Pesona Twins S

Pesona Twins S
Lebih Dari Itu


__ADS_3

"Kenapa?" tanya Satria, saat melihat gadisnya yang semalam sudah ia buat tidak gadis lagi itu meringis beberapa kali saat hendak menuruni tempat tidur.


Memilih tak menjawab, Stela mengerucutkan bibirnya kesal, bisa-bisanya suaminya itu tidak peka dengan apa yang terjadi dengannya setelah apa yang ia lakukan semalam yang bahkan hingga hampir pagi tiba.


"Yang, serius kenapa?" tanyanya yang lagi-lagi tidak mendapatkan respon apapun dari Stela, hingga kedua matanya tak sengaja menangkap gerakan dari arah kedua paha Stela yang terbungkus selimut putih diluarnya.


Berjongkok tepat dihadapan sang istri, kemudian mendongak menatapnya hangat, "Apakah sakit?" tanyanya lembut, yang sontak membuat Stela menggigit bibir bawahnya antara bingung dan malu menjadi satu.


"Sakit banget yang?" lanjutnya yang terdengar ada nada khawatir didalamnya.


Stela mengangguk malu.


"Yaudah hari ini kamu nggak usah masuk sekolah dulu aja ya, istirahat!"


"Tapi Sat__?"


"Nurut aja kenapa sih yang?"


"B-bukan itu, aku mau kekamar mandi."


"Oh, bilang dong dari tadi.''


"Dasar nggak peka!" lirihnya seraya memalingkan wajahnya membuat Satria terkekeh.


"Sorry-sorry yang."


"CK, aku jadi begini juga karena ulah kamu." kesalnya, terlebih saat mengingat moment semalam, dimana Satria tak berhenti untuk melakukannya yang bahkan tak terhitung, bukan satu atau dua kalinya, padahal jelas-jelas ini merupakan yang pertama bagi Stela.


Satria kembali terkekeh, kemudian memeluk tubuh mungil dihadapannya.


"Maaf!"


"Ngeselin."


"Abisnya kamu bikin candu sih yang, jadinya aku nggak bisa berhenti buat ngelanjutin."


"Nyebelin."


Satria semakin tergelak, entah mengapa melihat istrinya yang cemberut seperti sekarang justru malah membuat nya semakin terlihat menggemaskan.

__ADS_1


"Aku anter kekamar mandi yang."


Tak sempat menolak, tubuhnya sudah terlebih dulu melayang, Satria menggendongnya kekamar mandi dalam keadaan tanpa sehelai benangpun, membuat ia terpekik, dan repleks menutupi bagian tubuh pentingnya.


Satria mengangkat sebelah alisnya, melihat tingkah Stela yang kini ia dudukan diatas closet.


"Kenapa harus ditutupin sih yang, aku udah lihat semuanya lho!" ucapnya membuat Stela salah tingkah dengan wajah bersemu merah.


"Euhmz_"


Satria mencondongkan wajahnya kearah wajah Stela, hingga ia dapat merasakan hembusan napas hangat Satria menerpa wajahnya.


"Terimakasih buat yang semalam yang, aku benar-benar puas." bisiknya, membuat tubuh Stela membeku dengan napas tercekat, jangan tanya bagaimana dengan perasaannya saat ini.


Malu! dan berdebar, di waktu bersamaan.


Ucapan sensual suaminya benar-benar membuat ia tak bisa berkata-kata.


"Mau sekalian aku mandiin yang?!" godanya, yang membuat Stela seketika tersadar dari lamunannya, kemudian mendorong pelan dada telan*jang suaminya agar menjauh.


"A-aku bisa sendiri."


"Satria."


"Iya-iya aku keluar." menyengir, saat mendapat delikan dari sang istri.


Satria melangkah mundur dengan terpaksa, dari pada nggak dapat jatah nanti malam, pikirnya. hal itu tentu lebih berbahaya baginya, lebih parah dibandingkan saat tidak mendapatkan jatah uang jajan dari sang bunda selama seminggu.


*


"Sat, udah gih berangkat! keburu siang." omel Stela, saat suaminya masih bergelayut manja memeluk tubuh Stela dari belakang, yang kini tengah menyisir rambut setengah basahnya didepan meja rias.


"Masih kangen yang, aku mau bolos aja ya!"


"CK, aku nggak mau punya suami modelan begini, bandel! males-malesan sekolah, kalau kamu kayak gini terus apa yang bisa aku banggain dari kamu coba." ia meletakkan sisir, beranjak dari duduknya kemudian berbalik menatap wajah Satria yang kini menunduk lesu.


Stela mendesah, menghela napas pelan, kemudian memeluk tubuh tinggi suaminya, "Sayang sama aku kan?"


Satria mengangguk dipelukannya, "Lebih dari itu."

__ADS_1


"Cinta?"


"Lebih dari itu."


"Mau membuat aku senang?"


"Tentu saja."


"Kalau begitu, mau melakukan apapun yang aku mau?"


"Iya."


"Apapun?"


"Apapun."


"Kalau gitu, sekarang kita kebawah, aku bikinin kamu sarapan, abis itu kamu berangkat sekolah."


"Tapi yang?" rengeknya, mengurai pelukan menatap Stela dengan wajah memelas.


"Kalau kamu nggak mau__"


"Iya iya, aku mau! tapi kasih aku hadiah dulu biar semangat ya."


"Hadiah apa?" tanyanya dengan kening berkerut, seperti anak kecil saja, pikirnya.


Tanpa kata lagi, Satria menarik tengkuk Stela, kemudian menyambar bibir mungil yang kini sudah menjadi candunya itu, memberi gigitan kecil, menyesapnya, kemudian melu matnya hingga bagian terdalam.


Merasa kurang puas, lidahnya menerobos memasuki area yang ia mau, bermain-main disana, dan setelah cukup lama, dan dirasa istrinya sudah hampir kehabisan napasnya, ia pun perlahan melepaskan nya dengan perasaan sedikit tidak rela.


Menge cup bibir itu sekali lagi, kemudian mengusap sisa salivanya yang tertinggal disana.


Dengan napas tersengal, serta raut wajah yang memerah menahan hasratnya, ia meraih tubuh Stela, untuk kembali memeluknya.


"I love you sayang."


*


*

__ADS_1


__ADS_2