Pesona Twins S

Pesona Twins S
Merasa bersalah


__ADS_3

Keduanya kembali terdiam hingga melanglang buana dengan pikirannya masing-masing, namun sesekali Cintya diam-diam memperhatikan pemuda dihadapannya yang memang sangat tampan, namun sangat muda juga.


Dulu! dulu sekali, ia pernah berharap memiliki menantu yang mapan, tegap, dan dewasa, seperti mas Adrian nya.


Ya, Adrian adalah sosok lelaki impiannya dulu, Laki-laki mapan, tampan dan penuh karismatik, namun karena sebuah kesalahan, ia harus kehilangannya.


"Udah lama kenal Stela?"


"Sekitar tiga bulan lebih ma."


"Sesingkat itu?" tanyanya tak percaya, dulu sewaktu ia memutuskan menikah dengan Adrian, ia membutuhkan waktu selama tiga tahun untuk lebih dekat dan saling mengenal satu sama lain, namun pada akhirnya kandas juga, lalu bagaimana dengan putrinya.


Tiga bulan?


Hanya tiga bulan, seumur menanam padi di sawah,? batinnya masih belum percaya.


"Betul ma."


"Baik, lalu apa yang membuat nak Satria jatuh cinta pada Stela?"


Untuk pertanyaan yang satu itu, Satria tampak tersenyum-senyum sendiri.

__ADS_1


"Ada banyak hal yang tidak bisa saya jelaskan, atau sebagai ibarat, yang pasti Stela itu cantik, mandiri, dan yang lebih menarik dari dia adalah sikap juteknya, namun setelah mengenal lebih dekat, ternyata dia begitu baik dan lembut."


"Dia juga pandai menyembunyikan luka dan kesedihannya sendiri, dia tidak suka dikasihani ataupun ingin agar orang lain iba terhadap dirinya, dia begitu berharga buat saya, dia gadis yang kuat."


Deg!


Cintya menahan nafasnya yang terasa tercekat di tenggorokan, bahkan kedua bola matanya kini telah memanas.


Ucapan Satria seolah memberi pukulan telak baginya, dia baru menyadari bahwa ia benar-benar telah menjadi seorang ibu yang gagal selama ini.


Jika Satria menganggap putrinya begitu berharga, lalu bagaimana dengannya sebagai seorang ibu yang telah melahirkannya kedunia.


"Ma, mama kenapa?" tanya Satria kebingungan, ketika mama mertuanya kini malah menunduk dengan isakan kecil yang terdengar pilu.


"Berjanjilah akan selalu menjaga Stela, putri mama dengan sebaik-baiknya nak, selama ini mama sudah menyia-nyiakan kehadirannya."


"Ma?"


"Mama bukan ibu yang baik kalau nak Satria mau tahu."


"Ma, semua ibu didunia ini adalah yang terbaik, jika tidak! tidak mungkin mama akan melahirkannya kedunia ini bukan?"

__ADS_1


"Betul! mama memang sudah melahirkannya kedunia, tapi bukan untuk memberinya kasih sayang, justru dengan hadirnya kedunia ini membuat dia sangat menderita, dan tidak terurus."


"Terlebih saat papanya kembali mendekati Lia Silviana mantan kekasihnya dulu, yang sudah berubah status menjadi janda, saat itu mama sangat kecewa, dan mama meninggalkan mereka begitu saja, bahkan saat itu Stela masih sangat kecil, tapi mama tidak peduli."


"Tapi, disini mama lah yang benar-benar bersalah, seharusnya dulu mama tidak pergi, seharusnya mama mempertahankan papanya Stela disisi mama, bukannya malah pergi dan memberi kesempatan Lia untuk mengambilnya."


"Ma?"


"Stela adalah satu-satunya bagian hidup mama, tolong jaga dia ya, bahagiakan dia."


Satria mengangguk mantap, "Saya akan berusaha semampu yang saya bisa untuk membahagiakan Stela ma."


"Terimakasih, mama percaya pada nak Satria." ucapnya dengan perasaan sedikit lega.


Sementara diambang pintu pembatas antara ruang tamu dan ruang tengah, Stela bersender di daun pintu dengan tangan bergetar, memegangi nampan berisi dua gelas minuman yang sudah beberapa menit yang lalu selesai ia buat.


Namun, ia mengurungkan niatnya untuk membawa keruang tamu saat mendengar percakapan antara sang mama dan suaminya.


*


*

__ADS_1


__ADS_2