Pesona Twins S

Pesona Twins S
Nomor hand phone


__ADS_3

"Sat, gue kangen!" Tiara menggenggam sebelah tangan Satria, yang kini tanpa penolakan darinya.


Namun sangat kentara dari raut wajah nya, bahwa ia sama sekali tidak suka dengan sikap Tiara kepadanya.


Menghela nafas pelan, kemudian memalingkan wajah menghadap kearah lain, tentu karena terlalu malas bersitatap langsung dengan Tiara, terutama malas jika harus mendengar seluruh ocehannya.


"Sat please, kasih gue kesempatan! sumpah Sat, gue masih sayang sama lo!" Tiara kembali berujar ketika Satria hanya diam dengan pandangan masih menatap kearah lain.


"Ra, lo ngerti nggak sih! kalau gue udah nggak minat lagi pacaran sama lo." balas Satria yang kini menatapnya tajam, seraya menarik kasar tangannya dari genggaman Tiara.


"Tapi gue nggak mau putus, lo mutusin gue secara sepihak, dan ini tuh nggak adil banget buat gue!" tambah Tiara yang kini mulai meneteskan air mata.


"Lo pikir nggak adil dibagian mananya sih, lo pacaran sama gue, terus dibelakang lo main gila sama cowok yang lo sendiri tahu kalau dia itu musuh gue, dan saat gue minta putus lo bilang nggak adil, lucu banget kan lo!"


"Tapi kan gue udah minta maaf sat."


''Sorry Ra, maaf aja nggak cukup!"


"Sat, gue tahu lo masih sayang kan sama gue."


"Ck, tahu dari mana lo?"


"Karena gue bisa ngerasain, dan gue tahu persis gimana sikap lo selama ini, lo itu playboy yang suka gonta-ganti cewek, yang dimana setelah putus dari seseorang lo langsung punya gandengan baru, tapi ini nggak kan, itu tandanya lo emang masih sayang sama gue, dan belum bisa move on."


Satria tergelak, "Lo terlalu percaya diri Ra, dan gue rasa lo belum mengenal gue dengan lebih baik."


"M-maksud lo?" tanyanya mulai gugup.


"Gue nggak sebucin itu Ra, lo tahu artinya cewek buat gue apa,?" Satria mencondongkan wajahnya, membuat Tiara semakin gugup.


"Cuma sekedar penghibur!"


"Oh, lebih tepat nya.. cuma mainan!" tambah Satria, dan berlalu meninggalkan Tiara, yang mengepalkan kedua tangannya.


"Lo lihat aja nanti Sat, gue pastiin lo nggak bakalan bisa berpaling dari gue, dan nggak bisa hidup tanpa gue!" gumam Tiara.

__ADS_1


Sementara itu Satria melangkahkan kakinya menuju tempat favorit nya, kemana lagi jika bukan kekantin bi Ami, yang menurutnya tempat yang paling ternyaman dari pada didalam kelas.


Dan seperti biasa, saat diri nya melewati beberapa murid perempuan, ia selalu menjadi pusat perhatian, karena dimata mereka ia seperti pangeran yang tengah berjalan dengan gaya yang begitu cool, dan mengesankan.


Pesona seorang Satria begitu menghipnotis.


Tepat sepuluh langkah menuju kantin, ia berpapasan dengan Stela, murid baru yang memiliki paras cantik dan manis, serta memiliki sikap yang sangat berbeda dari kebanyakan gadis disana, yang tentu membuat Satria merasa tertarik sekaligus penasaran dengan gadis tersebut.


Ia merasa heran, karena baru kali ini ada seorang gadis yang mampu menolak pesona nya.


Satria tersenyum penuh arti, saat sebuah ide melintas di kepalanya.


"Brukkk!"


Stela yang sejak tadi berjalan dengan sedikit menunduk, karena terlalu fokus membaca buku, kini tanpa sadar menabrak dada bidang Satria, hingga buku tersebut jatuh mengenai lantai.


"Elo!" pekik Stela kesal, saat melihat sang pemilik wajah yang ia tabrak.


"Kalau jalan pake mata." ujar Satria pura-pura terlihat kesal.


"Huh, jalan pake kaki kali, gila aja jalan pake mata." balas nya tanpa rasa takut sedikit pun.


"Masalahnya buat lo apa?"


"Ok, gue cuma mau kenalan sama lo." mengulurkan sebelah tangannya.


"Satria, cowok paling keren disekolah." ucap nya, yang membuat Stela melebarkan matanya seketika, tak menyangka jika laki-laki yang berdiri dihadapannya itu memiliki rasa percaya diri yang begitu tinggi, batinnya.


Meski ia akui ia memang begitu tampan, dan mempesona, namun sejak ia mendengar jika laki-laki itu seorang playboy yang suka bergonta-ganti wanita, Stela memutuskan untuk tidak akan pernah mendekatinya.


Tanpa mengatakan apa-apa, atau sekedar membalas jabatan tangannya, Stela melengos hendak melanjutkan langkah nya.


"Lo bisa minggir nggak sih?" protes nya, ketika Satria terus-terusan menghadang langkah nya.


"Kenalan dulu, baru gue biarin lewat." ucap nya, membuat Stela mendesah kasar, menatapnya kesal.

__ADS_1


"Gue rasa lo udah tahu nama gue, jadi buat apa kenalan."


"Ok, kalau gitu gue minta no hand phone lo!"


"Buat apa?"


"Ya buat telponan lah, lo pikir buat apa lagi coba?"


"Nggak ada."


"Ayolah, cuma nomor hand phone doang kan?"


"Lo kok maksa."


"Karena cewek suka dipaksa."


"Eit tunggu, lo nggak bisa pergi sebelum lo kasih gue nomornya." Satria kembali menahan tubuh Stela, yang kini di pepetkannya ke dinding lorong sekolah yang menyatu dengan kantin.


Beruntung keadaan sudah sepi karena hampir seluruh murid sudah memasuki kelas, karena lima menit lagi bel tanda masuk akan berbunyi.


"Lo apa-apaan sih, lepas nggak! atau gue bakalan teriak!" ancam Stela.


"Teriak aja, lo pikir gue takut masuk ruang BK, lo tenang aja gue udah biasa keluar masuk kesana." sahut Satria seraya tersenyum geli, sementara Stela begitu gugup setengah mati Saat merasa tubuh nya dengan Satria begitu mepet, bahkan wajah mereka kini hanya berjarak beberapa centi saja.


"Jadi gimana, lo mau nyerah!"


"Ok!" jawabnya dengan mata terpejam, kemudian menatap Satria dengan berani.


"Good girl!" Satria tersenyum penuh kemenangan, lalu memberikan benda pipihnya pada Stela.


"Jangan harap lo bisa bohongin gue!" lanjut nya memperingatkan, ketika Stela mulai mengetikkan nomor hand phone nya disana.


"Sial!" umpat Stela dalam hati, bagaimana laki-laki itu bisa tahu bahwa diri nya akan memberikannya nomor palsu.


*

__ADS_1


*


"


__ADS_2