
"Nyari apa dek?" tanya laki-laki paruh baya yang Satria yakini adalah sang pemilik kios penjual ikan tersebut.
Kenapa harus bertanya? pikirnya.
Satria memang mudah kesal dengan sesuatu yang sudah jelas mereka tahu, namun masih basa-basi untuk bertanya.
"Memangnya ada yang lain, selain ikan?" Ucap Satria dengan kening berkerut.
Sedangkan sang penjual ikan hanya terkekeh-kekeh, kemudian menyuruhnya untuk masuk kedalam kios.
"Mau berapa kg ikannya, mau yang hitam apa campur-campur yang orange atau kuning misalkan?"
"Kalau campur memangnya bisa?"
"Bisa, mau berapa kg?"
"Memangnya harus di kg."
"Ya harus! kalau di hitung per biji susah memberi harganya berapa."
"Boleh saya lihat dulu."
"Boleh!" Sang penjual ikan pun menunjukan Satria kearah 3 bak besar yang berisi ikan dengan warna yang berbeda-beda.
"Kok beda sama yang tadi ya?" gumamnya.
"Nggak ada yang lebih gemukan pak ikannya?"
"Nggak ada dek, ini juga udah paling besar-besar, paling se kg isinya cuma dua."
"Oh gitu."
"Gimana, mau?"
"Bolehlah tiga kg."
"Siap!"
__ADS_1
Dengan cekatan laki-laki paruh baya yang sering disapa pak Wira itu, menangkap tujuh ekor ikan yang berwarna orange, hitam, dan juga kuning dengan menggunakan serok khusus ikan, kemudian memasukan ikan-ikan tersebut kedalam sebuah plastik berwarna bening.
"Pas!" memperlihatkan kg gantung dengan angka yang berputar kearah angka tiga.
"Ini tiga kg nya isi 7, mungkin salah satu dari mereka ada yang langsing." jelas pak Wira.
"Nggak apa-apa pak, tapi boleh dikasih air nggak ikannya?" pinta Satria.
"Oh, boleh-boleh!"
Setelah plastik ikan itu terisi penuh, Satria menyodorkan dua lembar uang berwarna merah kearah pak Wira.
"Semuanya jadi seratus lima ribu, sebentar kembaliannya."
"Nggak usah pak, kembaliannya buat bapak aja, makasih bonus airnya."
"Seriusan dek kembaliannya buat saya.?"
"Iya pak."
"Makasih banyak kalau begitu, oh iya ngomong-ngomong beli ikan buat siapa sih dek?" tanya pak Wira penasaran, pasalnya baru kali ini ia memiliki pelanggan seorang anak muda, terlebih anak tersebut sangatlah tampan, sehingga memancing rasa penasaran pada diri pak Wira.
Sementara pak Wira membuka peci hitamnya, menggaruk kepalanya sejenak, kemudian memasangkan peci tersebut kembali dikepalanya.
"Ganteng-ganteng kok aneh ya, masa pacarnya dikasih ikan mas, nggak sekalian dikasih lele aja ya." gumam pak Wira terheran-heran, karena setahu dia kebanyakan anak-anak muda jaman sekarang itu lebih sering memberikan pasangannya boneka, bunga, coklat dan semacamnya, dengan alasan agar terlihat romantis.
*
"Ajig, basah!" Satria menggerutu pelan, saat air yang berada didalam plastik ikan tersebut ternyata bocor, dan mengenai celananya.
"Bau amis lagi."
Terpaksa sebelum kembali kerumah Stela, Satria pun pulang kerumah orang tuanya terlebih dulu, untuk mandi dan berganti pakaian, sekaligus mengganti plastik ikannya yang bocor.
Sesampainya dirumah, Satria tampak terburu-buru mengambil ember dari dapur agar air ikan tersebut tidak berceceran ke mana-mana dan membasahi lantai, karena selain mengotori lantai, bundanya juga tidak akan diam dan terus mengomelinya dengan waktu yang tidak cukup sebentar.
"Abang kamu bawa apaan tuh Sat?" ujar Nada bertanya pada Satya yang tengah tiduran disofa ruang tengah.
__ADS_1
"Nggak tahu bun, emang udah pulang?"
"Udah, barusan sih lari kebelakang."
"Maaf, aku nggak lihat bun."
"Kamu sih terlalu fokus maen game."
"Bun, aku titip ikan dulu ya disini, kalau di dapur takut digoreng sama bi Sari, aku mau mandi dulu soalnya." Satria datang dari belakang, meletakan ember di samping meja sofa, kemudian anak laki-laki yang celananya setengah kuyup itu melenggang menuju kamarnya.
"Ikan apa sih Sat?" Nada yang penasaran pun menghampiri ember yang diletakan Satria, sementara Satria yang belum jauh dari sana pun menoleh kembali menghampiri Sang bunda.
"Ikan koi."
"Ikan koi?" Nada balik bertanya.
"Iya, buat Stela."
"Stela pacar kamu?"
"Iya bun, udah dulu ya aku mandi dulu, gatel nih!" menunjuk celananya yang basah.
"Yaudah sana."
"Sat, sini deh!" Nada memanggil Satya agar mendekat.
"Kenapa bun?" Satya yang sedang asik memainkan game diponselnya pun terpaksa ia hentikan, kemudian menghampiri Sang bunda.
"Lihat deh, Satria bilang ini ikan koi, menurut kamu ini jenis ikan koi apa?" Nada menunjuk ember yang ada di hadapannya.
"Masa sih ini ikan koi, kok modelnya begini, ah bukan kali bun! ini mah ikan mas biasa, apalagi yang hitam, bukannya itu ikan mas yang sering bi Sari beli dari kios samping pasar ya?" jawab Satya sembari menatap ikan tersebut satu persatu.
"Menurut bunda juga sih gitu, dia emang nggak nanya dulu kali ya sama penjualnya, lagian masa sih dia nggak bisa bedain ikan koi sama ikan mas."
"Satria emang suka aneh sih kadang-kadang."
"Biarin aja, nggak usah dikasih tahu Satria, bunda pengen tahu reaksi pacarnya kalau tahu ikan yang dibawa Satria ikan yang buat di goreng." Nada menutup mulutnya disertai kekehan kecil yang diikuti Satya.
__ADS_1
*
*