anak sendiri, masa iya sih aku pacaran dan nikah sama sesama jenis." protes Satya tak Terima.
"Bunda nggak percaya, aku punya pacar?"
"Hah?"
"Aku serius, mau aku kenalin sekarang juga." tawarnya, seraya beranjak mengulurkan tangan nya kehadapan sang bunda.
"Sat?" melirik uluran tangan Satya bergantian dengan menatap wajah putranya tersebut.
"Ayo, aku kenalin!"
Perlahan tapi pasti, pada akhirnya Nada menerima uluran tangan Satya mengikuti kemanapun sang putra membawanya pergi.
Setelah mengetuk pintu ruang rawat yang sudah ia datangi sebanyak dua kali itu, Satya pun bergegas membukanya.
Sementara itu, Mutia yang hendak memejamkan matanya pun sontak kembali terjaga, dengan jantung yang berdebar kencang, saat melihat sosok wanita yang berdiri tepat dibelakang Satya.
__ADS_1
"Hai." sapa Satya terlihat santai, dengan diiringi senyum khasnya.
"K-kak Satya?"
"Aku kesini mau ngenalin kamu sama bundaku, tapi aku yakin kamu udah kenal kan, karena udah beberapa kali ketemu juga." ucap Satya, karena yang diucapkannya memang benar adanya bahwa Mutia dan sang bunda sudah berkali-kali bertemu, ketika mengantar Cantika untuk les di kostannya.
"Hallo Mutia, bagaimana kabarnya?" Nada menghampiri Mutia untuk sekedar menyapa dan mengulurkan tangan menyalaminya, walaupun pada awalnya ia sendiri merasa terkejut dan tak percaya, bahwa gadis yang dimaksud Satya adalah Mutia, guru les anak bungsunya.
"Ba-baik tante, tante apa kabar?" tanyaya gugup, sama sekali tak menyangka bahwa Satya akan membawa bundanya untuk bertemu dengannya secepat ini.
"Baik, kabar tante sangat baik."
"Oh iya ngomong-ngomong, kok bisa sih Muti kecelakaan?" menatap iba kearah gadis yang tengah terbaring diranjang pasien, dengan telapak kaki dan juga lutut yang terbalut perban.
"Hanya kecelakaan kecil tante, lukanya juga nggak terlalu parah, sore ini juga udah diizinkan pulang."
"Beneran tante nggak apa-apa."
"Lagian katanya Muti punya pacar ya, kok bisa sih dia lalai jagain kamu?" melirik Satya, yang menggaruk tengkuknya, salah tingkah.
Sementara Mutia menatap Satya, seolah meminta penjelasan lewat sorot mata.
"Euhmmz so-soal itu_"
__ADS_1
"Nggak apa-apa, tante seneng kok kalau anak tante pacaran sama Muti, beneran tante seneng banget, nggak keberatan sama sekali."
"Eh, itu_"
"Tapi Mutia memangnya mau nikah sama anak tante, dia masih labil lho, pekerjaannya juga belum mapan, Muti nggak keberatan jika dibawa hidup sederhana sama dia." menunjuk kearah putranya yang terlihat menunduk.
Deg!
"Ki-kita nggak, maksud saya siapa yang mau nikah tan, kita baru aja pacaran."
"Lho, tapi tadi Satya bilang mau nikah." kembali menunjuk kearah putranya.
"Hah?"
"Kalau Muti bersedia, tante akan segera mendatangi kedua orang tua Muti, kalau perlu sore ini juga."
Deg!
Mutia menelan ludahnya, dengan perasaan tak menentu, ia merasa saat ini dunianya seperti berputar-putar, bagai mimpi yang tidak jelas alurnya.
Bagaimana mungkin hal seperti ini bisa terjadi pada dirinya, belum ada 15 menit setelah ia resmi berpacaran dengan Satya, lalu ibu dari laki-laki yang berstatus sebagai pacarnya itu datang, untuk memberinya restu.
Tidak masuk akal. batinnya, seraya menggeleng-gelengkan kepala.
__ADS_1
*
*