Pesona Twins S

Pesona Twins S
Bolehkah?


__ADS_3

"Dek ayok, malah ngelamun ah! Abang mau ke Cafe lho siang ini." Satya menarik tangan Cantika yang sedikit terasa kaku.


Sementara itu Cantika yang masih terpaku menatap sosok didepannya, sedikit terlonjak saat sang abang mulai menarik tangannya semakin kencang.


Keduanya kembali menaiki motor, bergegas untuk pulang.


"Dek?"


"Dek, denger nggak sih Abang manggil." ujar Satya gemas.


"Euhmz iya bang." jawabnya yang terdengar malas, membuat Satya mendesah bingung.


Sejak kepulangan dari rumah sahabat bundanya itu Cantika lebih banyak diam, tidak banyak bicara seperti biasanya.


"Mau mampir dulu didepan bentar, ada es tebu kesukaan kamu lho dek."


"Terserah Abang aja."


"Yaudah kita berhenti dulu disana."


Satya menepikan motornya tepat disamping warung tenda yang menjual es tebu yang dibandrol dengan harga lima ribu rupiah per gelasnya.


"Bang, es tebunya dua ya, diminum disini." ucapnya yang diangguki si Abang penjual tebu tersebut.


"Sini duduk!" Satya menepuk kursi panjang yang terbuat dari bambu yang disediakan sipenjual, khusus untuk pelanggan yang meminum langsung es tebunya disana.


"Kamu kenapa sih dek, lagi kedatangan tamu?" tanyanya, yang dijawab Cantika dengan gelengan kepala.


"Terus?"


"Nggak ada."


"Nih minum dulu.'' menyodorkan segelas es tebu yang baru saja selesai dibuat.


"Bang?"


"Kenapa, cerita sama abang kenapa dek?"


"Umz tadi itu_" Cantika menunduk kemudian menarik napas, dan mengeluarkannya lewat mulut.


"Abang kenal kan sama bang Langit?"


"Langit,? langit yang ada dirumah tante Helen tadi?"

__ADS_1


Cantika mengangguk cepat.


"Kenal lah, dia kan sekarang satu kampus sama abang.'' jawab Satya santai, berbeda dengan Cantika yang langsung mematung dengan kedua mata terbelalak.


"Bang ih, Abang serius?!"


"Apanya?" Satya yang tak mengerti, menggerenyit bingung.


"Itu, tadi_ tadi abang bilang! bang Langit satu kampus sama abang, bukannya di di Jogja ya."


"Itu kan dulu waktu dia sekolah SMA, karena dapet beasiswa, ya disini juga kurang lebih begitu sih yang abang denger."


"Jadi_"


"Kenapa nanya-nanya,? jangan bilang naksir kamu ya, dia udah punya pacar, nah yang tadi kayaknya pacarnya, soalnya Abang sering lihat mereka berdua boncengan, bisa jadi sih yang tadi itu anaknya tante Helen."


"Tapi kan baru pacar bang, belum jadi istri, kata orang juga sebelum janur kuning melengkung masih milik bersama, jadi Tika masih banyak kesempatan."


"Anak kecil, ngomongnya ngelantur." mengacak gemas rambut sang adik, "pulang yuk!"


Satya beranjak membayar minuman mereka terlebih dahulu, sementara Cantika berjalan menuju motornya dengan bibir mengerucut.


*


*


"Bun?"


"Masuk nak." jawab Nada yang tampak sibuk merapikan beberapa pakaiannya kedalam lemari.


Tak mengatakan apapun, Cantika memasuki kamar tersebut, kemudian memilih duduk disisi ranjang dengan kedua kaki menggantung, menunggu sang bunda menyelesaikan pekerjaannya.


"Gimana, tadi ketemu sama tante Helennya?" tanya Nada menoleh sekilas, sebelum kemudian melanjutkan kembali pekerjaan nya.


"Nggak Bun."


"Lho, terus tadi dititipin kesiapa?"


"Tahu, anaknya mungkin! orangnya judes! Tika males banget."


"Perempuan?"


"Iya."

__ADS_1


"Itu, anak keduanya tante Helen namanya kak Tita." jelas sang bunda, yang hanya di balas anggukan olehnya.


"Jadi nggak sempet lihat Dede bayinya dong ya tadi?"


"Nggak Bun, tapi tadi yang namanya Tinta itu suruh bilangin makasih ke bunda." ucapnya yang terdengar sangat enggan menyebutkan nama anak dari sahabat bundanya tersebut, membuat Nada menggeleng pelan seraya terkekeh.


"Tita nak, bukan Tinta! kamu ini."


"Iya itu."


Hening..


._


"Bun?"


"Apa sayang."


"Kalau ngerebut pacar orang dosa nggak sih bun?" sebuah pertanyaan yang sontak membuat kedua tangan sang bunda yang sedang melipat bajunya terhenti seketika.


"Kamu ngomong apa sih dek?"


"Ihs bunda tinggal jawab aja dulu."


"Nggak boleh lah nggak baik, itu namanya merusak kebahagiaan orang lain, Tika paham?"


"Jadi nggak boleh Bun?"


Terlihat Nada menghela napas kasar, pertanyaan macam apa ini? batinnya.


"Nggak boleh sayang."


"Tapi kan merebut pacar Bun, bukan merebut suami orang."


Nada kembali menghela napasnya, kemudian menghampiri putrinya ikut bergabung duduk disisi ranjang yang sama.


"Nak dengar bunda! mau masih berstatus pacar atau pun berstatus suami istri, ya tetap aja nggak boleh, itu sama aja seperti menghancurkan kebahagiaan orang lain, gini aja deh bunda kasih contoh! gimana kalau posisinya dibalik, Tika rela nggak kalau tiba-tiba ada seseorang yang merebut ayah dari bunda, terus mereka menikah, kemudian ayah meninggalkan bunda, bagaimana perasaan Tika?"


Cantika terdiam beberapa saat, dengan mata yang tampak berkaca-kaca, "Tika nggak rela Bun."


Nada mengulas senyum, "seperti itulah perasaan mereka, ketika pasangan nya direbut orang lain."


*

__ADS_1


*


__ADS_2