Pesona Twins S

Pesona Twins S
Mengalah


__ADS_3

"Gue mau ngomong!" ucap Satria ketus, saat berpapasan dengan Satya yang juga baru saja pulang dari kostan Mutia.


Satya mengangguk, membuka sepatunya, kemudian meletakannya di rak sepatu, mengekor mengikuti langkah Satria yang berjalan menuju ruang TV.


Satya mendaratkan tubuhnya di sofa yang berada diruang TV, melipat kedua tangan didepan dada seraya melihat kearah Satria yang berdiri membelakanginya menghadap kearah jendela.


"Jadi, lo mau ngomong apa?"


Satria mendesis, "Elo serius, mau married?'' tanyanya, tanpa menoleh.


"Sejak kapan gue suka main-main." jawab Satya seadanya.


"Ajig! jadi beneran? emangnya cewek lo udah siap, gue tahu dia baru kelas sebelas kan?" membalikan tubuhnya kemudian menghampiri Satya duduk berhadapan dengannya.


Satya mengerutkan dahinya, "masalahnya apa, dia udah setuju kok, ya kecuali kedua orang tuanya, tapi gue berharap mereka juga setuju kalau gue mau nikahin anaknya."


"Gue do'ain mereka kagak setuju."


"Lah, lo ngapa do'ain gue kek gitu?" Satya mendongak menatap saudaranya bingung.


"Harusnya lo sadar dong, disini gue abangnya, lo mau ngelangkahin gue, gue kagak terimalah!" memalingkan wajahnya kesal.


"Ya salah lo sendiri, kenapa juga kagak married dari dulu bukannya pacar lo banyak ya, makanya jangan cuma dijadiin koleksi doang!"


"Ajig, itu kan dulu."


"Ok, gini ya Sat, gue kagak masalah sih, kalau lo mau married duluan, tapi cewek lo yang sekarang mau nggak, kalau nggak sorry aja, gue harus tetap lanjutin rencana gue yang sejak awal gue rencanain."


Satria terlihat berpikir, mengajak menikah Stela memang bukanlah perkara yang mudah, terlebih gadis itu memiliki trauma perpisahan dari kedua orang tuanya, dan yang pasti gadis itu belum menerima ia sepenuhnya.

__ADS_1


Ditambah lagi dengan pandangan Stela mengenai dirinya yang menyandang status seorang playboy.


Semua itu jelas tidak mudah.


Satria menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, memejamkan matanya sejenak, kemudian membuka kembali kedua bola matanya, dan berakhir dengan menyentak nafasnya dengan cukup kasar.


Tak punya pilihan, selain merestui pernikahan saudaranya itu.


"Ok, untuk kali ini sepertinya gue ngalah, lo boleh married duluan." ucapnya dengan tatapan lurus kedepan.


Satya terlonjak, "Eh serius lo?"


"Hmmm." bergumam lirih.


"Gitu dong, thanks ya!" Satya melompat memeluk pemuda yang berstatus saudara kembarnya tersebut.


"Woy lepas! alergi gue pelukan sesama jenis." protes Satria saat Satya tak juga melepaskan pelukannya.


*


*


Dirumah sakit, setelah kepergian kedua orang tuanya yang meminta izin untuk makan dikantin rumah sakit, El mendekati sang istri dengan hati berbunga.


"Masih sakit?" tanya El, menatap Kinar istrinya yang baru saja berjuang melahirkan bayi kembar mereka dengan cara normal.


Kinar menggeleng kecil, menatap suaminya dengan sebuah senyuman.


Saat sedang mengalami kontraksi serta melahirkan keduanya tadi memang terasa sangat menyakitkan, namun rasa sakit tersebut seakan langsung sirna ketika melihat keduanya lahir kedunia dengan keadaan sehat dan selamat.

__ADS_1


Terlebih ia memiliki El sang suami yang begitu mencintainya dan selalu sabar menemani dan memperlakukannya dengan sangat baik.


"Abang jelek banget sih?" ucapnya sambil tertawa, pasalnya keadaan sang suami saat ini terlihat begitu mengenaskan.


Rambutnya acak-acakan, sementara beberapa kancing kemeja lepas dari tempatnya, begitupun dengan wajahnya terlihat kusam bekas air mata yang mengering.


El terkekeh, "Siapa coba yang udah buat aku kaya gini."


"Salah sendiri mau punya anak terus, ya resikonya begitu."


El semakin mendekat merapatkan tubuhnya ke ranjang pasien, "Aku rela kok dijambak dan di cakar terus setiap kamu melahirkan."


"Jadi, abang_"


El tersenyum misterius, "Iya, aku ingin nambah lagi, biar rumah kita rame." bisiknya.


"Abang ihs."


El kembali terkekeh, "Kenapa, lagian bikinnya juga gampang kok, enak lag_"


"Abanggggg!" menjerit dengan suara pelan, seraya mencubit tangan suaminya yang mulai melantur kemana-mana, sementara El semakin tergelak tak karuan.


El tak segan menggoda sang istri yang menurutnya tidak berubah sama sekali, Kinar tetap terlihat menggemaskan, dan selalu tersipu seperti saat ia baru menikahinya empat tahun yang lalu.


"Yang,?" El menatap istrinya lembut, tatapan yang sama, tatapan penuh cinta yang selalu El tunjukan setiap harinya pada Kinar, yang merupakan ratu dihatinya sejak hadir dalam hidupnya, dulu, kini, dan nanti hingga seterusnya.


"Terimakasih sayang, udah nemenin aku berjuang selama ini, memberi aku semangat dan dukungan dalam hal apapun, terimakasih banyak karena dalam waktu empat tahun ini, kamu udah ngasih aku tiga orang anak yang tampan dan cantik, juga sangat lucu-lucu, kamu wanita luar biasa, sungguh aku bangga padamu." ujar El membuat Kinar meneteskan air mata haru.


Tak ada kata yang keluar dari mulut Kinar, namun wanita yang baru saja bergelar ibu dari tiga anak itu, beringsut memeluk suaminya.

__ADS_1


*


*


__ADS_2