Pesona Twins S

Pesona Twins S
Satu lawan satu


__ADS_3

"Nggak jadi bang." jawab Brandon pada abang bengkel dengan ketus.


"Jadi gimana, mau satu lawan satu, lo berani?" tantang Brandon yang kembali menyalakan motornya, menatap nyalang kearah Satria.


Satria mendengus, seraya memijat batang hidungnya, "Ok siapa takut, gue pernah menang kalau lo lupa."


"Jan kebanyakan bacot lo! ikut gue nying!"


Dengan senang hati Satriapun mengikutinya mengarah kearah lapangan yang menjadi tempat biasa anak-anak bermain ketika sore.


Keduanya turun dari motor, melepas helm serta jaket yang dikenakannya masing-masing.


"Gue cuma mau ngingetin kalau waktu itu gue bukan kalah,"


Satria berdecih, "masih kagak mau ngakuin juga?"


"Waktu itu gue buru-buru."


"Ok, jadi kita bisa gunakan waktu senggang ini buat main-main." Satria tersenyum sinis, seraya mengarahkan satu bogem mentah ke wajah Brandon.


Bugh...


"An ying!" Brandon mengusap sudut bibirnya yang terasa ngilu.


Bugh...


Ia membalas memukul Satria, tak terima Satria kembali memukulnya, dan seperti itu seterusnya, hingga keduanya babak belur dan menyudahi perkelahiannya.


*


"Sakit cang!" Satria meringis, saat cang Naim mulai mengompreskan es batu ke bagian wajahnya yang babak belur.


"Siape suruh berantem, kayak punya tanduk aje lu, sok jagoan.!" ucap cang Naim seraya memasangkan plester di salah satu bagian wajahnya yang terdapat luka robek.

__ADS_1


Sebelum pulang kerumah, Satria memutuskan untuk mampir terlebih dahulu ke warung kopi cang Naim, untuk meminta bantuannya menghapus darah yang menetes di ujung bibir serta untuk menyetabilkan tubuh lainnya yang terasa ngilu.


Satria menghela nafas, menyenderkan tubuhnya di senderan kursi yang terbuat dari bambu yang tengah didudukinya.


"Namanya juga anak muda cang, ya begini!"


"Alahh, emang gue kagak pernah ngalemin masa muda, emangnya lu pikir wujud gue langsung tua begini! eh, dulu gue juga pernah muda, tapi kelakuan gue 99% baek, kagak pernah gue yang namanya berantem apa lagi sampe bonyok begini." tanpa sadar cang Naim menekan kan es batu yang dibalut handuk kecil itu dibagian pipi Satria yang memar.


"Sakit cang." ringisnya.


"Emangnya lu pada ngeberantemin apaan sih?"


"Gue tebak cewek pasti."


"Saya nggak terima cewek saya di gangguin cang."


"Di gangguin gimane maksudnye?"


"Panjang kalau diceritain cang."


"Belum mau tutup cang?"


"Belom, gue lagi nungguin si Badru dulu."


"Oh, yaudah kalau gitu saya pulang dulu ya cang, makasih banyak ya udah di obatin, maaf banget ya cang udah ngerepotin."


"Elu ngomongnye kayak ke siape aje tong, lu udah gue anggep sebagai anak sendiri juga, yaudah sono pulang lu, entar dimarahin emak lu."


Satria mengangguk sopan kemudian mulai melajukan motornya meninggalkan area warung kopi cang Naim.


"Eh tunggu, tunggu!" Satria menghentikan motornya kembali, merogoh sesuatu yang sejak tadi terasa mengganjal di saku celana bagian depannya.


"Ck, Tika bilang suruh di baca kan ya tadi?" gumamnya, dan mulai membuka lipatan kertas putih tersebut, dan ia tercengang setelah membaca isinya.

__ADS_1


"Ajig! gue suruh beli jengkol."


"Malem-malem begini."


"Beli dimana coba gue!"


"Kalau kagak, wajah ganteng gue pasti tambah bonyok entar."


Berpikir sebentar kemudian ia teringat sesuatu, dan tak menunggu lama ia bergegas melesat menuju ke suatu tempat.


"Fiuhh! masih buka ternyata, selamet gue!" Satria turun dari motor tanpa melepas helmnya, tentu karena gengsi, apa yang orang katakan jika dirinya yang berwajah tampan itu membeli 1 kg jengkol.


Melangkah menuju salah satu kios yang menjual sayuran.


"Pak jengkolnya 1kg." ucapnya langsung.


"Mau milih nggak?"


"Nggak usah pak." jawabnya sembari celingukan, khawatir jika sampai ada yang mengenalinya.


*


"Aduhhh bun, bikin kaget aja sih!" Satria terperanjat, saat membuka pintu sang bunda tengah berdiri memegangi sapu lidi.


"Bagus, kebiasaan kamu ya, ngeluyur terus! habis dari mana jam segini baru pulang?" ujar Nada dengan tatapan horor, repleks Satria pun melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang saat ini menunjukan pukul dua belas malam.


"Itu lagi mukanya kenapa, kamu berantem Sat?"


"I-ini_"


"Kamu mau jadi apa sih, mau jadi jagoan, jadi preman begitu?" Nada menjewer kuping anak laki-lakinya itu hingga mengaduh minta dilepaskan.


Detik kemudian Nada menangis, terduduk lemas di lantai, membuat Satria kebingungan.

__ADS_1


*


*


__ADS_2