Pesona Twins S

Pesona Twins S
Rencana ke Bandung


__ADS_3

"Maukah menikah denganku?"


Deg!


Stela membelalakan matanya tak percaya mendengar ucapan yang baru saja dilontarkan oleh Satria yang mengajaknya untuk menikah.


Gila, benar-benar gila! bagaimana bisa ada laki-laki semacam Satria di dunia ini, seorang murid SMA yang memiliki pemikiran untuk menikah di usianya yang masih sangat muda, sulit dipercaya!


Terlebih perkenalan mereka berdua terbilang singkat, bahkan ia sendiri belum menerima Satria sebagai pacar yang sepenuhnya batin Stela.


Stela menarik tangannya dari genggaman Satria, memalingkan wajahnya kearah lain, bingung! tentu saja, apa yang musti ia jawab, batinnya berkecamuk.


Sementara Satria memandangi kedua tangannya, kemudian menunduk lesu, melihat reaksi Stela yang seperti itu, tentu membuatnya menyimpulkan sendiri atas jawaban dari pertanyaannya itu.


Satria menyentak nafas, mengusap kasar wajahnya, kemudian berdiri dengan susah payah.


"Maaf Ste! mungkin aku terlalu terburu-buru dan membuat kamu syok, aku akan menunggu sampai kamu siap aku nikahi, kalau kamu bertanya-tanya apakah aku cuma main-main, maka jawabannya salah!"

__ADS_1


"Aku serius!" sambungnya.


Lagi-lagi Satria menghela nafas, sembari menatap tubuh Stela yang kini membelakangi nya.


"Ternyata setelah aku pikir-pikir bergonta-ganti pacar tak cukup memberiku kebahagiaan, yang ada justru membuat hidupku rumit, karena di setiap kesempatan aku selalu dipertemukan kembali dengan mereka di berbagai tempat, dan hal itu cukup membuatku muak!"


"Ste, apapun yang aku lakukan di masa lalu, aku harap tak membuatmu untuk pergi jauh dariku, karena harus kamu tahu aku benar-benar nggak bisa kehilangan kamu."


"Kamu boleh tak menerimaku saat ini, aku bisa menunggu, tapi ku mohon jangan pernah berpikir untuk pergi meninggalkanku."


Setelah mengatakan hal tersebut, Satria melangkahkan kakinya keluar, namun ketika sampai diambang pintu pembatas antara dapur dan ruang tengah, langkah kakinya terhenti.


namun, tak berselang lama Stela keluar menyusulnya tanpa mengatakan sepatah katapun, mengekor dibelakang Satya menuju motor gedenya terparkir.


Sepanjang perjalanan menuju sekolah, keduanya hanya diam tanpa ada yang mau memulai percakapan terlebih dulu, berulang kali Satria menunduk, berharap Stela akan melingkar kan kedua tangan diperutnya.


Namun ternyata harapannya tak menjadi nyata, karena hingga keduanya sampai di gerbang sekolah Stela enggan untuk berpegangan, ataupun menyentuh bagian tubuhnya yang lain.

__ADS_1


"Aku ke kelas duluan." ucapnya lirih, membuat Satria menghela nafasnya.


*


*


"Kamu yakin Sat, nggak perlu ditemenin ayah atau bunda.?" sang bunda bertanya untuk yang kesekian kalinya, saat tahu putra ketiganya itu berniat menemui orang tua Mutia yang berada di Bandung sebelum resmi melamarnya.


''Nggak bun serius, nggak apa-apa! nanti aja kalau udah waktunya, pasti aku sendiri yang akan meminta bunda dan ayah untuk datang kesana." jawab Satya yang pagi ini sudah terlihat rapi, mengenakan celana jeans hitam, dengan atasan hoodie berwarna abu muda.


"Yaudah, kalau ada masalah dengan keluarganya, kamu bisa langsung hubungi bunda, biar bunda yang bicara baik-baik dengan mereka." sambung Nada, ia merasa tidak tenang membiarkan putranya menghadapi keluarga Mutia tanpa ada yang mendampinginya.


Terlalu banyak yang ia khawatirkan, salah satunya khawatir jika mereka menganggap Satya telah mengambil sesuatu berharga milik Mutia, hingga membuatnya ingin menikahi Mutia di saat mereka masih sama-sama sekolah.


"Iya bun, siap!" menyalami sang bunda dan mencium sebelah pipinya, kemudian berakhir dengan memeluknya.


"Do'ain ya bun semoga mereka nerima aku, dan ngijinin aku buat menikahi Mutia secepatnya."

__ADS_1


*


__ADS_2