Pesona Twins S

Pesona Twins S
Aku, kamu


__ADS_3

"Hallo?" sapa seseorang dari sebrang sana, yang seketika membuat Satria tersenyum lebar.


"Hallo juga, pacar! kangen nih."


Terdengar decakan kecil dari sebrang sana, seolah malas mendengar ucapannya.


"Besok libur, ada acara nggak?"


"Kan mau keacara keluarga."


"Oh iya." Satria menepuk jidatnya.


"Jadi, besok aku harus pake baju model apa sayang?" ujarnya, yang tanpa ia sadari telah membuat gadisnya termangu hingga beberapa detik.


"K-kenapa kata-katanya diganti?"


"Maksudnya?"


"I-itu, b-biasanya lo gue."


Satria mengulum senyum, "Kata si Andre, kalau orang pacaran itu lebih enak pake aku-kamu jadi lebih kerasa romantisnya, dan ternyata kali ini omongannya ada benernya juga."


"Masa?"


"Iya sayang, please! ganti ya."


"Hmmm."


"Jadi besok aku harus pake baju model apa?"


"Apapun, yang menurut kamu pantas untuk dipake diacara keluarga."


"Ok, eh tapi ngomong-ngomong acara apaan sih, kok kedengarannya kek penting gitu."


Terdengar Stela mendesah, seperti malas untuk membahasnya, "ulang tahun kakak gue_ eh maksudnya aku."


"Kamu punya kakak,?"


"Iya, dia cantik! mungkin kalau kamu ketemu nanti, kamu bakal tertarik sama dia." Stela menyandarkan tubuh dibalkon kamarnya.


"Kok ngomongnya gitu sih?"

__ADS_1


"Kamu kan suka gonta-ganti cewek, ya aku nggak tahu sih alesan kamu gonta-ganti cewek itu karena apa, mungkin karena kamu suka cewek-cewek cantik, gampang bosen, atau nggak cukup hanya pacaran sama satu cewek doang, jadi udah bisa dipastikan kamu bakalan tertarik."


"Ste, jadi itu pandangan kamu terhadap aku selama ini, seburuk itukah aku dimata kamu?" ujar Satria membuat Stela terdiam, dengan perasaan bersalah.


"Sat_"


"Aku tutup dulu telfonnya, kamu istirahat ya!"


"I-iya."


Setelah menutup sambungan telfonnya, Satria menaiki tempat tidur merebahkan tubuhnya disana, dengan berbantalkan sebelah tangannya ia menatap langit-langit kamar dengan tatapan sendu.


Menyentak nafas, kemudian mengusap wajahnya dengan cukup kasar, "Sesulit inikah buat dapetin hati kamu Ste." gumamnya frustasi.


*


*


"Apa sih bun ngelihatin mulu dari tadi, perasaan aku lagi nggak bikin ulah deh." kata Satria, ketika pagi ini tengah sarapan bersama kedua orang tua, saudara kembar, dan juga adiknya.


"Nggak bikin ulah sih, tapi pertanyaannya kenapa kok tumben kamu udah nangkring di meja makan pagi ini, ini bukan kamu banget lho Sat." jawab sang bunda, masih dengan meneliti pakaian yang dikenakan Satria dari atas hingga bawah.


"Bukan kaya gajah pingsan lagi dek, tapi kaya gajah mati." bisik Satya, kemudian keduanya terkekeh geli.


"Jadi kamu mau kemana Sat,?" kali ini Ando sang ayah yang bertanya.


"Ketemu pacar yah."


"Pacar! pacar yang keberapa ini?" sindirnya seraya menahan tawa.


"Ck, ayah."


"Serius lho, ini ayah lagi nanya, ini pacar yang keberapa?"


"Gak keitung yah."


"Wih keren anak ayah."


"Ck, keren apanya, memalukan!" sahut Nada ketus.


"Bunda kurang beruntung, punya anak cowok tiga, sifatnya aneh-aneh, abang nya dulu jutek, galak sama cewek, nah adeknya, yang satu hobinya pacaran gonta-ganti cewek terus, nah yang satunya jomblo abadi."

__ADS_1


"Bentar lagi abang Satya udah nggak jomblo lagi kok bun, abang kan udah ketemu jodohnya." sahut Cantika.


"Masa sih?" tanyanya tak percaya, dan sontak membuat semuanya menatap Satya penuh tanya.


"Curang ya, nggak mau cerita sama bunda,?"


"Eh?"


"Nemu dimana Sat?" Ando kembali menimpali dengan antusias. sementara yang ditanya bingung bercampur gugup.


"Ok, nggak perlu cerita sekarang nggak apa-apa, tapi nanti kapan-kapan kenalin sama ayah ya!" lanjut Ando.


"Lah ayah curang, Satya punya pacar langsung suruh dibawa kerumah, lah apa kabar aku yang udah sering punya pacar." protes Satria.


"Eh justru itu, kamu kan keseringan pacarannya, beda-beda orangnya lagi, ya jelas pastinya ayah bosen dong."


"Mending sekali pacaran langsung jadi."


''Jadi menantu ayah maksudnya."


"Ayah gimana sih, bukan nya ayah pernah bilang kekita supaya nggak nikah muda kaya ayah sama bang El."


"Ke kita siapa? orang ayah cuma bilang ke kamu, bukan ke Satya."


"Kok bisa gitu?"


"Lah, bisa lah! kenapa nggak? Satya itu rajin, udah cukup mapan, beda sama kamu."


"Tapi yah?"


"Satria dengar ayah! ayah nggak ngelarang kalian nikah muda, tapi syaratnya kalian harus mapan dulu, punya kerjaan yang bagus, giat, dan bertanggung jawab, karena hidup itu nggak cukup dengan cinta, ya minimal punya tabungan lah buat keluarga kecil kalian nantinya."


"Dengerin tuh ayah kamu Sat, terus bunda juga minta tolong, kamu berhenti main-main sama perempuan, serius dikit kenapa sih,?"


"Aku serius kok bun, tapi dianya yang nggak serius."


"Hah?"


*


*

__ADS_1


__ADS_2