
Pagi ini seisi rumah dibuat panik oleh teriakan Satria, saat melihat sang istri yang meringis beberapa kali dengan cairan bening yang mengalir di ujung kakinya.
"Yaampun Sat, kenapa sih? bisa nggak ngomongnya pelan-pelan, udah kayak dihutan aja kamu ini." ujar sang bunda yang baru saja keluar dari kamar sembari menguncir sembarang rambutnya saat mendengar teriakan Satria didepan pintu kamarnya
"Itu Bun, Stela Bun."
"Stela kenapa?" mendadak ia pun ikut panik mengingat kandungan Stela yang memang sudah memasuki usia sembilan bulan.
"S-stela ngompol Bun."
"Hah?!" sontak Ando yang berada dibelakangnya ikut melongo, begitupun dengan Nada.
"Kamu ini ah, masa iya Stela ngompol, udahlah biar bunda yang periksa."
Nada melangkah cepat menuju kamar dimana Stela berada, ia terkejut bukan main saat melihat cairan bercampur darah diujung kaki Stela yang sudah menggenang mengenai lantai.
"Yaampun nak, sepertinya kamu mau melahirkan, Sat cepat siapkan mobil kita kerumah sakit sekarang! jangan lupa siapkan juga perlengkapan bayi kalian." titahnya, karena bi Sari sedang pulang kampung menengok adiknya yang tengah dirawat.
"I-iya Bun."
"Sabar ya nak." ujar Ando yang membantu memapah Stela bersama Nada.
"Sat, cepetan! bunda tunggu di mobil." ucap Nada dengan suara yang sedikit meninggi, saat Satria tak kunjung keluar dari kamarnya.
*
"Sepertinya bukaannya sudah lengkap Bu, jadi kami akan segera membawa mbak Stela ke ruang persalinan ya." seru seorang dokter wanita yang akan membantu proses persalinan Stela.
Nada mengangguk, "Baik dok, tolong lakukan yang terbaik untuk menantu dan kedua cucu saya."
"Doakan ya Bu." sambung sang Dokter ramah, kemudian memasuki ruang bersalin terlebih dulu, sementara beberapa suster tampak sigap membantu Stela untuk berjalan menuju ruangan tersebut.
"Sat, temani istrimu berjuang ya, oh iya sekalian peralatan nya dibawa kedalam."
"Coba bunda lihat, kok sedikit banget perasaan." Nada menarik paperbag dari tangan Satria, kemudian menghela napas kasar, menatap sang anak dengan tatapan yang sulit terbaca.
"Ini bawa popok sama bajunya kenapa cuma satu-satu sih, anak kamu kan dua."
Satria meringis, sembari menggaruk tengkuknya dengan wajah frustasi.
__ADS_1
"Yasudah lah Bun, kita coba cari didepan ada kan tadi yang jual peralatan bayi." ujar Ando menengahi.
"Ya mau gimana lagi, yaudah Sat, kamu temani Stela ya, didepan sini ayah nungguin kalau ada apa-apa! bunda mau kedepan nyari peralatan bayi yang lain, kamu sih!"
"I-iya Bun."
*
*
Satria memasuki ruang bersalin, dengan tatapan sedih menatap sang istri yang terlihat lemah, seraya memegangi perut buncitnya, dengan ringisan kecil.
"Bantu semangatin istrinya ya mas.'' ujar Dokter yang kini tengah memakai sarung tangan karet, bersiap untuk membantu kelahiran bayi Stela.
"I-iya Dok."
"Mbak Stela, relax ya! dan ikuti saya, tarik nafas dalam-dalam, hembuskan."
"Tarik nafas, dorong."
"Ayo sayang, kamu kuat! kamu wanita hebat, ibu yang hebat." bisik Satria di telinga Stela, dengan suara bergetar.
Sebenarnya ia sangat tak tega melihat sang istri yang terlihat begitu kesakitan, dengan peluh yang bercucuran didahinya.
"Abang, sakit!"
"Iya sayang, aku tahu."
Satria tak mampu lagi menatap wajah istrinya, ia menelungkup kan wajahnya disisi kepala Stela, tanpa melepaskan genggaman nya dari tangan Stela.
Hingga suara tangis bayi pertama mereka terdengar merdu memenuhi ruangan tersebut, yang sontak membuat Satria bangkit dengan wajah tak percaya.
Bayi kecil dengan warna kemerahan itu terlihat nyata di depan matanya, dan tanpa ia sadari kedua pipinya telah basah dengan lelehan air bening, sambil bergumam lirih.
"Anakku."
Setelah memberikan jeda sebentar, Dokter menyuruh Stela untuk kembali bersiap melahirkan satu bayinya yang kini sudah siap menyusul sang kakak.
Dan setelah Stela berhasil melahirkan keduanya, Satria kembali menghujaninya dengan ciuman bertubi-tubi.
__ADS_1
"Kamu wanita terhebatku, terimakasih sayang! terimakasih."
*
*
"Duh gantengnya ponakan Aunty, tapi kok nggak mirip ayahnya ya, lebih mirip ke bundanya." ujar Mutia yang kini tengah menggendong bayi pertama Stela dan Satria yang di beri nama Zahran.
"Yah lebih bagus begitu, biar Satria nggak cemburu sama Satya, muka mereka kan sama." sahut Nada, dengan kedua tangan yang sibuk memakaikan popok untuk anak kedua Stela yang bernama Zayyan.
"Iya Bun, bunda benar! nanti kalau mirip ayahnya malah jadi mirip om nya juga." Mutia terkekeh kecil.
"Tapi kok aku ngerasa nggak adil ya, mereka kek nggak mau ngakuin aku sebagai ayahnya." ucap Satria dengan wajah yang ditekuk.
"Husshhh.. kamu ini, namanya anak bayi wajahnya masih berubah-ubah, siapa tahu suatu saat malah mirip kamu." jelas Nada.
"Emang bisa gitu ya Bun?"
"Bisa lah, dulu aja waktu kamu kecil banyak yang bilang mirip bang Salman, tukang rujak langganan bunda yang sering mangkal di gang depan itu."
"Kok bisa, dia sering ngintip kali Bun, aku pernah denger dari orang, kalau anaknya mirip orang lain berarti orang itu sering mengintip_"
"Hushhh.. kamu ini ngomongnya."
"Aku kan cuma ngomongin apa yang sering aku denger Bun."
"Makanya punya kuping itu, jangan dibiarkan liar."
"CK, emangnya hewan peliharaan Bun dibiarin liar segala."
"Aduhh cucu Oma, udah mandi udah ganteng, lihat tuh dek ayah kamu, nyebelin banget kan, nanti kalau udah besar Dede jangan ngikutin jejak ayah ya, jelek banget soalnya." ujar Nada mengajak berbicara seraya menciumi cucunya yang beberapa menit lalu baru saja selesai ia mandikan.
Mereka kini tengah berkumpul dirumah Stela dan Satria, untuk membantu mengurus si kembar karena Stela belum berpengalaman terlebih saat ini kondisinya masih dalam keadaan sakit karena sehabis melahirkan.
Enam jam setelah kedua bayinya lahir, Stela di perbolehkan pihak rumah sakit untuk pulang, dan melakukan rawat jalan dari rumah.
"Cepet nyusul gue dong Sat, masa kalah sama gue." ujar Satria menggoda Satya yang tampak gemas menjawil hidung mungil baby Zahran yang tampak anteng dipangkuan Mutia.
"Nggak usah dengerin abang kamu Sat, karena memiliki anak itu bukan ajang perlombaan, harus ada pertimbangan dan kesiapan dari calon orang tua, lagian kalian masih muda kok, nikmatilah waktu berdua dulu." ujar sang bunda, membuat Satya tersenyum, seraya mencibir kearah Satria.
__ADS_1
*
*