
Hubungan Stela dan Satria kini semakin membaik, gadis itu tidak lagi secuek dulu, ia mulai memberikan perhatian-perhatian kecil untuk Satria, bahkan ia selalu menemui Satria kapanpun laki-laki itu ingin bertemu.
Seperti sekarang ini, keduanya tengah menonton sebuah pertunjukan sulap yang diadakan disamping pasar malam.
"Sat?"
"Hmmm."
Satria yang sedang asik menonton pun sontak menoleh menatap gadisnya.
"Aku mau ngomong sesuatu, tapi nggak bisa kalau disini."
Satria mengangguk mengerti, dan memutuskan untuk mencari tempat yang enak untuk mereka mengobrol.
Disinilah keduanya kini, di sebuah kios bakso yang terletak di pinggir jalan, kebetulan pengunjungnya tidak terlalu ramai, karena suasana masih sore dan kebanyakan dari mereka sedang berada di pasar malam.
Sebelum memulai obrolannya, Satria memutuskan untuk memesan dua porsi bakso dan dua gelas teh hangat untuknya dan juga Stela.
"Jadi, kamu mau ngobrolin soal apa yang, kok kayaknya serius gitu mukanya?" Satria merapikan rambut Stela yang sedikit berantakan.
"Sat?"
"Iya." Satria menunggu seraya menatapnya dalam.
"Aku_ aku dilarang pacaran." ucapnya lirih, namun masih terdengar jelas di telinga Satria.
Satria sempat tertegun, namun selanjutnya ia kembali terlihat biasa saja.
"Siapa yang bilang?"
__ADS_1
"Papa."
"Bukannya dulu papa kamu terlihat baik-baik aja pas kita dateng ke acara ulang tahun Nira."
"Aku juga nggak tahu kenapa."
"Pasti ada alasannya, aku yakin kok waktu itu papa kamu suka sama aku, bahkan dia sempet ngajakin aku bercanda lho yang."
"T-tapi Sat, papa ku sekarang marah besar, dan ngelarang aku buat berhubungan sama kamu."
Satria menggeleng tak terima.
"Kenapa bisa begitu?" Satria terlihat frustasi.
"Aku juga nggak tahu."
Satria menunduk, kemudian menghela nafas panjang, menatap Stela yang terlihat seperti serba salah.
"Aku akan datang menemui papa kamu kerumahnya, nggak sekarang, mungkin besok!"
"Sat, tapi_"
"Do'akan supaya aku berhasil."
Keesokan harinya, sepulang sekolah Satria benar-benar menepati janjinya untuk menemui papa Stela di restoran miliknya, semalam Stela memberi tahu jika sang papa berada disana jika siang hari.
Satria mencocokan alamat yang dikirimkan Stela lewat pesan chat, setelah cukup yakin bahwa alamat tersebut memang sama persis, Satria pun memutuskan untuk memasuki restoran tersebut.
Ia tidak perlu bersusah payah untuk meminta pelayan agar memanggilkan papa Stela untuk menemuinya, karena Stela sendiri yang telah membantu mengatur pertemuan keduanya.
__ADS_1
Satria memilih duduk di meja nomor 17 yang terletak dibagian pojok, bukan tanpa alasan! ia melakukannya agar obrolan mereka nantinya terasa lebih nyaman, dibanding berada dimeja urutan paling depan atau paling tengah.
Tak lupa ia juga mengirimi pesan chat pada Stela, memberi tahukan jika ia sudah sampai di restoran milik papanya.
Selang beberapa menit, Adrian yang merupakan papa Stela, datang menghampiri Satria dengan raut wajah yang sulit terbaca.
Satria beranjak menyalami Adrian, kemudian mempersilahkannya untuk duduk.
"Ada perlu apa,?" tanya Adrian dengan tatapan dinginnya.
"Saya ingin meminta izin untuk berpacaran dengan putri om, Stela." jawab Satria to the point.
"Apa yang bisa kamu janjikan untuk putri saya?"
"Saya_"
"Saya tidak butuh laki-laki pecundang yang hobi bermain dengan gadis manapun."
Deg!
Lidahnya kelu, ia pikir laki-laki paruh baya di hadapannya tidak mengetahui apapun tentang masa lalu buruknya.
"Maaf om, jujur saya akui dulu saya memang suka bergonta-ganti pacar, tapi itu jauh sebelum saya mengenal Stela."
"Apakah kamu pikir dengan kamu memacari dua putri saya sekaligus akan berakhir baik, apakah kamu tidak pernah memikirkan perasaan putri saya, seharusnya kamu tahu, jika kamu memilih salah satu dari mereka maka yang lainnya akan terluka."
"Om."
"Nira juga putri saya."
__ADS_1
*
*