Pesona Twins S

Pesona Twins S
Resepsi pernikahan 3


__ADS_3

"Bukan senjatanya yang bengkok sebenarnya, tapi otaknya!" lanjut Andre yang disertai kekehan kecil.


"Pada makan sana, jangan ghibah didepan calon anaknya si Satria mulu, khawatir pikiran sucinya terkontaminasi nantinya." seru Adam menarik kedua sahabatnya menuju meja prasmanan, sedangkan Langit sejak tadi sudah tak terlihat entah kemana.


Diatas panggung sana, group band legendaris TheArcturus tampak kompak memegangi alat musik bagiannya masing-masing, si vokalis tampan yang terkenal pada masanya pun tampak masih gagah dengan setelan jas serba hitamnya yang kini menyanyikan sebuah lagu


I Wanna Grow Old With You: Westlife.


*


Another day without your smile


Another day just passes by


And now I know


How much it means


For you to stay right here with me


*

__ADS_1


Suara tepuk tangan terdengar riuh rendah saat mereka usai menyanyikan sebuah lagu yang kebanyakan dari mereka sangat menghafalnya.


Dimata mereka, TheArcturus sejak dulu hingga kini masih tetap sama.


*


Di ujung taman yang sedikit berjarak dari acara pesta berlangsung, seorang laki-laki yang tak lain adalah Langit, duduk seorang diri dengan tatapan lurus kedepan.


Bibirnya yang sedikit tebal dengan warna merah sedikit kehitaman tampak bergerak beberapa kali menyesap benda berasap yang terselip di jarinya.


Sesekali ia mengacak rambutnya, membiarkan rambut yang semula tertata rapih tersebut kini sedikit berantakan.


mirip seperti seseorang yang tengah frustasi.


Ingin rasanya ia bertemu dengan Cantika saat ini juga, untuk bertanya langsung padanya, sekaligus memastikan bahwa pendengarannya tidak sedang bermasalah.


Berulangkali ia memutar otak, menerka-nerka kemana gadis itu pergi, dan karena alasan apa dia pergi.


Namun, rasa penasarannya ia tepis, terlebih saat mengingat selama lebih dari tiga bulan ini Cantika tak pernah lagi menghubunginya, bahkan untuk sekedar mengiriminya pesan singkat.


"Dasar gadis labil memang." gumamnya, seraya menginjak rokoknya yang tersisa setengah.

__ADS_1


Langit beranjak dari duduknya, hendak berpamitan pada Satya dan Satria, hingga tak sengaja pandangannya teralihkan pada sebuah sosok yang berdiri dibalkon dengan kedua mata yang juga tengah menatapnya.


Namun tak berselang lama sosok itu menghilang dibalik pintu, membuat Langit menghela napas pelan.


*


Pagi ini keberangkatan Cantika ditemani keluarga tercinta, Nada dan Ando, El, Satria dan juga Satya ikut mengantarnya hingga Jogja.


Disana Ando membeli sebuah rumah sederhana, namun masih terbilang sangat nyaman untuk dijadikan tempat tinggal Cantika selama beberapa tahun kedepan, tak hanya itu ia menempatkan satu orang asisten rumah tangga, dan satu orang sopir untuk membantu mengurus segala keperluan putrinya selama disana.


Memiliki satu-satunya anak gadis membuat Ando dan Nada menyiapkan segalanya dengan matang, terlebih saat ini putrinya baru berusia enam belas tahun, yang dimana sedang rawan-rawannya kasus kenakalan anak remaja.


Awalnya mereka pun tak setuju jika putrinya berada jauh dari jangkauan nya, namun saat melihat raut kesedihan diwajah putrinya yang tidak biasa mereka lihat, akhirnya keduanya terpaksa menyetujui.


"Pokoknya jangan merasa karena bunda jauh dari kamu nak, kamu bisa melakukan hal apapun yang kamu inginkan disini, bunda pastikan bahwa bunda akan mengetahui tentang hal apapun yang kamu lakukan setiap saat." ujar Nada, memperingati.


"Ayah juga mengirimkan seseorang untuk selalu menjagamu dari kejauhan." timpal sang ayah.


"Ayah bunda, Tika udah gede ngapain coba dijagain ihs." keluhnya tak setuju, namun saat sang ayah tak lagi mengatakan apapun, itu tandanya ucapan nya tak ingin dibantah, dan mau tidak mau ia pun hanya pasrah menuruti keinginan kedua orang tuanya.


*

__ADS_1


*


__ADS_2