Pesona Twins S

Pesona Twins S
Sah


__ADS_3

"Dasinya miring Sat!"


"Kancing bajunya juga lepas satu."


"Upil lo pada keluar tuh."


"Sleting celana lo belum dikeatasin, parah! semvak nya kelihatan bro, isinya juga kelihatan dikit."


Dan masih banyak lagi kata-kata jail yang mereka ucapkan, pada calon pengantin yang tengah gugup bukan main, saat menunggu penghulu tiba.


"Mukanya jangan tegang-tegang napa Sat, udah mirip kek patung manekin aja lo," bisik Satya, yang entah mengapa semakin gencar menggodanya.


"Tegang kayak abis tersengat listrik," timpal El, "oh iya, tadi udah ngasih dia minuman yang dikasih kembang tujuh rupa itu kan?" bisik El.


"Beres bang!"


"Syukurlah, kalau nggak bahaya! masa pas ijab qabul nanti dia kagak bisa ngomong." El terkekeh, yang beberapa kali mendapat cubitan dari istrinya.


Suasana Villa kali ini entah mengapa terasa gelisah dan menegangkan, bagi mereka yang ikut serta menghadiri acara akad nikah Satria dan Stela, sangat jauh berbeda ketika akad nikah Satya tiga minggu yang lalu, yang terasa santai dan tenang.

__ADS_1


"Temennya kagak ada yang di undang?" El kembali berbisik.


"Ck, gimana sih bang, mana berani dia ngundang temennya, itu sama aja dia membuka aib dia sendiri."


"Aib gimana?"


"Lah itu! muka jelek begitu emang bukan aib juga namanya, lo kan tahu sendiri seantero SMA Samudera dia itu paling terkenal dengan tampang cool nya, coba kalau mereka sampai lihat mukanya yang kaya sekarang, mau taro di mana coba bang mukanya dia, kagak mungkin kan di taro di jok motor."


El terlihat berpikir, "Iya juga sih, tumben lo pinter Sat."


"Ck, tiap hari kali bang, elo nya aja yang kagak nyadar."


"Kalau Langit beda cerita bang, dia kan udah nggak satu sekolah bareng, dia tinggal di Jogja sekarang."


El tampak mengangguk-angguk mengerti.


"Udah lewat dari jam yang seharusnya lho ini, kemana coba pak penghulunya." ujar opa Rendra yang sudah menunggu selama hampir tiga jam dari sejak pertama mereka tiba di Jakarta pagi tadi.


Seluruh keluarga dari pihak Ando dan Nada memang turut hadir disana, termasuk Burhan yang merupakan kakak Nada satu-satunya.

__ADS_1


"Mungkin kejebak macet kali opa." El menyahut.


"Apa kejebak istri muda." timpal Satya.


"Bisa jadi sih, soalnya pak penghulu kan istrinya tiga." celetuk pak Kadim, yang sontak membuat para tamu menoleh kearahnya.


Pak Kadim tergelak, "Bukan! bukan pak penghulunya yang beristri tiga, tapi adiknya." jelas pak Kadim, membuat semua orang mendesah lega.


Tak lama seseorang yang mereka tunggu sejak tadi datang seraya mengucap salam, kemudian duduk diantara orang-orang yang akan menjadi saksi dari berlangsungnya acara sakral tersebut.


"Awas, tarik nafas keluarin lewat mulut, inget! lewat mulut, bukan lewat bawah." bahkan di saat-saat yang semakin menegangkan tersebut, Satya tak berhenti untuk menjahili nya, membuat Satria pada akhirnya menggeram kesal, dan hal tersebut justru membuat Satya semakin bersemangat untuk menggodanya.


Semua orang mengucap syukur, saat kalimat "SAH" terucap dari para saksi, pesona seorang Satria Aji Arsenio kali ini benar-benar hidup, saat akan ijab qabul tiba wajahnya mendadak tenang, dan berhasil mengucapkan kalimat istimewa tersebut hanya dalam satu tarikan nafas.


El dan Satya menjadi orang pertama yang memeluknya, sembari mengucapkan selamat atas pernikahannya dengan Stela, tak lupa mereka juga mendoakan hal-hal baik untuk pengantin baru tersebut.


*


*

__ADS_1


__ADS_2