
Pagi ini Satya bergegas ke Bandung mengendarai mobil milik sang ayah yang di temani Mutia disampingnya.
"Dari tadi kok diem aja sih, kenapa sayang?" Satya menoleh sekilas seraya membelai rambut gadisnya dengan sebelah tangannya, sementara tangan satunya fokus mengendalikan kemudi.
"K-kak, sebaiknya kita balik lagi deh!" ucapnya lirih, membuat Satya mengerutkan keningnya.
"Lho, kenapa?"
"A-ayah sama abang aku galak kak, aku khawatir sama kak Satya."
"Masa sih?"
"Ihs aku serius kak." mendengus, karena Satya terus saja tersenyum seolah menganggap ucapannya adalah sebuah lelucon.
"Emang segalak apa sih ayah sama abang kamu, kok kamu kaya takut gitu aku di apa-apain, emang dia suka gigit?"
"Bukan gitu, ayah sama abang itu keras! pemuda disana aja sampai nggak ada yang berani deketin aku, karena takut sama mereka."
"Bagus dong!"
"Bagus apanya?"
"Ya bagus, jadinya aku nggak punya saingan kalau nggak ada yang berani deketin kamu."
"Kak aku serius, mereka itu galak banget!" Mutia semakin gelisah.
"Jangan khawatir, apapun yang terjadi aku akan berusaha untuk memperjuangkan kamu, semuanya akan baik-baik aja. " menggenggam tangannya untuk memberi Mutia ketenangan, meski dalam hati ia sendiri merasakan perasaan gugup bukan main.
"Kakak yakin?"
"Sangat yakin."
__ADS_1
*
''Disini?" menoleh kearah Mutia, yang menyuruhnya menepikan mobilnya didepan sebuah rumah kayu yang bergaya Eropa, dengan halaman yang begitu luas dan dipenuhi berbagai macam bunga dan taman lainnya.
Mutia mengangguk, "Kakak siap?"
"Iya, ayok!"
Keduanya pun keluar dari mobil berjalan beriringan, didepan sana tepat diujung teras rumah tersebut seorang wanita paruh baya tengah tersenyum, seolah sudah tahu akan kedatangan mereka.
"Ma?" Mutia menyalami wanita yang terlihat masih cantik itu, kemudian memeluknya, lama tidak bertemu membuat keduanya saling melepas rindu.
"Kenalin ma, ini kak Satya."
"Oh ini yang namanya Satya, wah aslinya ganteng sekali, jauh sama yang ada di foto yang kamu kirim kemarin itu." celetuk wanita yang sering di sapa mama Risti tersebut.
Sementara Satya tertegun hingga beberapa menit, tak menyangka jika Mutia sudah mengenalkannya terlebih dulu pada mamanya.
"Satya tante." menyalami Risti yang disambut ramah olehnya.
*
*
Didalam ruangan tamu yang sangat luas itu, terasa begitu sempit dan terasa sangat pengap bagi Satya, bahkan ventilasi udara yang membawa semilir angin dari luar pun tak mampu mengurangi hawa panas dan keringat yang membanjiri seluruh tubuhnya.
Ia mendadak seperti patung, tegak dan membisu ditempatnya, bagaimana tidak! ia yang baru pertama kali mengunjungi rumah seorang gadis yang menjadi pacarnya langsung dihadapkan dengan tiga orang laki-laki yang membuatnya seperti seorang terdakwa yang tengah dihakimi.
Ketiganya menatap Satya dengan tatapan menyelidik, dari ujung rambut hingga ujung kaki, membuat nyalinya mendadak menciut.
Sementara Mutia dan mamanya tidak ikut serta didalam ruangan tersebut, pergi entah kemana.
__ADS_1
Dan kini, hanya tinggal dirinya yang dikelilingi satu laki-laki paruh baya dan dua laki-laki dewasa.
"Kenal dimana sama adek gue?" ujar salah seorang laki-laki yang Satya yakini usianya empat tahun lebih tua dari abangnya El.
"S-saya kenal Mutia di kostan."
"Apa??" ucap ketiganya serentak, membuat Satya hampir saja terjungkal dari kursinya karena kaget.
"Jadi kamu sering mendatangi adik saya ke kostan?" ucap laki-laki yang lebih dewasa disebelahnya, dengan nada yang terdengar kesal.
"B-bukan begitu, m-maksud saya Mutia guru les adik bungsu saya, dan hal itu yang menjadi awal pertemuan kami, karena saya sering mengantar adik saya belajar disana."
"Oohh!" ketiganya berucap kembali secara bersamaan, membuat Satya meringis, kompak sekali pikirnya!
"Jadi, kalian sudah resmi berpacaran, sudah berapa lama?" kali ini laki-laki paruh baya yang Satya yakini adalah ayah dari Mutia yang angkat bicara.
"B-baru dua minggu om."
"Terus tujuan kamu datang kesini untuk apa?" tanyanya, sembari menggoyangkan sesuatu yang sejak tadi dipegangnya, sebuah sapu lidi yang sering Satya lihat dirumah orang tuanya, yang digunakan bi Sari untuk membersihkan kasur.
Satya mendongak, memberanikan diri menatap ketiga laki-laki yang berbeda generasi itu, ia tak ingin perjuangannya sia-sia dan berhenti sampai disini, ia harus kembali ke Jakarta dengan mengantongi restu dari mereka.
Karena selain menjaga citranya sebagai laki-laki sejati, ia pun tak ingin kedua orang tuanya sedih, begitupun dengan Satria yang mungkin akan menertawakan nya habis-habisan jika ia sampai gagal.
"S-saya kesini ingin memperkenalkan diri sekaligus ingin mengenal keluarga Mutia dengan baik, dan_"
"Dan maksud kedatangan saya kesini, ingin melamar Mutia secara saya pribadi sendiri, sebelum melamarnya secara resmi bersama kedua orang tua dan anggota keluarga saya yang lain."
Deg!
Mendengar penuturan berani Satya, ketiganya mematung, kemudian saling pandang satu sama lain.
__ADS_1
*
*