
"Bunda harap hasil ujian kalian bagus semua, lulus dengan nilai yang memuaskan, terutama kamu Sat." Nada menatap kearah Satria yang tampak menyengir kuda.
Saat ini mereka tengah duduk diruang keluarga, karena Nada sang bunda yang memerintahkannya, untuk mengingatkan anak-anaknya bahwa esok sudah memasuki ujian akhir yang akan menjadi penentu kelulusan ketiga anaknya tahun ini, Satria dan Satya yang akan lulus dari bangku SMA.
sementara Cantika akan lulus dari bangku SMP.
"Stela sama Mutia juga anak bunda sekarang, jadi bunda harap kalian berdua pun akan mendapatkan nilai terbaik disekolah." Lanjut Nada tersenyum hangat menatap kedua menantunya yang tampak menganggukan kepala patuh.
"Jadi, hal pertama yang ingin bunda bahas sekarang, Satria, Satya, dan Stela, yang kemungkinan lulus dari SMA tahun ini, dan bunda harap sih begitu, kalian mau ambil kuliah dimana, bunda nggak akan melarang kemanapun kalian mau."
Ketiganya saling pandang, sebelumnya mereka sudah membahas bahwa dari mereka masing-masing memiliki keinginan berkuliah ditempat yang berbeda, namun belum sempat membahasnya dengan sang bunda.
"Aku sih mau yang deket-deket aja bun." Satria yang menjawab terlebih dahulu. "Kalau Stela, dia pengen diBandung."
"Di Bandung?" tanya Nada dengan kernyitan di dahinya.
"tapi itu dulu Bun, sekarang dia pengen kuliah ditempat yang sama, sama aku."
__ADS_1
"Baguslah kalau begitu, bunda dukung Stela, karena punya suami yang mantan playboy seperti kamu ini patut dicurigai, bisa aja kan kalau sewaktu-waktu kamu kambuh."
"Yaampun Bun, sama anak sendiri nggak ada ngatain baik-baik nya dikit gitu bun."
"Emang elo orangnya patut dicurigai kok." Satya ikut menimpali, membuat Satria mendelik tajam kearahnya.
"Sudah-sudah, jadi kamu sendiri rencananya mau kuliah dimana Sat?" Sambung Nada, yang kini berganti menatap Satya.
"Aku mau di Gemilang aja bun."
"Yakin? Kamu nggak bosen memangnya, kampus itu masih disekitaran area sekolah SMA kamu yang sekarang kan?"
"Tapi bukan karena nggak mau jauh-jauh dari Mutia kan?" goda sang bunda.
"Ya_" Satya meringis, menggaruk ujung alisnya, "Ya itu juga sih bun salah satunya."
"CK, dasar! tapi yasudah, seperti yang bunda bilang dari awal bahwa bunda akan mendukung dimanapun kalian akan berkuliah."
__ADS_1
"Yasudah, istirahat gih kalian pasti sudah mengantuk." lanjut Nada, yang diangguki anak dan menantunya.
*
*
"Selamat ya anak-anak bunda, bunda sangat bangga terhadap kalian." hari ini tepat dihari perpisahan sekolah Satria, Satya, Stela, dan juga Cantika, Nada menangis haru memeluk mereka secara bergantian.
Ia merasa seolah belum puas mendidik anak-anak nya terutama sikembar yang kini mulai beranjak dewasa, bahkan sudah beristri, dan mungkin sebentar lagi mereka benar-benar akan meninggalkannya.
Karena Satya akan pindah kerumahnya sendiri yang baru selesai dibangun seminggu yang lalu, sementara Satria dan Stela memutuskan untuk menempati rumah Stela, agar tidak terbengkalai.
Sikembar balas memeluk sang bunda, tanpa mampu mengatakan sepatah katapun, suaranya seolah tercekat di tenggorokan, keduanya hanya mampu meneteskan air mata sebagai ungkapan bahwa mereka begitu bersyukur memiliki ibu sepertinya.
Pengorbanan, serta kasih sayang yang begitu besar, yang tidak mungkin dapat mereka balas dengan hal apapun, bahkan jika mereka memberikan seisi dunia sekalipun.
Tak kuasa menahan haru, Stela yang sejak tadi berdiri disamping Mutia, kini berhambur ikut memeluk Nada, yang kemudian diikuti Cantika dan Mutia.
__ADS_1
Di ambang pintu, Ando sang ayah tampak tersenyum, kemudian merentangkan kedua tangannya saat mereka menoleh, yang mengisyaratkan bahwa ia pun ingin mendapatkan pelukan yang sama dari mereka.
*