Pesona Twins S

Pesona Twins S
Sebuah Puisi


__ADS_3

"Napa lo senyum-senyum?" ujar Satria, saat Satya melewatinya begitu saja, seolah tidak menyadari keberadaannya yang tengah tiduran di sofa yang berada diruang tengah.


"Eh ada orang ternyata?"


"Bukan, demit!" ketus Satria, yang kini berganti posisi menjadi duduk.


"Dih ngambek!"


"Kemana aja lo sore ini, tadi Gala kesini nanyain lo mulu, katanya om kembar hilang satu."


"Eh Gala kesini, kok lo nggak bilang sih!"


"Itu barusan gue bilang."


"Ck!"


"Gue abis kena sial tadi."


"Yakin abis kena sial,?"


"Iyalah, lo nggak percaya?"


"Bukannya kagak percaya, tapi aneh aja gitu, abis kena sial tapi lo kek yang bahagia gitu gue lihat."


"Mana ada orang abis kena sial bahagia, ngaco lo!"


"Lah tadi sih lo senyum-senyum."


"Gue senyum bukan karena itu, tapi karena Mutia."


"Mutia? kek nggak asing namanya."


"Guru les Cantika."


"Oh iya gue inget, lo naksir sama dia, beneran?"


"Ya gitu deh, tapi gue kagak tahu caranya ngedeketin dia itu musti dimulai dari mana."


"Mau gue ajarin?" Satria menaik turunkan sebelah Alis nya.


"Kagak deh, lo mah ajarannya sesat, ngeri gue!"


"Ajig! sembarangan lo ngatain gue ajaran sesat, gini-gini gue pemecah rekor memiliki mantan terbanyak kalau lo mau tahu."


"Cih, banyak mantan aja bangga."


"Iya dong, survei membuktikan kalau gue itu termasuk didaftar cowok terfavorit."


"Iya deh serah lo aja."


*

__ADS_1


"Disini ternyata, dari tadi Tika cariin nggak ada." ujar Cantika yang kini ikut bergabung, duduk ditengah-tengah kedua kakak kembarnya itu.


"Besok anterin Tika ke kostan kak Muti bisa kan bang?"


"Ngapain, bukannya les nya tiap hari jumat sore, besok kan baru hari senin." tanya Satya bingung.


"Kan ngegantiin yang kemarin-kemarin waktu Tika sakit, gimana abang bisa nggak?"


"Gimana ya_"


"Tinggal bilang iya apa susahnya sih, lagian gue berani bertaruh dalam hati lo girang banget pasti." sela Satria, sembari tertawa menyebalkan.


"Diem lo!"


"Ok, abang anterin! pasti, tapi bisanya dari mulai jam empat kesana ya!"


"Ok, makasih abang.'' ucap Cantika sembari memeluk nya


"Ada maunya aja meluk."


"Ihs abang banyak protesnya, gak jadi kalau gitu, mendingan Tika main sama Moly." beranjak dari sisi sang abang, melangkah menuju kamar khusus kucing gembul kesayangannya itu.


*


*


"Target, sebelum kuliah married dulu!" Ujar pak Pendi membacakan buku yang diambilnya dari meja Satria karena salah satu anak laki-laki yang berstatus muridnya itu tak sedikitpun fokus dengan materi yang diajarkannya, dan hal tersebut sontak saja mengundang gelak tawa bagi seluruh murid yang berada diruangan itu.


Puisi untuk sang pujaan..


menginginkan agar selalu ada kesempatan-kesempatan berikutnya untuk bertemu kembali.


Bertemu untuk menatapmu sekali lagi


bertemu untuk menyatakan cinta


bertemu untuk kencan pertama kita


bertemu untuk rencana kedepannya.


Mempertemukan kedua orang tua kita


lalu bertemu di pelaminan


duduk berdampingan, bagaikan raja dan ratu.


Kemudian bertemu dalam sebuah kehangatan


untuk menghasilkan karya cinta kita


yang bernama anak.

__ADS_1


*


Gelak tawapun kembali menggema diruangan tersebut.


"Satria, kemari! ini apa maksudnya?" sentak pak Pendi yang merupakan guru matematika nya.


"Oh itu." dengan santai Satria pun melangkah mendekati pak Pendi yang sedang menatapnya dengan tatapan ingin menerkam.


"Jelaskan!" tegas pak Pendi.


"Itu baru rencana sih pak, kan saya juga nggak tahu cewek yang saya sayang mau nggak di nikahin sama saya." jawabnya dengan tatapan mengarah pada Stela yang repleks memalingkan wajahnya.


"Kamu sadar nggak sih dengan yang kamu ucapkan itu?"


"Sadar, bahkan sangat sadar."


"Ck anak ini! Satria dengar saya, kamu itu masih muda, masa depan kamu itu masih panjang, manfaatkan masa muda kamu dengan sebaik-baiknya, jangan kamu sia-siakan begitu saja."


"Tapi kan menikah juga salah satu cita-cita saya, gimana dong?"


"Kamu itu masih terlalu muda."


"Bagus malah pak."


"Apanya yang bagus.?"


"Yang muda staminanya lebih kuat pak, bisa lebih cepat jadi, kakak saya contohnya." ucapnya setengah berbisik, membuat pak Pendi melengos membuang muka karena malu.


Sementara Satria terlihat begitu santai dan acuh, membuat pak Pendi geleng-geleng kepala dengan sikap salah satu muridnya yang kelewat ajaib tersebut.


"Ya sudah duduk lagi sana, percuma saya ngomong sama kamu, bikin saya migrain."


"Jangan lupa minum obat ya pak." bisik Satria seraya kembali menghampiri mejanya, sedangkan pak Pendi mendengus, menatapnya kesal.


*


"Sat, maksud lo apaan mau married sebelum kuliah, bilang sama gue cewek nya yang mana, siapa? beraninya dia bermain dibelakang gue, gue nggak terima lo campakin gitu aja, gue juga nggak terima lo jadi milik orang lain sat, gue nggak rela." rentetan kalimat yang diucapkan Tiara saat menemuinya di parkiran membuat Satria mengerutkan kening nya sekaligus merasa pusing.


"Ngapain sih lo!"


"Sat, gue sayang sama lo, lo ngerti nggak sih?"


"Dan gue nggak sayang sama lo, lo juga bisa ngerti nggak sih!"


"Gue nggak mau tahu,"


"Maksa banget, punya harga diri sedikit bisa kan lo!"


"Gue nggak peduli, gue cuma mau sama lo."


"Sakit lo ya!"

__ADS_1


*


*


__ADS_2