
"K-kak maksudnya apa?" tanya Mutia, setelah kepergian Nada.
"Kamu udah percaya kan, kalau aku benar-benar serius, dan nggak main-main."
"Tapi kak, kita_ kita kan masih sekolah, apalagi aku baru kelas sebelas sekarang, kakak juga baru mau lulus tahun ini kan?"
Satya meraih salah satu tangan Mutia, kemudian menggenggamnya erat.
"Aku nggak masalah, kalau aku ataupun kamu masih sekolah, kita juga bisa merahasiakan pernikahan kita sampai kita lulus bukan?"
"Tapi kak, aku nggak yakin orang tuaku bakalan setuju."
"Aku akan meyakinkan mereka."
"Tapi kak?" Mutia menatapnya ragu.
"Percaya sama aku, lagipula ini memang salah satu impian aku, menemukan gadis yang tepat, kemudian menikah secepatnya."
"M-memangnya kakak yakin kalau aku yang terbaik?"
"Kenapa nggak, aku yakin! sangat yakin kamulah yang terbaik."
"K-ak?"
"Kenapa, kamu takut aku nggak bisa jadi suami yang baik, nggak bisa ngasih nafkah lahir batin, begitu?"
"B-bukan begitu kak."
"Lalu apa?" Satya semakin mencondongkan wajahnya kearah Mutia, membuat gadis itu sedikit mundur karena gugup.
__ADS_1
"Kak Satya nggak akan menyesal nikah muda sama aku, padahal kakak tahu sendiri diluaran sana banyak gadis yang lebih sempurna dari aku."
Satya menggeleng, "Aku nggak butuh yang sempurna sayang, tapi aku butuh seseorang yang mampu menerima dan melengkapi kekuranganku."
"Kak?"
"Ijinkan aku untuk menemui kedua orang tu kamu, bantu doa juga ya, semoga aku diterima jadi menantu mereka." lanjutnya yang disertai kekehan kecil.
"Mau pulang sekarang, aku anterin?"
"K-katanya mau nganterin bunda kak Satya dulu?"
"Nggak jadi, katanya nggak bisa ninggalin cucu twinsnya."
"C-cucu twins? siapa yang ngelahirin kak?" tanyanya antusias, karena Mutia memang menyukai bayi dan anak kecil.
"Anaknya bang El, sama kak Kinar."
"Iya, mau lihat? kalau mau kita mampir dulu kesana, kebetulan aku juga belum sempat lihat tadi."
"B-boleh emang?" kedua bola mata Mutia berbinar senang.
"Boleh, tapi tunggu bentar ya."
"Kak Satya mau kemana?"
Tak menjawab, Satya hanya tersenyum kecil kemudian melenggang meninggalkan ruangan tersebut, namun selang beberapa menit dia kembali dengan sebuah kursi roda yang tengah didorongnya.
"Nggak mungkin kan, dalam keadaan begini kamu harus jalan kaki." menunjuk kaki Mutia yang masih diperban.
__ADS_1
Tanpa bisa berkata-kata, Mutia pun menurut, mengikuti apapun yang dilakukan Satya padanya, dalam hati tersenyum senang, karena kini ia telah memiliki pacar seperhatian dan setampan Satya.
Setelah memastikan gadisnya duduk dengan nyaman dikursi roda yang ia bawa, Satya pun bergegas mendorongnya ke tempat keberadaan Kinar dan bayinya.
"Lho, kok Muti kesini nak, nggak langsung pulang?" seru Nada ketika melihat gadis yang berstatus pacar dari anaknya itu berada disana.
Kebetulan saat itu Nada baru saja kembali dari toilet, dan hendak memasuki ruangan yang ditempati Kinar.
"Mau lihat twins tante, kata kak Satya kakaknya baru melahirkan."
"Oh begitu rupanya, iya Muti benar! istrinya El baru saja melahirkan dua bayi lucu-lucu, ayo-ayo langsung kedalem aja." memberi kode pada Satya agar membawanya ikut masuk kedalam.
Sementara itu, baik Kinar, El, Cantika, Ando maupun Satria, yang berada diruangan tersebut mengerutkan kening menatap Satya dan gadis yang dibawanya secara bergantian.
"Semuanya, bentar lagi kita punya anggota baru dong, kenalin calon mantu kedua bunda nih, " Mutia namanya." ujar Nada membuat mereka saling pandang.
"Oh iya Mutia, nak! kenalin nih, ini yang namanya Kinar, wanita tangguh yang baru saja melahirkan dua cucu bunda yang lucu-lucu." lanjut Nada, tanpa memperdulikan tatapan bingung mereka.
"Yang itu El, suaminya! abang dari Satya."
"Yang itu udah tahu kan?" menunjuk Ando yang sedang menggendong Gala anak pertama El dan Kinar.
"Yang itu kamu pasti lebih kenal dong!" menunjuk kearah Cantika yang menyengir kuda.
"Sebelahnya Satria, kembaran Satya." sambung Nada, membuat Mutia termangu beberapa saat, mengamati wajah keduanya yang terlihat sama persis.
"Mirip banget ya kak, awas lho ketuker." timpal Cantika, yang kemudian terkikik geli.
Sementara itu Mutia hanya tersenyum canggung, bingung harus berkata apa, ia terlalu gugup untuk memperkenalkan diri, lagi pula bunda Nada sudah mewakili semuanya, batin Mutia sedikit lega.
__ADS_1
*
*