Pesona Twins S

Pesona Twins S
Gugup


__ADS_3

"Perlu digandeng kagak Sat, atau mau gue beliin tongkat sekalian biar kaki lo kagak lemes?" celetuk Satya yang sejak tadi mengintip dibalik pintu kamar Satria yang sedikit terbuka, memberinya celah untuk melihat apa saja yang dilakukan saudara kembarnya saat itu.


Ia terkekeh sendiri, ketika membayangkan kala itu dirinya yang gugup bukan main saat hendak melamar Mutia, dan dengan menyebalkannya Satria terus menjahilinya sepanjang perjalanan menuju kerumah gadis yang kini telah sah menjadi istrinya itu.


"Jangan ganggu gue, gue lagi kagak mau bercanda Sat, balik kamar lo sono." mendorong tubuh Satya yang hampir saja masuk kedalam kamarnya, kemudian menutup dan mengunci pintunya dari dalam.


"Kagak enak kan lo digangguin pas lagi gugup." Satya terkekeh didepan pintu.


"Mana Satria Sat, lama banget! udah hampir telat lho ini, semalam kan bunda sama ayah udah nelpon ngasih tahu papa Stela kalau kita akan datang sebelum jam delapan malam." ujar Nada yang sudah rapi mengenakan gaun panjang berwarna hijau lumut, warna yang sama seperti yang digunakan oleh suami dan keempat anaknya.


Acara lamaran kali ini hanya akan dihadiri ia dan anak-anaknya, tidak membawa serta oma Sarah, maupun opa Abidzar.


Namun ia berjanji akan mengundang mereka semua ketika Satria melakukan ijab qabul nanti yang akan diadakan di Villa yang sama ketika Mutia dan Satya menikah beberapa waktu lalu.


"Tahu bun tuh bocah, malah baca koran!"


"Sat kamu ini malah bercanda, bunda serius lho! yaudah kamu siap-siap kedepan gih, biar bunda yang panggil Satria."

__ADS_1


Tanpa menunggu perintah dua kali dari sang bunda, Satya pun menurut, melangkah menuruni tangga menuju lantai bawah dimana ada sang istri ayahnya dan juga Cantika yang sudah siap.


Sedangkan Nada berjalan menuju pintu kamar Satria, kemudian mengetuk pintunya beberapa kali.


"Iya entar gue keluar, bawel banget sih Sat." teriak Satria dari dalam.


"Ini bunda Sat, cepetan turun! udah se jam lho kamu dikamar, ngapain aja? ini sebenarnya yang mau dilamar siapa sih, kamu apa Stela, dandan terus! awas aja kalau kamu keluar nanti nggak berubah jadi cantik.''


Tak lama pintu terbuka, menampilkan sosok Satria dengan pakaian rapi, namun wajah tampannya terlihat kaku.


"Bun?"


"Yaudah buruan kebawah, ayok!" Nada berjalan terlebih dulu yang kemudian diikuti Satria di belakangnya.


"Cie, Badboy kita akhirnya insyaf juga, eh maksudnya mau lamaran." El yang akan ikut serta malam itu turut hadir disana, sekaligus untuk menggoda sang adik, yang jelas terlihat gugup.


Sementara Kinar tidak dapat ikut, karena kedua bayi kembarnya sedang demam, dan tidak tega untuk meninggalkan nya bersama baby sitter.

__ADS_1


"Apaan sih bang, gue lagi males bercanda."mendorong tangan sang abang yang menempel di bahunya.


"Nggak usah gugup, entar lo malah jadi salah tingkah dan malu-maluin mau emangnya? mana mukanya kaku banget lagi."


"Kasih permen karet aja bang, biar kendor dikit." celetuk Satya, yang kemudian disambung dengan gelak tawa oleh keduanya.


"Nggak sekalian dikasih cilok jepret aja bang?" Timpal Cantika yang ngeloyor memasuki mobil terlebih dahulu.


"Buruan masuk!" bisik El mendorong paksa Satria kedalam mobil.


"Nggak usah dikasih cilok dek, entar malah tiba-tiba keselek, terus nggak bisa ngomong, batal deh lamarannya." El terkekeh geli.


"Permen karet udah jadi pilihan paling bener Sat, selain untuk menggerakan wajah kaku lo, permen karet juga bisa jadi temen galau, bikin gelembung-gelembung gitu lho bang." Satya semakin gencar untuk menggodanya.


"Jangan lupa calon pengantin pasangin sabuk pengaman tuh." lanjut El yang kini mulai melajukan mobilnya membawa Cantika, Satria, Satya dan juga Mutia dalam satu mobil, sementara Nada dan Ando menaiki mobil yang berbeda, dan sudah melaju terlebih dulu.


*

__ADS_1


*


__ADS_2