Pesona Twins S

Pesona Twins S
Protes


__ADS_3

Setelah sang bunda memperkenalkan Mutia dihadapan keluarga, Satya pun bergegas membawa gadisnya untuk pulang.


Keduanya tak sempat melihat si twins, karena kedua bayi lucu itu tengah mendapatkan perawatan, untuk memastikan bahwa ia dalam keadaan benar-benar sehat, karena rencananya sore ini keduanya akan segera dibawa pulang kerumah.


*


"Aku anterin kamu kedalem ya!" ucapnya, saat keduanya baru saja turun dari Taxi, tepatnya didepan kostan Mutia.


Satya merasa khawatir karena luka di kaki Mutia memang lumayan parah, dan ia yakini akan terasa sangat sakit jika dibawa untuk berjalan, terlebih disini tidak ada kursi roda seperti di rumah sakit tadi.


"Nggak ngerepotin,?" tanyanya tak enak.


"Nggak sama sekali, lagian siapa sih yang nggak mau direpotin calon istri." jawabnya yang tanpa ia sadari membuat wajah Mutia merona, dengan jantung yang berdebar kencang.


"Ayo." menggendong tubuh gadisnya, setelah berhasil membuka pintu kostan, dengan kunci yang diberikan oleh Mutia.


Mendudukan Mutia di atas sofa, kemudian berlutut dihadapannya.


"Sekarang gendongnya nyampe sofa dulu ya, nanti kalau udah nikah baru gendongnya nyampe kasur." ujar Satya yang disertai kekehan kecil.


"Apaan sih kak?" mencubit pelan tangan Satya, membuat laki-laki dihadapannya itu meringis kecil.


"Eh sakit ya,?" repleks Mutia mengusap bekas cubitan nya.


"Nggak kok, enak malah!"


"Ihs apaan sih kak!" memalingkan wajahnya yang kembali merona.


Satya tergelak, "Jadi pengen cepet-cepet halal." gumamnya, seraya berdiri menuju sudut ruangan, mengambil segelas air putih dan memberikannya pada Mutia.


"Banyakin minum air putih biar nggak dehidrasi." ucapnya, mengusap puncak kepala Mutia, kemudian menyimpan kembali gelas yang airnya tersisa setengah tersebut.


"kak?"

__ADS_1


"Hmmm."


"Tadi itu_ itu beneran kembarannya kak Satya?" tanyanya penasaran.


"Satria maksudnya?"


"I-iya, kok bisa sih kalian wajahnya sama persis?"


Satya tersenyum, kemudian kembali berlutut dihadapan Mutia, meraih kedua tangan yang selembut tangan bayi itu, kemudian menggenggamnya.


"Sayang?"


Deg!


"Meskipun wajah kita berdua sama, tapi kamu bisa bedain kan, kalau aku sama dia nggak akan ketuker?"


Terlihat Mutia berpikir sebentar, kemudian menggelengkan kepalanya.


"Masa sih, yakin?"


"Yakin dong!"


"Gimana cara bedainnya coba?"


Mutia membisu, namun detik kemudian ia mengarahkan tangan Satya untuk menyentuh dadanya.


"Dengan ini."


Deg!


Tubuh Satya mendadak lemas seketika, saat tanpa sengaja ujung jarinya menyentuh sesuatu yang berharga milik Mutia.


*

__ADS_1


*


Sementara itu setelah kepergian sepasang kekasih yang baru saja keluar dari sana, disalah satu ruangan yang berada dirumah sakit Cahaya Cinta, mendadak hening, kemudian para penghuni ruangan tersebut menatap wanita cantik yang berstatus empat anak yang tak lain adalah Nada, dengan tatapan penuh tanya.


"Bunda, maksudnya apaan sih, menantu? menantu gimana, siapa yang mau nikah?" sergah Satria dengan nada bicara yang terdengar kesal.


"Maksudnya bunda apa sih, kita perlu bicarakan ini bun, jelasin!" lanjut Satria.


Sedangkan El, Cantika dan Kinar memilih untuk diam mendengarkan penjelasan dari sang bunda.


Nada memandangi putra-putri serta suaminya bergantian, kemudian menghela nafas beberapa kali sebelum kemudian menceritakan semuanya.


"Jadi, Satya udah punya pilihan untuk dijadikan teman hidupnya, dan dia mutusin buat nggak pacaran."


"Jadi, intinya_"


"Kamu diam dulu dong Sat, dengerin bundamu ngomong sampai selesai." sela Ando, saat putra keduanya itu hendak kembali mengutarakan sesuatu yang memenuhi pikirannya.


"Jadi, Satya ingin menikahi Mutia." jelas Nada.


Deg!


"Nggak bisa gitu dong bun, aku ini abangnya, masa Satya yang harus nikah duluan." protes Satria beranjak dari sofa dengan raut wajah tidak bersahabat, membuat Nada kebingungan.


"Ok gini aja Sat, ayah kasih kamu solusi, kalau kamu nggak mau dilangkahin sama adek kamu, Kira-kira kalau kamu yang nikah lebih dulu bisa memangnya? pacar kamu mau diajak nikah muda,?"


"Terus kamu sendiri udah siap ninggalin semua kebiasan buruk kamu dengan bermain-main bersama puluhan gadis-gadis diluar sana, jika kamu bisa dan bersedia, maka ayah akan ngasih Satya pengertian supaya dia yang mengalah." Ando mencoba memberikan solusi terbaik, agar kedua putranya tidak saling bermusuhan hanya gara-gara soal siapa yang harus menikah lebih dulu.


"Gimana bisa nggak Sat?" lanjut Ando, saat putra keduanya itu memilih diam, dengan wajah menunduk.


*


*

__ADS_1


__ADS_2