
"Ikannya lucu-lucu ya?" ujar Stela sembari memainkan air di pinggiran kolam ikan tersebut.
"Kamu mau, aku bisa beliin buat kamu."
"Serius, boleh emangnya?" kedua bola mata Stela tampak berbinar.
"Boleh, tapi bukan disini, aku tahu tempatnya yang khusus menjual ikan."
Keduanya pun kembali duduk disalah satu bangku taman menikmati es cream yang baru saja dibeli Satria untuk mereka berdua.
Karena selain tempat untuk bermain tempat itu pun menjadi tempat untuk beberapa penjual menjajakan dagangannya, dengan syarat tidak boleh membuang sampah sembarangan.
Jika ada yang masih tidak paham dengan aturannya, maka siapapun yang mengotori taman akan mendapatkan denda atau sanksi yang ditetapkan.
"Sorry." Satria mengelap sisi bibir Stela yang belepotan menggunakan ibu jarinya, membuat Stela tersipu dan repleks menyelipkan anak rambut kebelakang telinganya.
Sementara Satria dengan wajah santainya terlihat biasa saja menikmati es cream miliknya, sembari sesekali meng scrool layar benda pipih yang berada ditangannya.
"Seminggu lagi Satya kembaran aku mau married." ucap Satria setelah menghabiskan es cream nya.
"M-married?"
"Iya."
"K-kamu serius, bukannya dia juga masih sekolah ya,?"
"Iya."
"K-kenapa, maksud aku_ maaf sebelumnya, apakah udah terjadi sesuatu?"
"Sesuatu seperti apa yang kamu maksud?"
Stela bergeming.
"Apakah kamu berpikir pacar Satya hamil."
__ADS_1
"Kamu lho yang ngomong bukan aku." ucap Stela tak enak, karena dari nada bicara Satria terdengar sangat berbeda.
"Jika kamu berpikir begitu, kamu salah! bukan, bukan karena itu Satya dan Mutia nikah, tapi mereka emang berencana nikah muda."
"Jadi_"
"Mutia masih sekolah bahkan dia baru duduk di bangku kelas XI SMA."
"Kenapa bisa begitu?"
"Menurut kamu kenapa.?" menoleh menatap tepat di kedua manik bening milik Stela.
Stela terdiam, perkataan Satria seolah memiliki arti yang sangat dalam, dan tentunya dia sendiri paham apa maksudnya, namun Stela pura-pura tak mengerti.
Masih ia ingat dengan jelas ketika laki-laki itu datang ke rumahnya beberapa hari yang lalu, dan dengan tiba-tiba mengajaknya untuk menikah. dan saat itu juga ia meninggalkan Satria dan mendiamkannya hingga beberapa hari.
Karena bagi Stela, Satria masih terlalu muda dan labil dalam segala hal, terutama julukan playboy yang melekat dalam dirinya membuat Stela masih ragu dengannya.
Namun, terkadang tak dapat ia pungkiri Satria memang begitu tampan dan mempesona, begitu juga dengan usaha dan perhatian yang ia beri cukup berkesan dihatinya.
"Sat?"
"Hmmm."
"Apa ajakan kamu buat nikah waktu itu, karena saudara kembar kamu?"
Terlihat Satria menghela nafasnya pelan, "Bukan!"
"Lalu?"
"Lupain aja, lagi pula sekarang aku udah nggak berniat lagi."
Deg!
__ADS_1
Stela tertegun mendengarnya, seolah ada sesuatu yang sengaja menghimpit paksa dadanya, sungguh menyesakkan.
Ia kecewa dengan jawaban spontan Satria, tetapi untuk apa, kenapa ia harus kecewa, bukankah seharusnya ia merasa senang karena Satria tak lagi membahas sesuatu yang menurutnya terlalu sulit.
"K-kenapa?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut Stela.
"Aku rasa aku nggak harus jelasin kan, alasannya kenapa? lagi pula aku nggak bisa selalu memaksakan semua keinginanku agar selalu terlaksana." jawab Satria, membuat Stela tertegun hingga beberapa saat.
Benarkah Satria yang berbicara, batin Stela keheranan.
"Oh iya, udah mau hujan nih keknya, udah sore juga." ujar Satria sembari menatap sekeliling langit yang dipenuhi awan hitam, kemudian pemuda itu menunduk melihat kearah pergelangan tangannya melihat jam yang melingkar cantik disana.
"Aku anter kamu pulang." lanjutnya, yang kemudian beranjak meninggalkan Stela yang bergeming di tempatnya.
Gadis itu memandangi punggung Satria yang mulai menjauh berjalan menuju tempat penyimpanan motornya, tanpa menoleh untuk memastikan ia mengikutinya atau tidak.
Ada yang berbeda dengan Satria.
*
Sepanjang perjalanan mengantar Stela pulang, tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut Satria.
laki-laki muda itu memilih diam, dengan pikirannya yang entah kemana.
"Nanti kalau udah dapet ikannya aku anterin kesini." ujar Satria saat sudah sampai di depan gerbang rumah Stela, tak ada hal lain yang laki-laki itu ucapkan, gegas ia melajukan kembali motornya, namun tertahan saat Stela menyebut namanya.
"Sat."
Satria tak menjawab, namun ia menoleh menunggu apa yang akan Stela ucapkan selanjutnya.
"Makasih buat hari ini." ucapnya yang diangguki Satria.
Dirasa Stela tak akan mengatakan apapun lagi, Satria kembali melajukan motornya menuju sebuah tempat khusus penjual ikan yang letaknya disamping pasar tempat Sang bunda biasa belanja.
*
__ADS_1
*