Pesona Twins S

Pesona Twins S
Auristela Ayudia Putri


__ADS_3

Seperti janjinya pada sang bunda, siang ini Satria benar-benar datang ke DenadaCafe dan memberi tahu seluruh karyawannya bahwa mulai hari ini, ia adalah atasan mereka.


Dan kabar tersebut tentu saja membuat beberapa karyawan perempuan turut antusias menyambut kehadirannya, bos muda dengan sejuta pesonanya, yang mampu menghipnotis hati mereka semua.


"Mas, seriusan kan nggak kaya waktu itu, sehari langsung minggat!" ujar Winny ketika keduanya tengah mengobrol diruangan yang akan menjadi ruangan pribadi milik Satria.


"Nggaklah kali ini serius dong."


"Ok, semangat! kalau gitu mbak pamit dulu ya, biasa mau nganter si Arif." pamit Winny, yang mendapat anggukan kecil dari Satria.


Satria pun mulai belajar beberapa point penting yang dineritahukan Satya tentang mengelola Cafe.


Dan kini sedikit-sedikit ia mulai mengerti.


"Mir, tolong bawain minum kedepan ya, saya tunggu!" ujar Satria pada salah satu karyawannya yang bernama Mira.


"Baik mas!" jawab gadis tersebut dengan senang hati, bagaimana ia tidak merasa senang saat bos muda tampannya itu meminta tolong padanya.


Sembari menunggu minumannya jadi, Satria memilih duduk dan iseng-iseng membuka aplikasi salah satu sosial media yang akhir-akhir ini sering ia lihat.


Tertegun selama beberapa detik, saat foto pertama kali yang ia lihat adalah gadis yang membuatnya selalu penasaran.


"Auristela Ayudia Putri." gumam nya, membaca caption yang terletak di bagian bawah pict, repleks ia pun melihat kearah sebrang tepat di sebuah butik milik Stela.


Memalingkan wajah, saat melihat gadis yang dilihatnya disosial media beberapa detik yang lalu itu kini tengah menyebrangi jalan, dengan langkah yang mengarah ke Cafe nya.


Dan benar saja, Stela memasuki Cafe dengan mata yang fokus menatap layar pintar di genggamannya, dan Satria berani bertarung dengan belut bersayap, bahwa Stela tidak menyadari kehadirannya.

__ADS_1


"Mbak kopinya enam ya," ujarnya sembari menunjuk menu yang terpajang disamping kasir.


"Baik kak."


Hanya butuh waktu tiga menit saja, pesanannya pun sudah jadi.


Setelah membayar enam cup kopi yang dipesannya, Stela pun bergegas keluar untuk kembali ke butik miliknya, namun belum sempat ia menyebrang, tangannya lebih dulu tertahan oleh seseorang.


Ya, dia adalah Satria, seseorang yang sejak tadi tak sedikitpun mengalihkan perhatiannya dari Stela.


"Lo_" pekik Stela.


"Ste, gimana? lo udah pertimbangin belum ucapan gue yang kemarin?"


"Y-yang mana?"


"S-sorry, gue musti anterin kopi nya entar keburu dingin." menunjukan paper bag yang dibawanya.


"Ste_"


Stela pun bergegas menyebrangi jalan tanpa mempedulikan Satria yang berusaha memanggil-manggil namanya, membuat ia mendesah frustasi.


"Argghhh, gila! gue beneran ditolak, untuk pertama kalinya, Ck! tapi, gue nggak akan nyerah, lihat aja Ste gue pasti dapetin lo, gimana pun caranya." gumam Satria sembari menyunggingkan sebuah senyuman.


*


*

__ADS_1


"Lo lagi?" desis Stela, saat sore ini mendapati Satria tengah menunggunya didepan butik.


"Iya, ayo naik!" menunjuk menggunakan dagunya kearah belakang kuda besi yang saat ini ditungganginya.


"Nggak mau."


"Ste, lo nggak kasihan sama gue?"


"Nggak wajib kan?"


Anjirr, susah banget sih ngerayu ni cewek satu, batin Satria mulai frustasi.


"Gimana kalau disekolah besok gue umumin kalau kita udah pacaran." senjata terakhir Satria, dan berharap kali ini akan berhasil.


"Lo nyebelin banget sih."


"Lo naik ke motor gue, atau besok gue umumin kalau kita pacaran, serah lo mau milih mana."


"Gue bilang nggak mau!"


"Gue nggak main-main Ste."


"Lo_" Stela mendesah kasar, memejamkan mata menarik nafas kemudian menghembuskannya secara perlahan, berusaha meredam emosinya yang terasa sudah naik ke ubun-ubun.


"Ok, gue naik! awas kalau besok ngomong sembarangan." ucapnya menggerutu, sembari mulai menaiki motor gede milik Satria.


.

__ADS_1


.


__ADS_2