
"Baru aja melahirkan udah digodain istrinya?" sindir Nada yang tiba-tiba saja masuk tanpa disadari oleh keduanya.
"Eh, bunda?" El menoleh sambil tertawa, El yang kini bukanlah El yang pemalu seperti dulu, mungkin dulu El akan tersipu jika kepergok sedang menggoda istrinya, tapi tidak untuk sekarang, justru ia akan sengaja berlaku mesra didepan istrinya secara blak-blakan.
Membuat sang bunda terkadang berpikir bahwa cinta itu memang benar-benar buta dan membutakan, namun bagi Nada sendiri cinta lebih banyak hal positif nya dalam diri El, lebih membuatnya bersemangat dan menjadikan pemuda yang berstatus anak pertamanya itu menjelma menjadi laki-laki sejati yang penuh tanggung jawab.
"Sini Sus, taro sebelah sini aja." mengarahkan sang suster yang mendorong kereta bayi yang merupakan kedua anak El dan Kinar.
"Baik kalau begitu saya permisi bu, mari!" ucap sang Suster mengangguk sopan.
"Iya Suster terimakasih banyak."
"Sama-sama ibu."
Setelah kepergian sang Suster, Nada kemudian membungkuk, menatap kedua cucunya yang tengah membuka matanya, kedua bayi mungil dengan berat masing-masing 2,7 kilo gram itu mengedip-ngedipkan matanya lucu memperhatikan sesuatu asing yang berada disekitarnya.
"Disini terang ya nak, luas, nggak sempit lagi?" ucap Nada mengajak keduanya mengobrol, dan hal tersebut idak luput dari perhatian El.
Membuat El beranjak menghampirinya, "Hei anak-anak ayah kok pada bangun sih nak,?"
"Bosen dong yah bobo terus." Nada yang menyahut, mewakili keduanya.
"Sebentar lagi kita pulang ya, terus ketemu sama abang Gala."
"Lucu ya El, bunda jadi keinget Satria sama Satya kecil, nggak kerasa ya sekarang mereka udah segede itu, udah mau nikah lagi, ah rasanya baru aja kemarin dia bayi mungil begini."
"Kan sekarang udah ada gantinya kami berdua Oma." El menirukan gaya sang bunda, menyahut mewakili kedua putra putrinya.
"Mereka berdua paket komplit lho El, yang cowok persis kamu kecil, nah yang ceweknya mirip banget sama Kinar."
__ADS_1
"Iya dong, adil kan bun, nanti kalau anaknya mirip aku semua, bundanya ngambek, nanti bilangnya susah-susah melahirkan anaknya mirip ayahnya semua." ujar El yang kemudian terkekeh geli.
"Bisa aja kamu, oh iya ngomong-ngomong udah nyiapin nama buat mereka belum?"
"Udah dong."
Ya, sejak mengetahui bayi kembarnya yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan lewat USG beberapa kali, El dan Kinar memutuskan untuk segera mencarikan nama untuk mereka, sehingga ketika keduanya lahir, mereka tak lagi pusing untuk memikirkan nama apa yang cocok untuk kedua bayi kembarnya tersebut.
"Azzam Fernan Arsenio, dan Azzura Fernanda Arsenio."
"Gimana menurut bunda?"
Sang bunda tersenyum, kemudian kembali menatap kedua bayi mungil itu, "Jadi mulai sekarang Oma panggil kalian, adek Azzam, sama adek Azzura ya, iya?"
Sementara tidak jauh dari mereka, Kinar tampak tersenyum bahagia, sangat bersyukur karena selain memiliki suami yang baik ia juga memiliki mertua yang begitu perhatian dan menyayanginya sepenuh hati.
*
Pagi-pagi sekali, Satria bangun terlebih dulu, bahkan disaat rumah masih dalam keadaan sepi belum ada yang bangun, kecuali bi Sari asisten rumah tangganya.
"Aduhhhh!" Satria berjongkok saat sesuatu yang keras mengenai kepalanya.
Klik!
Bi Sari menyalakan lampu, dan terkejut bukan main, saat melihat Satria yang merupakan salah satu anak majikannya itu sedang meringis memegangi punggungnya.
Melempar panci yang dipegangnya ke sembarang arah, menutup mulut dengan kedua tangannya, lalu secepat kilat menghampiri Satria.
"Yaampun den, bibi minta maaf den, bibi kira tadi itu siapa, karena biasanya selain bibi jam empat subuh itu belum ada yang bangun, apalagi ngendap-ngendap begitu jalannya." ucap bi Sari gugup bersimpuh di sampingnya.
__ADS_1
"Jadi bibi kira saya ini maling?" tanyanya menoleh kearah bi Sari yang menundukan wajahnya.
"Ya abisnya aden jalannya ngendap-ngendap, mana didapur gelap lagi."
"Saya tadi nyari saklar bi, tapi nggak ketemu."
"Sekali lagi maafin bibi ya den."
"Iya deh iya, tapi bikinin saya sarapan ya bi, saya mau berangkat pagi soalnya."
"Jadi bibi udah di maafin den."
"Iya bi."
"Yaudah, bibi bikinin nasi goreng kesukaan aden ya."
"Ok."
Hanya membutuhkan waktu sepuluh menit, sepiring nasi goreng dengan toping telor ceplok tersaji diatas meja.
"Masih sakit ya den?" tanyanya sembari meringis, saat melihat Satria mengelus punggungnya beberapa kali.
"Nggak bi, paling cuma bengkok sedikit." jawabnya santai, membuat bi Sari memandangnya dengan mata terbelalak.
"Hah?"
*
*
__ADS_1