
"Mas Satria!" Meta tampak sumringah menyambutnya didepan toko milik sang bunda, seolah kedatangannya sudah sangat dia nantikan.
"Udah siap, mana barang-barangnya?" tanya Satria tak mempedulikan keantusiasan Meta yang menyambutnya riang, bahkan ia tak sedikitpun memandang kearah Meta, berlalu begitu saja memasuki toko dengan acuh.
Tak lama mang Herman sopir pribadi sang ayah datang mengekor dibelakang, membuat Meta mengerenyitkan dahi bingung, pasalnya laporan yang ia terima dari sang bosnya bahwa Satria akan datang seorang diri untuk membantunya.
"Mas tunggu, bu-bukannya mas Satria sendiri yang akan datang?" ucap Meta berusaha mengejar langkah Satria yang berjalan menuju tumpukan karton coklat yang sudah di packing sangat rapi, dan siap diantarkan pada tuannya.
"Siapa yang bilang?" Satria balik bertanya dengan wajah datarnya.
"B-bu Nada."
"Emangnya kenapa kalau gue dateng sama sopir, ada masalah?" ucap Satria tanpa menoleh sedikitpun kearah Meta, kedua tangannya sibuk menata beberapa karton bolen pisang yang akan dimasukannya kedalam mobil.
Melihat Satria yang jauh lebih ketus dari sebelumnya, Meta akhirnya memutuskan untuk tak bertanya lagi, dan memilih untuk membantu Satria memasukan pesanan kedalam mobil, yang juga dibantu oleh beberapa karyawan laki-laki yang lain, begitupun dengan mang Herman.
Ia bukannya menyerah, namun ia sedikit memberi jeda pada dirinya sendiri sampai menemukan cara yang benar, untuk mendekati Satria kembali, yang merupakan anak majikan sekaligus seseorang yang pernah dekat dengannya satu tahun yang lalu, tepatnya saat Satria belum mengetahui bahwa ia merupakan salah satu karyawan bundanya.
Selesai memasukan pesanan kedalam mobil box yang biasa dipakai untuk mengantar pesanan dengan jumlah yang banyak Satria pun menyuruh Meta untuk duduk satu mobil bersama mang Herman, sedangkan ia menaiki motornya sendiri.
__ADS_1
Satria menghela nafas lega, saat mobil box yang ditumpangi mang Herman dan Meta melaju terlebih dulu, untung saja ia sempat terpikirkan untuk membawa mang Herman ikut serta, jadi ia tak harus satu mobil dengan gadis tersebut.
Setelah kejadian beberapa waktu yang lalu, dan membuatnya hampir kehilangan Stela menjadikan dirinya kini lebih hati-hati untuk dekat dengan gadis manapun, terlebih Meta pernah dekat dengannya satu tahun yang lalu.
Pelan, Satria melajukan motornya mengikuti mobil didepannya, tiba-tiba ingatan tentang Brandon yang mengatakan jika Nira menjual Stela padanya, membuat emosi Satria seketika meluap.
Ia berjanji akan menemui Nira sore ini juga, untuk memberinya pelajaran.
*
"Mas, pesenannya udah diantar tepat waktu kan, bu Nada bilang setelah ini saya tidak perlu kembali ke toko, gimana kalau kita ngobrol dulu sebentar, mau ya?" Meta tersenyum semanis mungkin, senyuman yang terlalu dibuat-buat menurut Satria, membuat ia semakin muak.
Namun bukan karena Meta karyawan bundanya yang membuat Satria memiliki alasan kuat untuk menjauhi gadis itu, namun ia sudah beberapa kali melihat Meta berkencan dengan laki-laki lain.
Dan pantang baginya merebut pacar orang lain, meski ia menyukainya sekalipun, ia lebih baik menunggu hingga gadis yang diinginkannya putus lebih dulu dengan pacarnya, baru setelahnya ia akan mengejar.
"Sorry, tapi gue nggak ada waktu gue sibuk." jawab Satria yang terdengar sedikit membentak.
"Mas, apa secepat itu?" Meta tampak berkaca-kaca menahan sesuatu yang hendak terjun dari kedua kelopak matanya.
__ADS_1
Satria yang hendak mengenakan helmnya mendesah kasar, menatap gadis disampingnya dengan enggan.
"Soal apa?" tanyanya datar.
"Tentang kita."
"Gue rasa di antara kita, nggak ada yang perlu dibahas lagi."
"Mas, apa semua ini karena aku hanya karyawan biasa yang bekerja disini, atau_"
"Semua yang kita lewati di masa lalu, gue harap lo bisa melupakannya sama seperti gue yang udah melupakan semuanya, Meta lo tahu sendiri kan gue tipe cowok yang seperti apa, lo juga tahu sejak dulu gue nggak bisa berkomitmen, gue suka kebebasan! dan semua ini nggak ada hubungannya dengan status elo."
"Aku tahu, tapi apa nggak ada kesempatan buat kita bersama mas, jujur sampai sekarang aku masih say_"
"Sorry Meta, gue sibuk! gue buru-buru, karena gue masih banyak urusan diluar." tanpa menunggu jawaban dari Meta, dan dirasa memang tidak perlu, Satria melajukan motornya melesat meninggalkan Meta yang mematung di tempatnya, dengan kedua pipi yang sudah basah.
*
*
__ADS_1