
Usai mengobrol dengan opa Abidzar yang akhirnya memilih melihat-lihat kolam ikan, Satria dan Satya kembali kedalam bergabung bersama El yang tengah bermain dengan Gala diruang tengah, sementara si kembar dan Kinar tengah menidurkan keduanya dibantu oleh bi Minah di kamar El yang dulu.
"Gala, sini ganteng peluk om dong, kangen tahu." Satya merentangkan kedua tangannya yang disambut Gala dengan sebuah pelukan manis.
"Uluuhh, pinternya ponakan ganteng om."
"Gantian dong om Satria yang peluk." Satria merentangkan tangannya.
"Nggak ah om Satlia suka pelukan sama cewek."
"Hah?" Satria mengerutkan kening bingung, kemudian mengalihkan tatapannya pada El yang memalingkan wajahnya kearah lain.
Satria berdeham pelan, kembali menatap keponakannya, "Gala ngomong apa sih, kapan coba om peluk cewek?"
"Seling, Gala seling lihat om Satlia peluk cewek." jawab Gala yang membuat Satria tertawa sumbang menyembunyikan rasa herannya.
"Nggak kok, kapan?"
"Seling, ayah juga seling lihat kan yah?" Gala menatap sang ayah yang salah tingkah dan terbatuk kecil.
"Gala nak, ayah kan udah bilang berkali-kali Gala salah lihat, itu orang lain bukan om Satria." dengan lembut El memberi tahu, meski ia sendiri memang tahu pasti bahwa penglihatan Gala sangat jeli.
Di usianya yang masih kecil Gala memang banyak sekali kelebihan, selain memiliki wajah yang tampan rupawan, Gala juga sangat cerdas dan jeli dalam hal apapun, ia sendiri tidak tahu kemampuan Gala menurun dari siapa.
Namun yang jelas, dia sangat bersyukur bisa memiliki putra seperti Gala.
__ADS_1
"Gala main sama opa uyut gih, lihat ikan."
Mata bulat itu berbinar, "boleh yah?"
"Boleh dong!"
Tanpa mengatakan apa-apa lagi bocah kecil berumur 2,5 tahun itu segera berlari menuju sangat opa uyut.
"Bang anak lo dikasih apaan sih, makin hari kok dia makin cakep gitu, pinter banget lagi." ucap Satria.
"Dikasih makan lah."
"Ajig, kalau masalah itu gue juga tahu, maksudnya rahasia supaya punya anak kek Gala itu gimana caranya?"
"Iya."
"Caranya, saat lo mau bikin adonannya jangan lupa berdoa, dan melakukannya dengan penuh cinta, lagian ngapa lo nanya-nanya soal beginian, kagak baik lo, lo masih dibawah umur dan belum Married, bagusnya yang nanya kek gini si Satya yang pasti udah berpengalaman cara buat adonan, nah kalau lo!"
"Ck, nyesel gue nanya-nanya ujung-ujungnya lo malah ngejek status gue kan? Satria mendengus.
El tergelak, dengan reaksi Satria, sementara Satria mengutuk sang abang dalam hati.
"Gimana Sat, lo udah bobol gawang apa belum, perlu gue ajarin gak?" El mengerling kearah Satya yang ditanggapi nya dengan senyum tipis, El yang dikenal dingin dan cuek sejak kecil begitu berbeda dengan El yang sekarang, setelah menikah El lebih banyak bicara, dan mengatakan hal-hal frontal diluar dugaan.
"Malah senyum-senyum bocah, gue tebak udah ya, pinter juga lo!"
__ADS_1
"Sering-sering ngalah sama bini, buat dia supaya betah terus sama lo, jangan sampai dia bosen terus nyari yang lain."
"Nyari apaan bang?" tanya Satya tak mengerti.
"Nyari yang lebih gede lah."
Repleks Satya pun menyentuh senjata berharga miliknya, yang membuat El tergelak.
"Bukan itu, maksud gue yang lebih gede kasih sayang sama cintanya, cewek itu butuh perhatian lebih, bukan cuma perhatian waktu diatas kasur doang, ngerti kan?"
"Ya, tapi kalau yang itu juga bermasalah, perlu juga diperbaiki mungkin."
"Gue jamin kagak ada masalah, dan soal rasa gue yakin kagak ada bandingannya." Satya menyahut sama frontal nya, entah kemana perginya Satya yang terkenal kalem itu.
"Lah lo mau kemana Sat?" tanya El saat melihat Satria yang beranjak dari duduknya, dengan mengacak rambutnya terlihat frustasi.
"Cabut! kelamaan gabung sama lo berdua, otak gue jadi berasap." ucapnya dan melenggang pergi.
Sementara tawa El terdengar menggema diruangan tersebut, "Maklum, masih perjaka dia, kagak ngerti obrolan orang dewasa." gumamnya di sela tawanya yang tersisa.
*
*
"
__ADS_1