
"Pagi kak?" sapa beberapa adik kelas perempuan yang berpapasan dengan Satya disekolahnya pagi ini, yang dibalas dengan senyum dan anggukan kecil oleh laki-laki tersebut.
Disekolahnya tak sedikit bahkan mungkin hampir keseluruhan murid perempuan SMA Aries, mengenali Satya si tampan yang cerdas dan juga terkenal sangat ramah, namun sayang nya diantara mereka tak ada yang mampu membuat Satria merasa jatuh hati.
Laki-laki itu masih betah dan nyaman menyandang status jomblonya, meski kedua sahabatnya Sam, dan Arkan, sudah memiliki pacar.
"Shhhhttt, bro yang barusan lewat cakep tuh, kagak mau nyoba?" ujar Sam merangkul bahunya, seraya menaik turun kan sebelah alis nya.
Sementara yang diajak bicara hanya mengangkat bahu, seolah tak perduli dengan apa pun yang diucapkan sahabatnya itu.
"Ajig! gue punya sohib gini amat sih, kapan coba lo punya pacar, serius gue nanya?" desak Sam, yang lagi-lagi ditanggapi Satya dengan mengangkat bahunya, membuat sam mendesah frustasi.
*
*
Malam harinya..
Stela keluar dari Kamar nya berdiri dibalkon memegangi pagar stainless, dengan wajah mendongak menatap gemerlap bintang di langit, tersenyum dengan wajah yang bercampur murung yang menyiratkan bahwa saat ini dirinya sedang tidak baik-baik saja.
Ada begitu banyak kesedihan yang ia simpan dan ia pikul seorang diri, tak ada saudara, teman, atau sahabat yang dapat ia percaya untuk ia berbagi cerita apapun dengan kehidupannya.
Tanpa ia sadari buliran-buliran bening jatuh mengenai pipi sebelum sempat ia cegah.
Hingga getaran ponsel yang berada disaku celananya, membuat Stela terhenyak, dan repleks segera mendial panggilan dari seseorang tanpa melihat dengan jelas siapa penelfon tersebut.
"Hallo?" ucapnya dengan suara bergetar, dengan isak tangis yang tertahan, membuat sipenelfon memilih diam beberapa saat.
"Hallo, ini siapa?" lanjut nya, dengan nada yang terdengar kesal.
"Ini gue Satria!"
__ADS_1
Deg!
Stela membelalakan matanya, dan repleks melihat layar benda pintarnya, disana terpampang jelas bahwa itu adalah sebuah nomor telfon tak dikenal.
Mendesah kasar, merutuki kebodohannya yang terlalu berlarut-larut dengan kesedihannya, hingga tanpa ia sadari ia tidak melihat dengan teliti si penelfon.
Yang paling terpenting baginya, ia tidak suka jika ia terlihat lemah dihadapan orang lain, terlebih didepan laki-laki yang menyebalkan seperti Satria.
"Gue tutup dulu tel_"
"Tunggu_ tunggu dulu." potong Satria cepat.
"Coba lo lihat kebawah."
"Lo_" Stela terbelalak, saat laki-laki itu kembali membuat ia seperti sedang senam jantung.
"Iya ini gue!" jawab nya santai, dengan sebelah tangan yang ia masukan kedalam saku hoodie nya, tersenyum ketika pandangan kedua nya bertemu.
"Apa yang nggak bisa gue tahu."
"Ck, lo mata-matain gue?"
"Nggak, cuman ya gue mau tahu aja semua tentang elo."
"Apa yang udah lo tahu tentang gue."
"Semuanya!"
"Lo gila?"
"Ya bisa di bilang begitu, gue tergila-gila sama lo."
__ADS_1
"Lo_"
"Please, turun dong! bentar aja."
"B-buat apa?"
"Please, bentar doang."
"T-tapi_"
"Gue tunggu dibawah." potong nya, yang seketika langsung memutuskan sambungan telfon nya.
"Cowok nyebelin, gila, rese!" umpat Stela kesal.
Sementara Satria yang berada dibawah tersenyum geli saat melihat ekpresi wajah Stela yang menyiratkan kemarahan terhadapnya, namun ia tak peduli, karena hal itu justru membuat nya terlihat semakin menggemaskan.
"Lo gila ya, ngapain coba kesini malem-malem terus nyuruh gue buat nemuin lo segala lagi." cerocos Stela dengan wajah tak bersahabat, saat dirinya sudah berada dihadapan Satria.
"Lo abis nangis, nggak nyangka juga ya cewek super jutek model lo ini ternyata bisa nangis juga."
"Kenapa, lo mau nertawain gue?"
"Nggak berani."
Hening....
Satria memilih diam, memandangi wajah murung Stela, sedangkan Stela memilih memalingkan wajah nya kearah lain.
.
.
__ADS_1