Pesona Twins S

Pesona Twins S
Kesalah pahaman


__ADS_3

"Stela?" ucap Satria dengan raut wajah yang terlihat menegang, kemudian mencoba untuk mendekatinya.


"Sayang?" Satria berusaha untuk meraih tangan Stela, namun gadis itu segera menepisnya.


"Aku pikir kamu udah berubah, tapi ternyata selama ini aku salah, aku terlalu bodoh." ucap Stela yang kini telah berurai air mata, perasaan lelah, kesal, dengan semua yang terjadi hari ini membuat ia dengan mudahnya menjatuhkan air mata.


Ia capek, ia ingin menangis sejadi-jadinya.


"Yang, aku_" ucapan Satria terhenti saat melihat gerakan cepat Stela yang membuka tasnya, kemudian mengeluarkan sesuatu dari tas tersebut.


"Kemarin aku nggak sengaja nemuin jaket ini, punya kamu kan?" Stela memberikan jaket tersebut tanpa melihat wajah Satria.


"Yang?"


"Aku rasa mulai saat ini lebih baik kita akhiri semuanya, supaya diantara kita nggak perlu lagi punya ikatan satu sama lain, kamu bebas dengan dunia kamu, begitupun aku yang akan bebas dengan duniaku sendiri."


Satria tertawa hambar, tak mampu mencerna semua ucapan Stela. "Kamu ngomong apa sih yang?" untuk kesekian kalinya dia berusaha meraih tangan Stela yang tak kunjung berhasil ia raih, karena lagi-lagi gadis itu menepisnya.


"Jangan sentuh!" sentak Stela, yang sontak membuat Satria mengangkat kedua tangannya.


"Ok, tapi dengerin aku, kita bicara baik-baik ya sayang ya."


"Bicara baik-baik yang seperti apa, bukankah kamu seharusnya merasa senang sekarang,?"

__ADS_1


"Senang apanya sih?"


Stela memilih diam, tak kuasa ia menahan air mata yang terus mendesak ingin keluar, beginikah akhir dari semuanya.


setelah laki-laki itu menghindarinya dua minggu ini.


"Jangan pernah temui aku lagi." setelah mengatakan kalimat yang mampu membuat perasaan Satria hancur gadis itu bergegas pergi meninggalkannya.


Tubuh Satria luruh, dengan kedua lutut yang bertumpu diatas tanah, ia belum sepenuhnya percaya dengan apa yang ia dengar dari gadisnya, hingga sebuah tangan terulur menyambutnya.


"Kamu nggak apa-apa kan, Sat?" suara lembut yang dibuat-buat itu membuat emosi Satria seketika memuncak, ia yakin karena Nira lah gadisnya marah dan memutuskannya.


Ya, gadis yang sejak tadi duduk bersama Satria adalah Nira, yang merupakan kakak tiri Stela, sekaligus mantan pacar Satria di masa lalu.


Tapi meski begitu ia cukup puas dengan apa yang baru saja terjadi, Stela adik tiri yang begitu ia benci sudah memutuskan laki-laki yang begitu dicintainya itu.


Stela berlari kearah jalan raya untuk menghentikan Taxi yang akan membawanya pulang kerumah, ia sengaja meninggalkan motornya di parkiran, dan akan menyuruh sopirnya untuk mengambilnya nanti.


Stela tak ingin membawa motor dalam keadaan kacau, karena hal tersebut tentu akan membahayakan orang lain maupun dirinya.


Didalam Taxi Stela menoleh beberapa kali ke belakang, kemudian ia merutuki kebodohannya.


Apa yang dia tunggu.

__ADS_1


Apakah ia berharap laki-laki itu berada dibelakang, berusaha mengejarnya kemudian meminta maaf padanya.


Sekali lagi Stela merutuki kebodohannya sembari mengusap kasar air matanya, yang sialnya tak berhenti mengalir, membasahi kedua pipinya.


*


Setelah membayar ongkos pada sopir Taxi, Stela pun bergegas turun, kemudian meminta mang Rahmat untuk segera membuka pintu gerbang rumahnya.


Ia mendesah lega, saat suara keributan tadi sore tak lagi terdengar, yang menandakan kedua orang tuanya sudah pergi.


"Mereka sudah pergi mang?" tanya Stela pelan, mang Rahmat yang mengerti kemana arah pertanyaan majikan mudanya itu pun langsung mengerti.


"Bapak sama ibu sudah pulang non, mereka berdua sempat khawatir sama non Stela, setelah melihat barang-barang non Stela yang berhamburan di teras depan."


"Tapi mereka tidak menunggu sampai saya pulang, tidak berniat mencari saya juga kan?" ucap Stela tersenyum kecut, yang membuat mang Rahmat menunduk sedih.


Laki-laki paruh baya yang merupakan salah satu pekerja Stela yang bertugas berjaga dibagian depan itu, tahu betul bagaimana kehidupan majikan kecilnya selama ini.


"Saya kedalem dulu mang, oh iya nanti minta si mamang satunya buat ambil motor saya di pasar malam belakang balai desa, kuncinya saya simpan disana," menunjuk meja kecil yang terletak di sudut teras.


"Baik non."


*

__ADS_1


*


__ADS_2