
"Kalian ini, yaampun! anak sama ayah nggak ada yang pas se kg, kurang dua ons semua kayaknya." decak Nada, seraya mendengus, mendekati pintu kupu-kupu ber cat coklat tua dihadapannya.
Menekan bel yang berada di samping pintu, dan tak berselang lama seseorang tampak membukakan pintu tersebut dari dalam.
"Keluarga mas Satria ya,?" ujar seorang wanita paruh baya yang Nada yakini adalah asisten rumah tangga dirumah tersebut.
"Iya." Nada mengangguk ramah.
"Silahkan masuk bu, bu Lia sama pak Adrian sudah menunggu.'' jelas wanita paruh baya tersebut, seraya memimpin langkahnya menuju ruang tamu.
"Awas! entar didalem jangan sampai nangis lo Sat, ngompol apa lagi, jangan malu-maluin." bisik El seraya menggandeng tangannya bersama Satya.
Sementara yang diajak bicara, sejak pertama berangkat dari rumah tadi hingga sekarang, sama sekali tidak banyak bicara, atau membalas perkataan kedua saudaranya dengan yang lebih pedas seperti biasa.
"Percuma bang ngomong sama dia, kagak denger kayaknya, ini gue yakin sih yang ada disamping kita tuh cuma jasadnya doang, arwahnya lagi berkeliaran."
"Hushhh.. lo pikir dia udah mati apa."
"Mati rasa bang."
"Eh pak Ando, bu Nada, silahkan duduk, silahkan!" Adrian berdiri dan tampak antusias menyambut kedatangan mereka.
__ADS_1
Dalam dunia bisnis siapa yang tak mengenal seorang Alby Orlando Arsenio, pengusaha sukses dalam berbagai bidang yang memiliki beberapa cabang perusahaan, dan berkembang hanya dalam waktu beberapa tahun saja.
Dan karena hal tersebut pula, yang menjadi alasan Adrian membiarkan Stela berpacaran dengan Satria.
Akan menjadi suatu kebanggan tersendiri, jika seandainya ia bisa besanan dengan pengusaha sukses seperti Ando, dan tentunya ia sendiri tidak khawatir akan jaminan hidup untuk masa depan Stela, putri kandungnya.
Sementara disebelahnya Lia sang istri berusaha untuk memaksakan senyumnya.
Begitu juga dengan Nira dan Stefany yang tampak tidak berminat ikut hadir disana, berbeda sekali dengan Stela yang menunduk malu.
"Wah luar biasa, ini anak pak Ando semua?" tanya Adrian tak percaya saat melihat anak-anak Ando yang ternyata berjumlah lima orang, karena saat menelponnya tadi malam Ando mengatakan jika kunjungannya malam ini semua anaknya akan ikut.
"Betul pak, ini El putra pertama saya." menyentuh bahu El yang duduk di sampingnya, "nah ini Satria yang disebelahnya Satya, Cantika, dan Mutia."
"Tunggu pak, tadi Satria dan Satya yang mana ya, perasaan yang dua itu wajahnya sama, bingung saya harus membedakannya dimana? beda lagi kalau yang datang hanya satu orang."
Ando terkekeh, "Ini yang sebelahnya El, Satria pak! Satya yang disebelah Cantika, mereka memang kembar pak, jadi kalau sekilas memang susah membedakannya, Satya sudah menikah dua minggu yang lalu, dan Mutia itu istrinya." jelas Ando.
"S-sudah menikah?" tanyanya tak percaya.
"Betul pak."
__ADS_1
"Tapi kenapa?"
"Karena mereka sudah merasa cocok."
"Lalu bagaimana dengan sekolahnya pak.?"
"Itu bisa diatur pak."
"Benarkah, tapi bukan__" Adrian menjeda ucapannya, seraya menatap Satya dan juga Mutia bergantian, sekaligus tidak enak hati dengan Ando.
"Bukan pak, tidak ada yang terjadi apapun saat mereka berpacaran, hanya saja saya tidak melarang anak-anak saya menikah di usia muda, dulu El anak pertama saya juga begitu, menikah saat dia masih duduk di bangku SMA, begitupun dengan saya sendiri." Ando yang mengerti maksud Adrian, berusaha untuk meluruskan.
"Oh begitukah pak?"
"Betul, bukankah dari pada anak-anak kita berbuat yang tidak diinginkan lebih baik di halalkan saja, lebih cepat lebih baik, bukan begitu pak? dan selama itu sedikit banyaknya saya selalu berusaha untuk mendidik anak saya supaya menjadi anak laki-laki yang bertanggung jawab terhadap istri dan keluarga kecilnya."
"Betul, betul sekali yang dikatakan pak Ando, terlebih jaman sekarang ini sudah banyak sekali kejadian-kejadian tak terduga yang dilakukan anak remaja saat berada di lingkungan luar, dan saya percaya pak Ando orang yang sangat bijak dalam mendidik anak."
"Betul pak, untuk itu dengan tidak mengurangi rasa hormat, saya sampaikan bahwa niat kedatangan saya sekeluarga itu dengan dua alasan, yang pertama karena kami ingin menjalin silaturahmi dengan keluarga pak Adrian, dan yang kedua kami bermaksud ingin melamar putri bapak Stela, untuk putra saya Satria."
*
__ADS_1
*