Pesona Twins S

Pesona Twins S
Pertemuan 2 keluarga


__ADS_3

"Maaf pak, yang satunya Satria kembarannya Satya." Ando memperkenalkannya dengan sopan.


"Kok bisa, persis begitu?" tanyanya masih tak percaya dengan apa yang ia lihat, terlebih keduanya memakai kemeja yang sama, dengan warna yang sama juga.


"Sudah bawaannya dari sana pak."


"Begitukah, terus calon mantu saya yang mana nih, saya bingung! apa perlu saya ambil dua-duanya." ucap Deri membuat Ando tergelak.


"Boleh, tapi putri bapak juga harus ada dua."


"Sayang sekali Mutia tidak seperti Satya yang memiliki cadangan."


Cadangan? dia pikir gue apaan! batin Satria tak terima.


"Satya yang kanan pak," menunjuk kearah Satya yang berdiri disebelah kanan Satria, kebetulan hanya baju nya yang sama, namun mereka menggunakan celana yang berbeda warna, dan hal tersebut menjadi satu-satunya cara bagi Deri sebagai pembeda dari keduanya.


"Eh tunggu, tunggu! kalau dilihat-lihat kok Saya kaya pernah lihat mereka, tapi beberapa tahun yang lalu, sekitar dua puluh tahunan lah."


"Ck, emang dia pikir kita ini reinkarnasi dari ayah." ucap Satria lirih yang hanya mampu didengar oleh Satya yang berada di sampingnya.


"Ingatan bapak mungkin benar! mereka memang versi saya waktu muda, dan mungkin yang bapak maksud dulu itu adalah saya." ucap Ando.


Ya, Ando telah mengingat dengan jelas rumah tersebut, rumah yang memang tidak ada bedanya dari sejak 20 tahun yang lalu.

__ADS_1


Mungkin saja diwaktu yang cukup lama itu pemilik rumah sudah merenovasinya beberapa kali, namun tidak mengubah bentuk serta warna cat nya, begitu pikir Ando.


Kecuali halaman rumahnya yang memang banyak berubah, sekarang halaman luas itu ditumbuhi banyak pohon mangga dan beberapa tanaman lainnya.


"Hah?" Deri terlihat berpikir.


"Bapak ingat waktu bapak merayakan syukuran untuk khitanan putra pertama dan kedua bapak, pernah menanggap acara apa?"


"Ingat! waktu itu saya mengundang salah satu band dengan personilnya yang muda-muda dan sedang naik daun pada masanya."


"Bapak masih ingat nama bandnya apa?"


"Aduh saya lupa, tapi kalau nggak salah sih The- the_ the Taurus band kayaknya."


"Oh iya, nah itu maksud saya."


"Wajah vokalisnya persis seperti mereka kan?" menunjuk kedua anak kembarnya, membuat Deri berpikir kembali.


"Kalau begitu, anda ini_ anda vokalisnya yang waktu itu,?" tanyanya dengan kedua mata yang terbelalak lebar, begitupun dengan yang lainnya.


"Benar! saya Ando!"


"B-benarkah?"

__ADS_1


Ando mengangguk mantap.


"P-pantesan k-kalian mirip!" memandangi wajah Ando, Satria dan Satya secara bergantian.


"Sebenarnya saya masih punya satu anak lagi, dengan kemiripan 99%, dia El, anak pertama saya, tapi dia tidak ikut, karena harus merawat istrinya yang baru melahirkan."


"Oh yaampun sulit dipercaya!" Deri terlihat bingung, sejurus kemudian ia mempersilahkan Ando dan keluarganya untuk memasuki rumahnya.


"Apalagi sih Sat, lepasin malu gue." Satya kembali berbisik, karena sejak tadi Satria tak mau melepaskan tangannya barang sedetikpun.


"Diem, bawel lo!" Satria mendorong tubuh saudara kembarnya agar duduk disofa yang terletak dibagain tengah.


Terlalu malas meladeni saudaranya, Satya pun memaksakan diri menjadi seorang yang penurut, terlebih saat keluarga Mutia dan keluarganya sudah sama-sama duduk di sofa yang kini memenuhi ruangan tamu tersebut.


Pandangan Satya menyapu sekilas ruangan itu yang kini banyak berubah, beberapa lukisan yang sempat ia lihat kemarin terpajang rapi didinding kayu kini tidak terlihat lagi, hanya menyisakan satu buah foto keluarga yang malah belum pernah ia lihat sebelumnya.


Sofa yang semula berjumlah tiga buah pun kini bertambah menjadi sembilan buah, membuat hati Satya sedikit berdebar, dan berpikir bahwa keluarga Mutia benar-benar mempersiapkan semuanya dengan baik.


Benarkah, ia diterima, batinnya bersorak girang!


*


*

__ADS_1


__ADS_2