
Setelah mendapatkan nasehat panjang lebar dari sang bunda beberapa bulan yang lalu, Cantika akhirnya memutuskan untuk tak lagi berharap pada seorang Albi Langit Perkasa.
Ia kini belajar mengikhlaskan yang memang seharusnya bukan miliknya, mengisi hari-hari hampanya dengan banyak kegiatan disekolah, sesekali ia mendatangi rumah kakaknya El, bermain bersama sikembar Azzam_Azzura, dan juga Gala.
"Si Mytha kenapa sih Al, perasaan dari kemarin itu anak lebih sering menyendiri gitu, diajakin ngobrol juga nggak nyahut." ujar Cantika, pada Alana sahabatnya yang kini tengah memilih beberapa buku di sebuah toko yang khusus menjual buku-buku pelajaran dan juga Novel.
"Kayaknya dia lagi ada masalah sama cowoknya gitu Tik, biasalah mereka kan udah sering kek gitu, putus nyambung! udah nggak aneh sih menurut gue."
"Iya juga sih! eh, gue kesana dulu ya." Cantika menepuk pundak sahabatnya sebelum kemudian berlari mengejar tukang es goyang yang melewati toko tersebut menggunakan gerobak.
Namun saat ia hendak memanggil sipenjual es, mulutnya yang sempat terbuka seketika mengatup kembali saat samar-samar mendengar suara seseorang yang akhir-akhir ini ingin ia hindari.
Kakinya perlahan mundur dengan kaku, saat mengetahui pasti bahwa tebakannya ternyata benar, di gang sempit sana seorang laki-laki yang begitu ia kenali dan tentu sangat ia puja itu tengah beradu ucapan dengan seorang gadis yang juga ia kenali meski hanya pernah sekali melihatnya.
"Jadi ini alasan kamu minta putus dari aku, kenapa? karena dia kaya, ganteng, atau karena punya segalanya?"
"Kalau iya kenapa?"
Hening..
Hanya sampai disana, beberapa patah kata yang mampu Cantika dengar dari mulut keduanya.
Hingga terdengar helaan napas berat dari laki-laki yang tak lain adalah Langit itu.
__ADS_1
"Yaudah, kalau itu mau kamu, berarti mulai saat ini kita resmi berpisah, hubungan kita sampai disini." lanjut Langit yang kemudian berlalu dari tempat tersebut.
Sementara Cantika yang berada disisi gang langsung melengos memalingkan wajahnya, beruntung Langit tak terlalu memperhatikan nya dan berjalan lurus menuju motornya kemudian melesat pergi begitu saja.
Ada banyak luka dan kekecewaan yang dapat Cantika tangkap dari raut wajah Langit saat melewatinya tadi, tanpa sadar hatinya pun ikut terluka merasakan kesedihan yang sama yang dirasakan oleh Langit saat ini.
Namun disisi lain, ada bagian sudut hatinya yang bersorak senang, saat mengetahui bahwa status Langit kini tak lagi memiliki kekasih, yang menandakan jika dirinya masih sangat banyak memiliki kesempatan untuk menjadi pacarnya.
Tak lama berselang, gadis cantik yang tak lain adalah Tita yang merupakan anak dari Helen sahabat sang bunda melewatinya, yang juga tak menyadari keberadaan nya disana, ia tampak sibuk mengobrol dengan ponsel yang menempel disisi telinganya.
"Abis dari mana sih?" tanya Alana, saat Cantika kembali kedalam toko, dengan bibir yang tak berhenti menyunggingkan senyuman.
"Niat hati mau beli yang seger, tapi gagal!"
"Es goyang sih tadinya, tapi nggak apa-apa kok." jawabnya yang kembali tersenyum dan berlari kearah rak mengambil buku-buku yang sudah ia ambil tadi dan membawanya ke kasir.
"Aneh, gagal tapi kelihatan seneng banget." gumam Alana bingung.
*
*
Seperti yang sudah ia rencanakan sebelumnya, sore ini Cantika mendatangi langsung rumah Langit yang berjarak dua puluh menit dari rumahnya jika ditempuh dengan kendaraan.
__ADS_1
Cantika sudah menyiapkan hatinya dari jauh-jauh hari jika seandainya Langit menolak perasaannya hari ini.
Semangatnya seketika menciut, ketika ia tiba dirumah Langit, dan melihat laki-laki yang sangat ia sukai itu tengah berada di taman depan, sedang mencuci motor kesayangan nya.
"Nanggung kalau balik lagi, ya kali udah sampai sini, masa gagal!" gumamnya seraya mengepalkan kedua tangannya, memberikan diri sendiri kekuatan.
Melangkah pelan mendekat kearah Langit, membuat laki-laki tersebut menatapnya dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan kening berkerut.
"Tika? ada apa, kesini sama siapa?" tanyanya, celingukan mencari-cari sosok lain yang datang bersama Cantika.
"Sendiri bang."
"Sendirian,?" ia semakin bingung dibuatnya.
Cantika mengangguk, kemudian semakin mendekat kearah Langit, mendongak saat jarak diantara mereka hanya tersisa beberapa centi saja.
"Bang,?" ia menggigit bibir bawahnya, tanpa mengalihkan tatapannya dari Langit.
"Aku_ aku suka sama abang, abang mau nggak jadi pacar Cantika?"
*
*
__ADS_1