Pesona Twins S

Pesona Twins S
Sebuah Alamat


__ADS_3

"Mol, woy turun! gimana sih lo, bisa manjat kagak bisa turun, manja banget." gerutu Satria pada Moly yang acuh duduk santai di batang pohon, dengan tatapan tajamnya, seolah menyiratkan kemarahan pada Satria.


Disinilah Satria kini, memanjat pohon rambutan yang terletak disamping rumahnya, bukan karena sukarela, namun begitu sangat terpaksa karena sang bunda tak berhenti memarahinya, serta sang adik yang tak berhenti menangis karena kucing kesayangannya enggan untuk turun.


"Ngapa melotot gitu, naksir kan lo sama gue, gue ganteng kan baru sadar lo!" lanjutnya yang membuat kucing tersebut melengos, seolah merasa ilfeel pada Satria yang begitu percaya dirinya.


"Abang buruan, entar si Moly nya jatuh." teriak Cantika dari bawah, membuat Satria berdecak beberapa kali.


"Iya bentar dek, kucingnya ngambek keknya."


"Salah abang!"


"Anjir, denger tuh Momol salah gue terus kan jadinya, elu sih kagak mau turun, gila aja adek gue lebih sayang sama lo dibandingkan gue, masa dia lebih khawatir kalau lo yang jatuh, gue dorong juga lo!"


"Meongggg.. "


"Dih bisa nyahut juga lo."


*


*


"Sini Moy." Cantika mengambil alih Moly dari gendongan sang abang.


"Kucing kamu kayaknya suka deh sama abang dek, dari tadi mandangin abang terus lho! kelewat cakep kali ya, buktinya kucing aja naksir."


"Ihs abang tuh kepedean, narsisnya kebangetan tahu nggak sih, mana ada jeruk makan jeruk."


"Maksudnya?"


"Si Moly kan cowok, masa naksir abang."


"Hah?"


"Aduh Moyi-moyi badannya nggak ada yang sakit kan, enggak luka kan Moy?" ujar Cantika sembari mengelus-ngelus kepala kucing tersebut, tak lupa Cantika memeriksa seluruh tubuh kucingnya itu seolah takut ia terluka, dan hal tersebut sontak membuat Satria melotot tak percaya.


"Dek, yang luka tangan abang lho, kena cakaran si Momol kamu itu, kamu nggak khawatir?" ujar Satria seraya memperlihatkan tangan kirinya yang memang ada beberapa bekas cakaran.


"Bodo amat, itu kan salah abang! yuk Moy, mamam yuk!" lanjut nya tanpa menoleh ke arah sang abang, kemudian ngeloyor pergi begitu saja, membuat Satria tertawa dengan sangat terpaksa.


"Bener kan, dia lebih sayang si Momol burikan itu dibandingkan gue!" gerutunya.


"Ngomong sendiri melulu lo, nih anterin makanan kerumah nya mbak Iis." Satya menyerahkan satu keresek cemilan ke tangan Satria.


"Maksudnya apaan nih!"


"Bunda bilang anggap aja sebagai hukuman karena udah bikin Cantika nangis, plus karena tadi lo telat pulang." jawab Satya seraya melemparkan kunci mobil, yang ditangkapnya tepat sasaran.

__ADS_1


"Ajig, udah cape-cape manjat pohon ngambil hewan burikan itu, sekarang gue musti nganterin kek ginian juga, huhh! sempurna banget hidup gue."


"Udah buruan anterin, sebelum hukuman lo di tambah." Satya ngeloyor dengan diiringi kekehan kecil.


"Ck, sialan!"


Lagi-lagi dengan perasaan terpaksa, kini Satria pun berangkat menuju sebuah rumah seseorang dengan alamat lengkap yang diberikan sang bunda pada nya.


Saat setengah perjalanan, Satria menepikan Mobil nya sejenak, untuk memastikan benar atau tidak nya alamat yang sempat ia lihat tadi.


"Ini bener alamat nya disini, kok gue kek yang udah pernah kesini, apa cuma perasaan gue aja ya!" gumamnya, sembari membaca berulang-ulang alamat tersebut.


*


*


"Tuh kan bener! gue udah pernah lewat sini, Eh tunggu-tunggu, bukannya ini rumah Stela ya!" Satria berbicara sendiri, sembari menatap rumah berlantai dua dihadapannya.


"Bener ini kagak salah lagi."


"Cari siapa mas?" ujar seorang wanita seusia Nada yang menyembul dibalik pintu, setelah Satria menekan bel rumah tersebut sebanyak tiga kali.


"Eumz itu, ini ada titipan buat mbak Iis dari bunda, ini bener kan alamatnya?" memperlihatkan selembar kertas yang sempat diberikan sang bunda sebelum berangkat tadi.


"Iya betul ini alamatnya, dan betul saya Iis, dari bunda siapa ya mas?"


"Tolong diterima ya bu."


"Terimakasih banyak ya, tolong sampaikan juga rasa terimakasih ibu pada bundamu ya nak."


"Iya bu sama-sama, nanti akan saya sampaikan! kalau begitu saya permisi."


"Baiklah, silahkan! dan berhati-hatilah dijalan." ujar nya, yang diangguki oleh Satria.


*


*


Selama di perjalanan, Satria tak dapat berkonsentrasi dengan baik, karena pikirannya kini dipenuhi oleh berbagai macam pertanyaan tentang hubungan apa yang terjalin antara sang bunda dengan wanita yang diemuinya tadi.


Mungkinkah ia ibu nya Stela, namun dilihat dari caranya berpakaian Satria berpikir bahwa ia hanyalah asisten rumah tangga yang bekerja disana.


Namun untuk memastikan nya ia lebih baik bertanya langsung pada sang bunda.


Begitu sampai di rumahnya, Satria pun bergegas mencari keberadaan sang bunda.


"Bun?"

__ADS_1


"Beneran kan diantar sampai rumahnya?" sergah Nada.


"Iya dong, oh iya bun mbak Iis itu siapa nya bunda sih?"


"Tumben kepo sama urusan bunda." ucapnya dengan alis bertaut.


"Please dong bun."


"Temen bunda, waktu sekolah dulu."


"Terus itu yang tadi rumahnya?"


"Bukan, itu rumah majikannya, mbak Iis kerja disana, seminggu sekali dia pulang."


"Maksudnya?"


"Gini lho Sat, jarak rumah mbak Iis dari rumah majikannya kan terbilang cukup jauh, jadi bunda rasa dia cape kalau harus bolak-balik setiap hari, makanya pulang nya seminggu sekali."


''Terus, bunda kenal sama majikannya mbak Iis?"


"Ngaco kamu ini, nggak lah! ketemu juga belum pernah! tapi mbak Iis waktu itu pernah cerita, kalau dia hanya tinggal berdua sama anak majikannya, kedua orang tuanya bercerai, dan sudah memiliki kehidupan baru mereka masing-masing."


"Mbak Iis itu dulunya orang punya, tapi semenjak dia menikah kehidupan nya berubah derastis, hutangnya banyak, dan dimana-mana, karena suaminya hobi sekali main judi." lanjut Nada, yang membuat Satria mengangguk mengerti, sementara Nada, diam-diam mengulum senyum.


Ia bersyukur karena kini Satria tak lagi marah-marah seperti kemarin-kemarin, karena biasanya Satria selalu pulang dengan membawa wajah masamnya jika ia menyuruhnya kesuatu tempat.


"Ya sudah sekarang makan gih, belum makan kan dari siang tadi."


"Entar aja bun." jawabnya, sembari melangkah menghampiri sang adik yang sedang asik menonton film cartoon kesukaannya.


"Ihs abang apaan sih, cium-cium segala, abang bau tahu belom mandi." protes Cantika setelah sang abang mencium pipinya.


''Abis nya kamu gemesin dek." jawabnya seraya mengacak-acak rambut sang adik, membuat sang pemiliknya mendesis kesal.


"Aku bukan anak kecil lagi lho bang, Tika udah gede." ucapnya bersungut-sungut, membuat Satria terkekeh geli.


"Masa sih?"


"Ihs dibilangin, Tika udah SMP juga."


"Sama aja masih kecil." jawab Satria, karena bagi Satria dan Satya dimatanya sang adik tetap terlihat masih kecil terutama bagi El kakak tertua mereka.


Karena Cantika adik perempuan mereka satu-satunya dikeluarga Arsenio, terlebih ia adalah adik bungsu.


*


*

__ADS_1


__ADS_2