Pesona Twins S

Pesona Twins S
Merasa lega


__ADS_3

Lega sudah perasaan Satya kini, keluarga Mutia benar-benar sudah menerima lamarannya dengan tangan terbuka, bahkan mereka tak mempermasalahkan berlebihan tentang umur mereka yang sangat muda untuk menikah, mereka hanya meminta satu syarat agar pernikahannya dirahasiakan dulu sampai Mutia lulus dari sekoahnya.


Rencana pernikahan yang tinggal seminggu lagi itu, sudah ditetapkan dan tidak dapat diganggu gugat, dan akan di selenggarakan di Villa milik Ando yang berada di Jakarta.


Bukan tanpa alasan menikahkan mereka di tempat kelahiran Satya, namun karena Mutia dan Satya sama-sama sekolah di Jakarta, Mutia tidak lagi bisa untuk terus-terusan meminta izin untuk tidak masuk sekolah.


Bahkan saat keluarga Satya berpamitan pulang, Mutia memutuskan untuk ikut bersama mereka ke kostannya, karena besok ia harus kembali sekolah seperti biasanya.


"Butuh gue juga kan lo, gue yakin seribu persen lo itu tadi deg-degan banget kan, lo sampe nggak sadar menggenggam tangan gue erat banget." cibir Satria ketika keduanya kini berada dikamar Satya untuk merebahkan tubuh lelahnya.


Tiga puluh menit yang lalu mereka baru saja tiba di Jakarta, sementara oma mereka juga sudah kembali kerumahnya masing-masing.


"Gue bener kan Sat?" lanjut Satria bersikukuh, sementara Satya memilih diam tak berniat untuk menjawab semua pertanyaan konyol saudaranya itu.


"Sat, jujur ya gue iri sama elo, elo beruntung." Satria kembali berujar sembari memperbaiki letak tidurnya di samping Satya, dengan berbantalkan lengannya, tersenyum kecut menatap langit-langit kamar yang terlihat suram seperti masa depannya.


"Maksud lo apa sih Sat, kedengerannya lo kek melow gitu?" Satya membalikan tubuh menatapnya.


"Lo bener Sat, karma itu benar-benar nyata." balasnya tanpa menoleh, masih fokus menatap langit kamar.


"Lo sakit?" Satya menempelkan punggung tangannya di kening Satria.

__ADS_1


"Nggak panas tapi."


"Ck, emang ya sekian banyaknya orang yang ada di Dunia cuma elo yang paling ngeselin." Satria berdecak kesal.


"Gue dengerin, lanjut mau ngomong apa?"


"Udah kagak mood, males gue!"


"Ngambekan, kek cewek!"


"Ajig!"


"Ck, lo tahu kagak sih, ngerti kagak sih, yang gue bilang tadi?" Satria tampak bersungut-sungut.


"Lo benar Sat, karma itu nyata, gue rasa saat ini gue kena hukum karma seperti yang lo bilang dulu."


"Dan sekarang lo nyesel?" Satya menoleh menatap saudaranya.


Satria mengangguk.


"Penyesalan emang selalu datang belakangan." ujar Satya yang kini sama-sama menatap langit-langit kamar.

__ADS_1


"Tapi sekarang gue udah kagak gitu lagi Sat, serius! gue mau insyaf."


"Terus rencana lo apa, lo kek yang punya beban berat gitu nggak sih, gue perhatiin sebulan terakhir ini lo banyak ngelamun."


"Cie, diem-diem ternyata lo perhatian juga ya sama gue." Satria tersenyum simpul seraya menjawil genit dagu milik Satya.


"Cih, geli gue!" Satya menepis kasar tangan saudaranya itu, membuat Satria terkekeh sendiri.


"Thanks Sat atas perhatian lo, tapi jujur emang akhir-akhir ini gue udah kek orang gila, lo tahu nggak sih Sat, Stela dia nerima gue jadi pacarnya, tapi sekalipun dia nggak pernah ngasih perhatian lebih ke gue, gue udah coba berulang kali ngelakuin apa yang gue bisa."


"Gue ngelakuin banyak hal yang bahkan belum pernah gue lakuin ke cewek manapun, tapi apa? dia tetep masih cuek dan nggak peduli sama gue, sama hubungan ini, please! kasih gue solusi gue musti gimana?" lanjutnya yang terlihat putus asa.


"Lo serius nanya solusi soal cewek ke gue, nggak kebalik?"


"Ck, lo bener! lo kan kagak ada pengalaman pacaran."


"Yang berpengalaman pacaran bakalan kalah sama yang berpengalaman berumah tangga." jawab Satya telak, membuat tenggorokan Satria mendadak kering.


Satria beranjak, mengambil bantal kemudian melemparkannya ke wajah Satya, "Ajig, ngomong sama lo bikin mood gue tambah buruk." ucapnya, sebelum kemudian keluar membanting pintu kamar Satya hingga kusen pintu tersebut bergetar.


Sementara Satya yang terlihat syok, hanya bisa mengelus dada, "Untung aja kamarnya kagak roboh."

__ADS_1


*


*


__ADS_2