Pesona Twins S

Pesona Twins S
Yang Kesekian kali


__ADS_3

Seorang laki-laki muda dengan pakaian rapi, tampak termenung duduk diatas motornya yang berada didepan gerbang rumah milik kekasihnya.


Sesekali ia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, dengan perasaan gelisah.


Ia merasa sudah hampir satu jam menunggu kekasihnya keluar, padahal ia baru saja sampai disana sepuluh menit yang lalu.


Untuk mengusir rasa bosan serta rasa tak sabarnya, ia mengambil sebatang rokok yang ia simpan di dalam saku jaketnya, kemudian memantik rokok tersebut, menyesap nya hingga mengeluarkan kepulan-kepulan asap yang bergelombang di udara.


Tersenyum, seraya menginjak benda tersebut, saat gadisnya keluar, dan berjalan kearahnya.


"Maaf ya lama, kamu kebiasaan sih! ngasih tahu mau jemput tapi udah didepan rumah." ujar gadis tersebut, dengan bibir yang sedikit mengerucut.


"Nggak lama kok, tapi akunya aja yang nggak sabar buat ketemu kamu." balas laki-laki yang tak lain adalah Satria dengan senyum gelinya.


Ya, laki-laki tersebut adalah Satria, yang sengaja datang sore-sore kerumah Stela, untuk mengajak ia jalan-jalan sekaligus mengajaknya untuk mengobrol serius.


*


Motor yang ditumpangi keduanya berhenti didepan sebuah Cafe yang tak jauh dari rumah Stela.


Memilih duduk di paling pojok untuk menghindari keramaian dari para pengunjung yang memenuhi Cafe tersebut.


"Aku pesen minum aja, tadi baru aja makan soalnya." ucap Stela saat Satria menyodorkan selembar menu kearahnya.


"Beneran, yakin udah?"

__ADS_1


"Iya, aku pesen ini aja, hot green matcha latte." Stela menunjuk salah satu menu minuman yang tersedia di Cafe tersebut.


Satria pun memanggil salah satu pelayan memesan dua gelas minuman yang sama, untuknya dan juga Stela.


"Kamu kenapa sih, kaya gelisah gitu mikirin apa?" ujar Stela setelah memperhatikan Satria yang hanya diam sembari mengaduk-ngaduk minuman yang beberapa menit lalu diantarkan oleh pelayan Cafe tanpa berniat meminumnya.


"Eh!" Satria tersentak, kemudian menatap Stela yang juga tengah menatapnya.


"Aku, a-ku_"


Satria menghela nafas kasar, untuk mengusir perasaan gugup yang bercampur bingung, ada banyak kekhawatiran dalam dirinya saat ini, bayangan penolakan Stela untuk dinikahinya beberapa waktu yang lalu membuat ia takut untuk mengulang perkataannya lagi, namun sekuat hati ia menahan rasa khawatirnya dan berdoa dalam hati berharap Stela mau mengerti.


Dan jika gagal! maka ia tak akan mengatakannya lagi, sampai Stela sendiri yang memintanya suatu hari nanti.


"G-gini yang, ayah lihat pas kemarin aku cium kamu."


Deg!


"T-terus?"


"Yang, sorry! tapi ayah minta supaya kita cepet nikah diwaktu dekat."


Deg!


Stela tak mampu berkata-kata, ia terperangah dengan tubuh membeku.

__ADS_1


"Yang?"


"Aku minta maaf, karena waktu itu aku nekat cium kamu, dan berakhir seperti ini, tapi yang_ kalau kamu keberatan dan nggak siap, aku akan berusaha buat bujuk ayah supaya nggak lagi menuntut kita cepet-cepet nikah."


Stela mendesah, memalingkan wajah kearah lain, hal ini memang cukup mengejutkan baginya, apalagi membahas soal pernikahan, ia tak memiliki kesiapan sedikitpun.


"Kenapa,? jawaban kamu masih tetap sama yang?" lanjut Satria dengan nada yang terdengar sendu, dari awal ia sudah mengira bahwa hal ini pasti akan terjadi lagi.


"Sat, kamu tahu kan kita masih sekolah, kamu juga! apa nggak ada pilihan lain selain kita harus menikah, lagian kita kan kemarin cuma_"


"Aku ngerti, kamu tenang aja! nanti aku bakalan coba ngomong baik-baik sama ayah." potong Satria, yang berusaha memasang senyum terbaiknya.


"Sat_"


"Abisin minumnya, soalnya aku baru inget kalau aku ada janji juga sama si Haikal, Andre, sama Adam."


"Kamu marah?" tanya Stela saat menyadari raut wajah Satria yang terlihat berubah dari sebelumnya.


"Marah kenapa, nggak ada hal penting kan yang bisa membuat aku marah."


Sontak jawaban Satria tersebut membuat Stela terdiam, menggigit bibir bawahnya, entah mengapa hatinya mendadak sakit.


Bukan hal penting, apa dirinya tak penting?


*

__ADS_1


*


__ADS_2